Luang Prabang, The Most Romantic City in Southeast Asia

Laos. Sudah beberapa kali masukin negara ini ke itinerary, tapi selalu gagal dengan berbagai alasan, entah karena waktunya ga cukup atau karena jiper bayangin perjalanan darat yang kayaknya ribet.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok dalam waktu yang cukup lama karena pekerjaan saya sedang tidak sibuk. Sekelumit tekad (tsaaaah, tekad kok sekelumit) pun muncul di benak saya. Apa saya sekalian ke Laos yaaa..kan ada Friendship Bridge yang menghubungkan Thailand dan Laos tuh.  saya pun mulai mencari informasi dan membuka catatan lama saya mengenai cara ke Laos dari Bangkok lewat darat.

Suasana Bangkok yang lagi rame demo, apalagi ketika saya ke sana bertepatan dengan ShutDownBangkok, makin membulatkan tekad saya.  Saya pun memesan tiket kereta api dari Bangkok menuju Nong Khai, dimana terletak border Thailand untuk keluar menuju Laos.  Stasiun pemberangkatan yang saya pilih dari Bangkok adalah Stasiun Don Mueang, karena menurut kabar yang beredar waktu itu, akses menuju Stasiun Hualamphong tertutup para demonstran.  Oiya, mungkin ga banyak yang tau ya kalo Stasiun Don Mueang ini terletak di sebrang Bandara Don Muang.  Jadi kalau misalnya kamu mendarat di Don Muang dan ingin langsung naik kereta ke kota-kota Thailand lainnya (tentunya yang melewati stasiun ini), kamu ga perlu harus ke Hualamphong yang berada di pusat kota Bangkok dulu.

Bagaimana cara ke Stasiun Don Muang dari Bandara Don Muang? Cukup cari petunjuk “Amari Don Muang Hotel”, kalo ga salah adanya di lantai Arrival, trus naik lift atau turun tangga, dan tinggal ikuti papan petunjuk ke stasiunnya. Jadi kayak lewat jembatan penghubung gitu, ga sampe 10 menit deh.

Stasiun Don Mueang

Tiket kereta yang saya beli, seharga 758 baht, merupakan kereta dengan kelas sleeper AC dan lower berth.  Lumayanlah, 12 jam perjalanan malam tersebut sekalian untuk menghemat biaya penginapan. Hehehe..Tiket bisa dibeli langsung di loket stasiun, atau di semua travel agent di Bangkok (tapi kena biaya), atau bisa juga beli online (kena biaya pengantaran).  Jadi kalo ga lagi peak season, mendingan beli di loket langsung deh, bisa juga beli beberapa hari sebelumnya untuk berjaga-jaga ga kehabisan.

suasana di dalam kereta, sleeper 2nd class
kalau siang, tempat tidurnya jadi kursi lagiii

Singkat cerita, malam itu, sekitar jam 20.50, saya berangkat menuju Nong Khai dengan perasaan campur aduk antara seneng, deg-degan, takut, excited, dll.  Akhirnya, sebentar lagi saya bisa melihat Luang Prabang.  Iya, kota yang bikin saya tertarik banget ke Laos adalah Luang Prabang, yang katanya The Most Romantic City in South East Asia 😀 .  Untuk menuju ke kota ini, saya masih harus menempuh perjalanan 11 jam lagi pake bis.  Tapi tekad saya sudah ga sekelumit lagi, jadi gpp deh. Hehehe..

suasana stasiun Nong Khai

Jadi gini nih urutan perjalan saya dari Thailand menuju Laos dengan menggunakan jalur darat (kereta api) :

  • Stasiun Don Muang – Nong Khai à naik kereta malam, 758 baht
  • Di stasiun Nong Khai, naik tuk tuk menuju border Thailand à 30 baht per orang
  • Cap paspor keluar Thailand
  • Beli karcis bis untuk menyebrangi Friendship Bridge Thailand – Laos à 20 baht
  • Cap paspor masuk Laos
  • Naik bis hijau nomer 145 ke pusat kota Vientiane (Central Bus Terminal) à 6000 kip, bisa juga menggunakan tuktuk sampai tempat tujuan di Vientiane, tapi harus tawar menawar.

