Lombok

Kalo kamu suka pantai, kamu wajib ke Lombok.  Kenapa? Ya karena pantainya bagus-bagus..hehehe..truuuss, suasana pantai di Lombok juga ga seramai Bali, pantesan Lombok sering banget jadi tujuan para pengantin baru untuk honeymoon yaaaa..

Pertama kali menjejakkan kaki di Lombok Praya Indonesia Airport, wiihh rasanya pingn lompat-lompaatt. Udah lama banget pingin ke Lombok, tapi baru ada kesempatan sekarang.  Padahal kan Lombok ga terlalu jauh dari Jakarta yaaa..tapi ga tau kenapa, saya suka jiper kalo pergi sendirian ke daerah-daerah dalam negeri..huhuhu. Jadi nunggu ada temennya dulu nih 😀

Setelah selesai mengurus bagasi, saya dan teman saya bergegas menuju Damri yang akan membawa kami ke daerah Senggigi.  Iya, rencananya malam pertama ini kami akan menginap di Senggigi.  Di penginapan mana? Belum tau..heheheh..

Kami turun di daerah yang sepertinya ramai dengan toko-toko dan penginapan terjangkau dan mulai mencari penginapan yang sesuai budget.  Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Central Inn, dengan harga 300ribu termasuk sarapan pagi untuk 3 orang.  Mungkin karena kami datang di saat bukan musim liburan, jadi harga penginapan pun bisa ditawar. Hehehe.. tadinya, harga yang ditawarkan adalah 350ribu per malam untuk dua orang.  Tapi emang dasarnya cewek yaaa, ga puas kalo ga coba nawar.  Eeeehh dikasiiihh..Aheeeyy!!  Ini view dari kamar kami..sayangnya malah dalem kamarnya lupa difoto 🙁

ada pool nya, lumayaaann..sunrise terlihat dari balkon kamar

 

Keesokan paginya, kami sudah bersiap menuju Gili Air.  Kami menyewa angkot dari depan penginapan dengan harga 80ribu menuju ke Pelabuhan Bangsal.  Lumayaaan, bisa foto-foto sepanjang jalan dan angkotnya berhenti tepat di depan loket pembelian tiket kapal.  Tiket menuju Gili Air untuk menumpang perahu umum, sebesar 8ribu per orang, dimana keberangkatan harus menunggu sampai perahu penuh (sekitar 25 orang).  Kalo kamu buru-buru, kamu bisa menyewa perahu dengan harga sekitar 200ribu per perahu, tergantung tujuan kamu apakah ke Gili Air, Gili Meno atau Gili Trawangan.  Ini view yang bisa dilihat di perjalanan menuju dan di Pelabuhan Bangsal :

IMG_7131Pelabuhan Bangsal

 

Begini suasana di perahu umum menuju Gili Air :

barengan sayuuurrkoperkuning numpang foto :D

Perjalanan menuju Gili Air ditempuh hanya sekitar 30 menit.  Ketika sampai, kami ga bisa menahan decak kagum.  Itu airnya beniiiinggg banget dengan nuansa kapal-kapal yang sedang berlabuh.  Begini pemandangan ketika kami sampai di pelabuhan Gili Air :

berlabuhpelabuhan Gili Air

Setelah puas foto-foto, kami bergegas menuju penginapan kami di Gili Air, yaitu Villa Kombok.  Ternyata, penginapan kami ini jaraknya hanya selemparan tombak dari pelabuhan (tsaaahh).  Dekeeet banget!  Pantesan tadi mas-mas yang jemput ke pelabuhan kok cepet banget nyampenya..baru ditelepon, eh udah langsung sampe aja jemputannya.Villa Kombok

Tidak berlama-lama di penginapan, kami langsung menuju ke rencana berikutnya, diving!  Kami sudah booking lewat internet untuk satu kali dive di Manta Dive Gili Air.  Dalam perjalanan menuju Manta Dive inilah saya baru sadar.  Ini Gili Air kok sepertinya lebih banyak bule-nya dibanding orang lokalnya.  Hmmm..penginapan dan dive centre yang ada di sana pun lebih banyak dikelola oleh orang luar, sementara orang lokal hanya membantu membawakan barang atau menyiapkan keperluan dive.

Manta Dive Gili Air

Sesampainya kami di Manta Dive, saya diharuskan untuk mengikuti semacam perkenalan diving karena saya belum mempunyai sertifikasi.  Instruktur yang melatih saya berasal dari Swiss, dan cakep 😀  Temen saya aja sampe iri dan pingin pura-pura belum certified..hihihihi..Setelah selesai menonton video tentang diving dan mengikuti latihan di kolam renang selama kurang lebih satu jam, saya dan teman saya sepakat untuk makan siang dulu di salah satu tempat makan di dekat situ.  Masakannya sih biasa aja..tapi viewnya? Beuuuhh..oiya, kami makan siang ditemani hujan deras, jadi ga yakin deh itu masakan emang biasa aja atau saya yang deg-degan mau diving tapi ujan deres banget sampe ga napsu makan..hehehe..

Ini dia view dari tempat makan kami :

beniiing bangeeettt

Selesai menyantap makan siang, kami pun bergegas kembali ke Manta sesuai waktu yang disepakati.  Tadinya kami pikir karena ujan deras, maka kegiatan diving ditunda.  Ternyata jalan terus tuh..tampak beberapa orang sedang membawa tabung, fin, dan pemberat ke kapal yang akan mengantar kami ke tengah laut.  Kami dibagi menjadi dua kelompok.  Kelompok yang belum certified dan yang sudah.  Waaah, kelompok diving saya kali ini bule semuaaa.. ada yang dari Belanda, Belgia, dan Swiss.  Sempet kepikiran, ini kalo mau minta tolong di dalem laut, ga enak banget yak.  Secara guweh yang orang Indonesiaaa, hahahaha..