Sampai di Central Bus Terminal, saya pun langsung mencari loket penjualan tiket ke Luang Prabang.  Errrrhhh, ternyata bis yang menuju ke sana itu berangkatnya dari Northern Bus Terminal.  Baiklaaaahh, pantesan ga nemuuu.  Saya mulai menawar tuk tuk yang akan mengantar ke Northern Bus Terminal dan berhasil di harga 60ribu kip 1 tuktuk.  Ternyata jaraknya lumayan jauh dengan medan jalanan yang berdebu.

Suasana Northern Bus Terminal tidak seramai terminal bis biasanya, malah cenderung sepi.  Saya pun langsung menuju loket dan memilih jam keberangkatan yang tidak terlalu lama, yaitu jam 16:00.  Rencana awal, saya inginnya naik sleeper bus jam 21:00 atatu 22:00 agar sampai di Luang Prabang sudah cukup terang.  Tapi karena saya kecepetan sampai di terminal bis-nya, dan mau balik lagi ke kota juga lumayan jauh, jadilah saya ambil bis dengan jam terdekat.

Northern Bus Terminal
jadwal dan harga bis dari Vientiane ke Luang Prabang

Sekitar jam 15:45, penumpang bis sudah dipersilakan untuk naik.  Saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil dan minuman untuk bekal perjalanan, mengingat perjalanan yang cukup lama.  Penumpang bis kebanyakan orang lokal, hanya saya dan dua orang bule Australia dengan tujuan Van Vieng yang terlihat pendatang.  Tidak lama setelah bis berjalan, sayapun tertidur diiringi alunan musik yang sepertinya lagi hits di Laos.

Saya terbangun sekitar pukul 23.30 karena bis berhenti dan kondekturnya berteriak-teriak meminta penumpangnya turun.  Saya lihat keluar jendela, lho ini sepertinya bukan di tempat peristirahatan, dan dua orang bule Australia tadi pun sudah ga ada.  Saya pun mengikuti penumpang lain untuk turun.  Ternyata, bis tertahan karena di depannya ada truk mogok dan sedang diganti bannya.  Kami disuruh menunggu sekitar 200 meter di depan karena katanya berbahaya jika menunggu di dalam bis.  Hihihihih, baru nunggu 10 menit, saya udah ga tahan dinginnyaaaa.  Bayangin aja, di daerah kayak Puncak gitu, tapi ga ada warung-warung, sepiiii, kanan kiri gunung, kami disuruh menunggu selama waktu yang tidak bisa ditentukan.  Beruntung waktu itu bulan purnama, jadi ga terlalu gelap dan menyeramkan.  Mati gaya karena kedinginan, sayapun bertekad kembali ke bis dan berharap dibolehin nunggu di dalem.  Eh ternyata pas ijin sama kondekturnya, tetep ga dibolehin lho. Ada satu orang penumpang, Bapak-bapak yang memakai celana pendek, dan mengerti kalau saya kedinginan.  Dia bilang gini “exercise, exercise” sambil lari-lari kecil dengan lincahnya.  Errrrhhh, ya sudahlah saya balik ke tempat penumpang lainnya saja.

Ternyata, para penumpang lain sudah membuat beberapa api unggun untuk menghangatkan badan.  Saya jadi malu sendiri karena tadi kekeu mau nunggu di bis, padahal di rombongan saya, ada ibu-ibu yang sudah berumur dan ibu yang menggendong bayi, tapi tetap bertahan menunggu.

Akhirnya, setelah dua jam menanti *tsaaah, kami diperbolehkan naik ke bis dan melanjutkan perjalanan.  Alhamdulillaaaaahhh..saya pun melanjutkan tidur dan bangun ketika bis parkir di terminal Luang Prabang.  Saya sampai di Luang Prabang sekitar jam 5 pagi, dan udaranya itu lebih duingiiinnn dibanding tadi di jalanan. Baiklah, saya ga kuat nunggu sampe terang, saya pun berjalan keluar terminal dan menemukan ada hotel tepat di seberangnya, namanya Dao Fa Hotel.  Tanpa pikir panjang, sayapun menginap di situ untuk sekedar tidur, bersih-bersih, dan menghangatkan badan.  Sebenernya harga yang ditawarkan cukup mahal, walaupun kamarnya besar, yaitu 150ribu KIP untuk berdua.  Tapi mengingat udara dingin di luar, sayapun mengiyakan harga tersebut dan langsung pules tidur sampai jam 10.  Hehehehe..lupakan sarapan.

Setelah mandi dan bersih-bersih, saya berencana untuk keliling kota Luang Prabang dan mencari penginapan lain yang lebih strategis.  Saya pun menawar tuktuk ke kota dan mulai berjalan kaki menyusuri jalanan Luang Prabang.  Beruntungnya saya, ketika sedang jalan-jalan di sekitar Sungai Mekong, saya menemukan penginapan yang agak masuk ke dalam, tapi masih terlihat view Sungai Mekong,  Phabon Guest House namanya.  Harganya pun tidak terlalu mahal, 90ribu KIP dengan kamar yang memiliki balkon menghadap sungai. Asik kan? Di sini kita juga bisa menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga 15ribu KIP.  Suasana Luang Prabang memang asik banget buat sepedaan.  Jalannya bagus, kendaraan bermotornya pun ga banyak.  Saya keliling-keliling sampai sore menjelang Magrib karena jalanan sudah mulai ditutup untuk pasar malam.  Saya pun kembali ke penginapan untuk mengembalikan sepeda dan jalan kaki ke pasar malam.  Pasar malam di Luang Prabang cukup meriah meskipun yang datang tidak terlalu ramai.  Barang-barangnya lucu-lucuuuu semuaaa, apalagi tas-tasnya. Waah, warna-warnanya memanjakan mata banget deh.  Jangan lupa untuk menawar sepertiga atau setengah harga ya di sini, apalagi kalau beli banyak.

suasana Luang Prabang
salah satu cafe pinggir jalan yang banyak ditemui di Luang Prabang
sepanjang Sungai Mekong
tenda pasar malam
makanan di pasar malem. Sepiring 10ribu KIP, bebas.

Hari kedua di Luang Prabang, saya bangun pagi-pagi sekali untuk melihat ritual Ta Bat.  Ritual dimana para monks berbaris untuk menerima makanan atau uang dari para penduduk.  Tapi ternyata saya bangun terlalu pagi, karena suasana masih sangat gelap.  Saya pun kembali ke tempat tidur dan tidur-tidur ayam karena memang masih berasa capek banget abis sepedahan keliling-keliling kemarin.  Lima belas menit kemudian, saat hari sudah terlihat terang, saya memantau lewat balkon kamar, dan paaaasss banget, terlihat barisan monks tengah berjalan pelan.  Saya pun langsung menghambur ke bawah dan keluar menuju jalanan.  Akhirnyaaa, kesampean juga saya melihat ritual Ta Bat, ritual yang tadinya hanya saya lihat di brosur liburan ke Luang Prabang :’)

ritual Ta Bat
Sungai Mekong

Siang harinya, saya melanjutkan berkeliling Luang Prabang dan mencoba restoran yang ada di sekitar Sungai Mekong.  Ternyata, makan di pinggir sungai juga seru lho kalau suasananya adem gitu.  Sorenya saya naik ke puncak tertinggi Luang Prabang untuk menyaksikan sunset.  Salah satu sunset terindah yang pernah saya lihat :’) Oiya, untuk melihat sunset ini disarankan naik dari jam 3 atau 4 sore, karena makin sore, pengunjung makin ramai dan agak susah menemukan spot yang enak.

..karena foto kaki di pantai sudah terlalu mainstream.. :p
nongkrong di pinggir Sungai Mekong
sunset Luang Prabang
sunset :’)

Selesai menyaksikan sunset, saya bergegas turun dan menuju penginapan karena jam 18.15 akan dijemput untuk menuju terminal bis dan kembali ke Vientiane.  Sekedar tips kalau kamu juga harus kembali ke Vientiane, lebih baik beli tiketnya dari jauh-jauh hari karena ada resiko ga kebagian tiket.  Tiket yang saya beli waktu itu merupakan tiket terakhir bis tsb.  Kalau waktu itu ga kebagian tiket ke Vientiane, terpaksa tiket pesawat pulang saya hangus deh..huhuhuhu

Oiya, di perjalanan menuju Vientiane ini saya bertemu dengan Shinji, cowok, solo traveler dari Jepang yang ngasi banyak pelajaran dan kocak banget mukanya. Hahahah..Shinji ini Bahasa Inggrisnya pas-pasan tapi berani negor saya duluan.  Berani ngajak ngobrol orang asing walopun seringnya pake bahasa Tarzan dan kadang ga ngerti dia atau saya ngomong apa. Waktu itu katanya pengalaman dia pertama kali keluar Jepang, dan dia seneng banget! Hihihi, Shinji ini salah satu contoh, kendala bahasa itu bukan alasan kita untuk ga ngeliat dunia lho! Semangaaattt!!