Singkat cerita, kami pun dive di spot yang saya lupa namanya. Hehehe..tapi jujur aja, ternyata ga banyak yang bisa dilihat di spot tersebut.  Mungkin karena saya bandinginnya dengan dive spot di Tomia, Wakatobi? Ga tau juga..tapi yang jelas, bule-bule di kelompok saya semuanya pada terkesan dengan apa yang mereka lihat di dalam sana.  Ketika naik ke kapal, ga henti-hentinya mereka bilang “Amazing!”  hehehe..saya boleh sombong ga nih sebagai orang Indonesia? :p

Selesai diving, saya dan teman saya menuju penginapan dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat suasana Gili Air.  Pulaunya tenang, menyenangkan, dan pemandangannya spektakuler.  Apalagi Gili Trawangan yaaa.. Hari itu ditutup dengan tidur cepat karena memang kalo abis diving, energi seperti terkuras banyak..hihihihi *alasan*

Gili Air sore hariGili Air pagi hari

Keesokan harinya, setelah puas berjalan mengelilingi pulau, kami pun kembali ke Pelabuhan Bangsal untuk menuju Pantai Kuta, Lombok.  Kami menyewa mobil dengan harga 200ribu dari Pelabuhan Bangsal menuju penginapan di Pantai Kuta.  Penginapan apa? Lagi-lagi kami belum tau..hehehe..

Di perjalanan menuju Pantai Kuta, kami mampir sebentar ke Sasak Village, desa penduduk asli Lombok yang rumahnya berasal dari kotoran sapi.  Jangan membayangkan rumahnya kotor dan bau ya, karena sama sekali ngga.  Kami ditemani oleh seorang guide yang menjelaskan tentang asal muasal rumah tersebut dan beberapa kebiasaan yang dianut oleh penduduk desa Sasak.  Guide ini tidak mematok bayaran, hanya seikhlasnya kita mau memberi berapa.  Oh iya, di sini kita diperbolehkan untuk mencoba pura-pura sedang menenun dan berfoto.  Konon katanya, wanita yang sudah bisa menenun berarti sudah diperbolehkan untuk berumah tangga. hihihi..dan ternyata menenun itu susah euy, harus detail dan telitiiii.

sasak villagesalah satu rumah pendudukmenenunmenenun juga

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Pantai Kuta yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari Desa Sasak.  Berdasarkan rekomendasi dari Bapak yang mengantar kami, kami pun menginap di Seger Reef.  Penginapannya berupa bungalow berkipas angin dengan harga 200ribu per malam termasuk sarapan untuk 3 orang.  Lagi-lagi, kami mengeluarkan jurus menawar, dan berhasil lagiii..ihiiiiy!! Tadinya saya pikir namanya Sugar Reef, eh tapi ternyata bener lho Seger Reef..hehehe.

Penginapannya sendiri bersih dan cukup nyaman.  Ini fotonya :

bungalow di Seger Reef

akhirnya ada juga foto dalem kamar :)
akhirnya ada juga foto dalem kamar 🙂

Selesai mandi dan istirahat sebentar, kami pun mencari makan di restoran yang ada di sebrang penginapan.  Target kami malam ini harus makan ayam taliwang, secara besoknya kami sudah harus pulang ke Jakarta.  Ternyataaa, pemandangan di restoran sebrang itu bikin kami terpana *tsaaahh.  Gimana ngga, di depannya ada laut yang tidak menyerupai laut, tapi lebih seperti danau saking tenangnya.  Dan karena hari sudah sore, warnanya pun berubah menjadi kelabu.  Begini pemandangannya :

 

view dari tempat makan
view dari tempat makan

IMG_7275IMG_7274

suasana malam harinya
suasana malam harinya

Kami menghabiskan waktu hingga malam hari di restoran tsb. karena seneng dengan suasananya yang tenang.  Rasa ayam taliwangnya sih tidak terlalu enak, tapi makanan lainnya lumayan.  Oh iya, teman-teman saya mencoba kopi Lombok yang katanya sih rasanya enak.  Yang mengganggu di sini adalah banyaknya anj*ng liar berkeliaran yang menunggu kita untuk memberi makan.  Di sini juga banyak anak-anak penjual gelang yang sepetinya tidak bisa ditolak, hehehe..saya biasanya kan nolak dengan kata-kata “nanti ya..” eh beneran lho ditungguin *tepokjidat

Besoknya, kami menyempatkan diri menuju Tanjung Aan yang berjarak 30 menit menggunakan mobil.  Ga nyesel deh bela-belain ke Tanjung Aan, karena pemandangannya baguuuusss bangeeetttt. Begini nih :

Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok

Dan ini bonus foto-foto yang saya ambil pas jalan-jalan pagi di sekitar penginapan..Awannya baguuuusss banget ya :

IMG_7329 IMG_7349IMG_7326

 

Sekian cerita perjalanan saya ke Lombok, mudah-mudahan bisa ikutan ngerasain tenang dan indahnya Lombok yaaa..sampai ketemu di perjalanan koperkuning berikutnyaaa..

tsaaahhh
tsaaahhh