8 thoughts on “Luang Prabang, The Most Romantic City in Southeast Asia”

  1. Mbak in need of your prompt response. Saya lagi di Luang Prabang, udah keliling bolak balik cari Phabon Guest House nya ga ketemu dan tanya orang lokal pun ga ada yg tahu. Tempatnya dimana ya lokasinya? Please inform, besok pagi dah check out.

    1. Halo Mas,

      Maaf saya juga lupa dia di jalan apa, karena waktu itu ga sengaja nemu setelah keliling2. tapi tadi saya coba inget2 lagi, mudah2an ini bisa jadi petunjuk ya. Kalo mas liat foto ritual TaBat di koperkuning, itu fotonya diambil dari sebrang guest house saya waktu itu. Jadi kalo Mas liat di foto, itu ada guest house namanya Tingkham Guest House (saya lihat alamatnya di Agoda, ada di Sisavang Vatthana Road, Luang Prabang Old Town). Nah kalo Mas dari arah para monks baris itu, lurus aja dikit (jangan belok), ntar Phobun GuestHouse ada di sebelah kanan. Saya juga lupa-lupa inget namanya..tapi yang pasti dia kecil depannya, dan sebelahnya ada toko jual tas-tas, baju-baju, dan aksesoris khas Laos lainnya, depannya ada tempat duduk di bawah pohon.

      Semoga membantu dan semoga ketemu ya Mas! nanti cerita ya jadinya gimana..terimakasih sudah baca-baca koperkuning 🙂

  2. Hi mbak, thanks ya. Ternyata namanya Phong Boun (ini jg klo ga salah liat td di depan pintu), dan ga ada plang besar. Check in jam4 sore td persis sblm otw ke dorm Sisombath, untung ngecek balasan komen ini. Pdhl paginya, saya nitip backpack di sebrang Tingkham guesthouse karena ada teman kanada yg nginap disana, numpang titip buat ke Kuang Si. Udah stngh jalan menuju Sisombath eh balik lagi ke Tingkham. Skrg harganya 100.000 kip. No breakfast tp free coffee tea banana. Worth it sih karena pinggir sungai dan dekat night market. Sekali lagi, thanks ya infonya.

    1. Wah ketemu yaaa..hehe..sama-sama Mas..makasi juga infonya yaa, nanti info di blog akan saya update..
      Sekali lagi, terimakasih Mas..

  3. Halo mbak..
    Mau tyk..kalo dr masuk Vientiane awal2..langsung mau ke Northern Terminal ada bis yg langsung ga mbak??ato tetep harus ke pusat Vientiane dulu?? Trus tyk lg,misal nginep di Vientiane kota n mau ke LPQ naek bis yg pagi…apa sdh ada tuk tuk yg mangkal?? Hehe…makasiii

    1. Halo Mba Mia,

      Mba Mia masuk dari mana? kalo dari border Thailand, seinget aku sih ga ada. Trus kalo tuktuk, waktu itu aku sampai jam 5 pagi, sudah ada beberapa tuktuk yang mangkal. Tapi ada baiknya untuk janjian langsung dengan Abang tuktuk untuk minta dijemput besok paginya di penginapan Mba.

  4. Klo hr mnggu kira2 tiket krt don mueang abis ga ya klo mw ke nongkhai?saya kbtulan tgl 25 okt mw kesana. Pemesanan online hrus dtg ke agen tiket di hua lamphong..agak malas bolak balik

    1. Mas, maaaf baru online lagiii..
      kayaknya sih disana ga lagi libur panjang ya, jd kemungkinan besar masih ada..saya pernah keabisan tiket kereta itu pas ada libur Songkran.
      maaf ya kalo telat jawabnya, enjoy Laos!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *