Ni Hao from Guangzhou

Tanggal 23 Februari yang lalu, saya berkesempatan ke Guangzhou dan Guilin dalam rangka mengajak Bapak dan adik saya jalan-jalan.  Waktu itu, saya memilih cara termurah dengan menggunakan transportasi yang sambung menyambung dari Hongkong.  Jadi waktu itu rutenya begini : Jakarta – Hongkong (pesawat), Hongkong – Guangzhou (menggunakan kereta, 2 jam 15 menit), menginap 1 malam di Guangzhou dan melanjutkan perjalanan Guangzhou – Guilin (menggunakan kereta malam, 11 jam).  Kebetulan saya mendapat promo untuk tiket Jakarta – Hongkong buy 1 get 1 dari salah satu maskapai penerbangan.  Lumayan hemaaaattnyaaa..

Pesawat kami tiba di Hongkong tanggal 24 Februari 2014 pukul 6 pagi waktu Hongkong.  Kami langsung membeli tiket fast train dari bandara menuju stasiun Kowloon untuk melanjutkan perjalanan ke Guangzhou naik kereta.  Loket penjualan tiket bisa dengan mudah ditemukan setelah keluar dari mesin pemeriksaan tiket, belok kiri.  Kami memilih kereta yang jam keberangkatannya paling cepat dari waktu kami membeli tiket agar tidak berlama-lama menungu di stasiun.  Sebelum naik kereta, kita diharuskan untuk melewati pemeriksaan bagasi melalui ban berjalan (sperti di bandara) dan pemeriksaan paspor di loket imigrasi.

Begini penampakan keretanya, bersih, nyaman, dapet minum, ada majalah, dan paling penting ada colokan 😀

suasana dalam kereta cemilannya lucu-lucu dan enaakk

Di Guangzhou, kami menginap di Guangzhou Jianguo Hotel yang dekat sekali dengan Guangzhou East Railway Station, tempat kereta dari Hongkong dan Shenzhen datang/berangkat.  Adapun tempat-tempat wisata yang kami datangi di Guangzhou antara lain adalah :

  • Pearl River, ini sungai panjang yang melewati kota Guangzhou.  Di pinggir-pinggirnya ada jalan setapak yang biasa digunakan untuk lari atau main sepeda.  Bisa juga ikut cruise yang loket pembelian tiketnya bisa dijumpai di beberapa titik di pinggir sungai tsb.

Pearl River waktu malam Pearl River siang

  • Beijing Road, ini surga bagi para pecinta belanja.  Sepanjang jalan toko-toko, stall makanan, dan tidak dilalui mobil. Kalo malem lebih rameeee.

Beijing Road - malam Beijing Road - siang

  • Akademi militer China, tempat pelatihan dan asrama militer China.  Di sini banyak dijual barang-barang bertema tentara, seperti kaos, topi, tas, dan ada juga minatur senjata seperti pistol, pisau, senapan, dll.

perjalanan ke akademi militer asrama militer

  • Baiyunshan, ini daerah pegunungan gitu, ngeliat kota Guangzhou dari atas.  Karena letaknya di pegunungan dan udaranya pun sangat segar, jadi banyaaakk banget orang-orang yang sudah berumur berjalan kaki dan berolahraga di sini.  Saya? Ke atasnya naik mobil kayak mobil golf gitu, trus turunnya naik cable car. Hihihihihi, jadi malu sama orang-orang tua yang semangat jalan kaki padahal jalannya menanjak.

Guangzhou dari atas Kereta gantung di Baiyunshan olahraga dan menari di Baiyunshan pintu masuk dan keluar terminal cable car

  • Tempat terakhir yang saya datengin, saya ga tau namanya karena ditulis pakai huruf China dan guide yang menerangkan pun ber-Bahasa Mandarin.  Tempat ini seperti Taman Mini yang di dalemnya ada bangunan-bangunan kecil berisi informasi mengenai kota-kota lain, seperti Hongkong, Macau, dll.  Banyak jajanan dan ada beberapa pertunjukan yang bisa ditonton lho.

patung para kaisar di tiap dinasti China 2014-02-24 12.06.33 sandiwara boneka, sayangnya pakai Bahasa Mandarin :(

 

Malam kedua, kami melanjutkan perjalan menuju Guilin naik kereta dari Stasiun Pusat Guangzhou.  Ketika sampai stasiun, waaahh ruame banget! Semua loketnya antri panjang, jalur masuk pemeriksaan bagasinya antri panjang, dan lapangan di depan stasiun pun rame orang yang lagi menunggu.  Ga heran, kereta merupakan salah satu alternatif paling nyaman untuk pergi dari satu kota ke kota lain di China.  Hihihihi, ini penjualan tiketnya bisa berapa juta yuan per hari yaaa..rame banget dan semua harus bayar cash.

Meskipun kami sempet lemes karena lihat antrian pemeriksaan tiket dan bagasinya panjang banget, ternyata karena semua orang antri dengan tertib, lamanya waktu antrian pun hanya 10 menit.  Kami langsung menuju ruang tunggu dengan mencocokkan nomer kereta yang ada di tiket dan di papan yang tertera di masing-masing ruang tunggu.  Dua puluh menit sebelum keberangkatan, penumpang dipersilakan masuk ke kereta.  Cukup mudah mencari gerbong dan tempat tidur kami karena waktu itu kereta tidak terlalu penuh dan ada penjaga yang berdiri di setiap gerbong memeriksan tiket.

Kami membeli tiket soft sleeper dan begini penampakannya : ga kalah dengan hotel kan 😀

soft sleeper bag, 1 ruangan ada 4 tempat tidur lorong kereta di depan kamar, bisa buat duduk-duduk juga

Perjalanan di kereta selama 11 jam ternyata ga berasa sama sekali karena puleeesss tidur..hihihi.. bangun karena dibangunin sama petugas yang ngasitau kalo 15 menit lagi kami akan tiba di tujuan. Wiiihiiiy, excited! Sebentar lagu bakal ngeliat pemandangan paling indah di kaki langit.  Cerita tentang Guilin akan ditulis di bagian lain blog ini yaaa..

 

Luang Prabang, The Most Romantic City in Southeast Asia

Laos. Sudah beberapa kali masukin negara ini ke itinerary, tapi selalu gagal dengan berbagai alasan, entah karena waktunya ga cukup atau karena jiper bayangin perjalanan darat yang kayaknya ribet.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok dalam waktu yang cukup lama karena pekerjaan saya sedang tidak sibuk. Sekelumit tekad (tsaaaah, tekad kok sekelumit) pun muncul di benak saya. Apa saya sekalian ke Laos yaaa..kan ada Friendship Bridge yang menghubungkan Thailand dan Laos tuh.  saya pun mulai mencari informasi dan membuka catatan lama saya mengenai cara ke Laos dari Bangkok lewat darat.

Suasana Bangkok yang lagi rame demo, apalagi ketika saya ke sana bertepatan dengan ShutDownBangkok, makin membulatkan tekad saya.  Saya pun memesan tiket kereta api dari Bangkok menuju Nong Khai, dimana terletak border Thailand untuk keluar menuju Laos.  Stasiun pemberangkatan yang saya pilih dari Bangkok adalah Stasiun Don Mueang, karena menurut kabar yang beredar waktu itu, akses menuju Stasiun Hualamphong tertutup para demonstran.  Oiya, mungkin ga banyak yang tau ya kalo Stasiun Don Mueang ini terletak di sebrang Bandara Don Muang.  Jadi kalau misalnya kamu mendarat di Don Muang dan ingin langsung naik kereta ke kota-kota Thailand lainnya (tentunya yang melewati stasiun ini), kamu ga perlu harus ke Hualamphong yang berada di pusat kota Bangkok dulu.

Bagaimana cara ke Stasiun Don Muang dari Bandara Don Muang? Cukup cari petunjuk “Amari Don Muang Hotel”, kalo ga salah adanya di lantai Arrival, trus naik lift atau turun tangga, dan tinggal ikuti papan petunjuk ke stasiunnya. Jadi kayak lewat jembatan penghubung gitu, ga sampe 10 menit deh.

Stasiun Don Mueang

Tiket kereta yang saya beli, seharga 758 baht, merupakan kereta dengan kelas sleeper AC dan lower berth.  Lumayanlah, 12 jam perjalanan malam tersebut sekalian untuk menghemat biaya penginapan. Hehehe..Tiket bisa dibeli langsung di loket stasiun, atau di semua travel agent di Bangkok (tapi kena biaya), atau bisa juga beli online (kena biaya pengantaran).  Jadi kalo ga lagi peak season, mendingan beli di loket langsung deh, bisa juga beli beberapa hari sebelumnya untuk berjaga-jaga ga kehabisan.

suasana di dalam kereta, sleeper 2nd class
kalau siang, tempat tidurnya jadi kursi lagiii

Singkat cerita, malam itu, sekitar jam 20.50, saya berangkat menuju Nong Khai dengan perasaan campur aduk antara seneng, deg-degan, takut, excited, dll.  Akhirnya, sebentar lagi saya bisa melihat Luang Prabang.  Iya, kota yang bikin saya tertarik banget ke Laos adalah Luang Prabang, yang katanya The Most Romantic City in South East Asia 😀 .  Untuk menuju ke kota ini, saya masih harus menempuh perjalanan 11 jam lagi pake bis.  Tapi tekad saya sudah ga sekelumit lagi, jadi gpp deh. Hehehe..

suasana stasiun Nong Khai

Jadi gini nih urutan perjalan saya dari Thailand menuju Laos dengan menggunakan jalur darat (kereta api) :

  • Stasiun Don Muang – Nong Khai à naik kereta malam, 758 baht
  • Di stasiun Nong Khai, naik tuk tuk menuju border Thailand à 30 baht per orang
  • Cap paspor keluar Thailand
  • Beli karcis bis untuk menyebrangi Friendship Bridge Thailand – Laos à 20 baht
  • Cap paspor masuk Laos
  • Naik bis hijau nomer 145 ke pusat kota Vientiane (Central Bus Terminal) à 6000 kip, bisa juga menggunakan tuktuk sampai tempat tujuan di Vientiane, tapi harus tawar menawar.

Sampai di Central Bus Terminal, saya pun langsung mencari loket penjualan tiket ke Luang Prabang.  Errrrhhh, ternyata bis yang menuju ke sana itu berangkatnya dari Northern Bus Terminal.  Baiklaaaahh, pantesan ga nemuuu.  Saya mulai menawar tuk tuk yang akan mengantar ke Northern Bus Terminal dan berhasil di harga 60ribu kip 1 tuktuk.  Ternyata jaraknya lumayan jauh dengan medan jalanan yang berdebu.

Suasana Northern Bus Terminal tidak seramai terminal bis biasanya, malah cenderung sepi.  Saya pun langsung menuju loket dan memilih jam keberangkatan yang tidak terlalu lama, yaitu jam 16:00.  Rencana awal, saya inginnya naik sleeper bus jam 21:00 atatu 22:00 agar sampai di Luang Prabang sudah cukup terang.  Tapi karena saya kecepetan sampai di terminal bis-nya, dan mau balik lagi ke kota juga lumayan jauh, jadilah saya ambil bis dengan jam terdekat.

Northern Bus Terminal
jadwal dan harga bis dari Vientiane ke Luang Prabang

Sekitar jam 15:45, penumpang bis sudah dipersilakan untuk naik.  Saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil dan minuman untuk bekal perjalanan, mengingat perjalanan yang cukup lama.  Penumpang bis kebanyakan orang lokal, hanya saya dan dua orang bule Australia dengan tujuan Van Vieng yang terlihat pendatang.  Tidak lama setelah bis berjalan, sayapun tertidur diiringi alunan musik yang sepertinya lagi hits di Laos.

Saya terbangun sekitar pukul 23.30 karena bis berhenti dan kondekturnya berteriak-teriak meminta penumpangnya turun.  Saya lihat keluar jendela, lho ini sepertinya bukan di tempat peristirahatan, dan dua orang bule Australia tadi pun sudah ga ada.  Saya pun mengikuti penumpang lain untuk turun.  Ternyata, bis tertahan karena di depannya ada truk mogok dan sedang diganti bannya.  Kami disuruh menunggu sekitar 200 meter di depan karena katanya berbahaya jika menunggu di dalam bis.  Hihihihih, baru nunggu 10 menit, saya udah ga tahan dinginnyaaaa.  Bayangin aja, di daerah kayak Puncak gitu, tapi ga ada warung-warung, sepiiii, kanan kiri gunung, kami disuruh menunggu selama waktu yang tidak bisa ditentukan.  Beruntung waktu itu bulan purnama, jadi ga terlalu gelap dan menyeramkan.  Mati gaya karena kedinginan, sayapun bertekad kembali ke bis dan berharap dibolehin nunggu di dalem.  Eh ternyata pas ijin sama kondekturnya, tetep ga dibolehin lho. Ada satu orang penumpang, Bapak-bapak yang memakai celana pendek, dan mengerti kalau saya kedinginan.  Dia bilang gini “exercise, exercise” sambil lari-lari kecil dengan lincahnya.  Errrrhhh, ya sudahlah saya balik ke tempat penumpang lainnya saja.

Ternyata, para penumpang lain sudah membuat beberapa api unggun untuk menghangatkan badan.  Saya jadi malu sendiri karena tadi kekeu mau nunggu di bis, padahal di rombongan saya, ada ibu-ibu yang sudah berumur dan ibu yang menggendong bayi, tapi tetap bertahan menunggu.

Akhirnya, setelah dua jam menanti *tsaaah, kami diperbolehkan naik ke bis dan melanjutkan perjalanan.  Alhamdulillaaaaahhh..saya pun melanjutkan tidur dan bangun ketika bis parkir di terminal Luang Prabang.  Saya sampai di Luang Prabang sekitar jam 5 pagi, dan udaranya itu lebih duingiiinnn dibanding tadi di jalanan. Baiklah, saya ga kuat nunggu sampe terang, saya pun berjalan keluar terminal dan menemukan ada hotel tepat di seberangnya, namanya Dao Fa Hotel.  Tanpa pikir panjang, sayapun menginap di situ untuk sekedar tidur, bersih-bersih, dan menghangatkan badan.  Sebenernya harga yang ditawarkan cukup mahal, walaupun kamarnya besar, yaitu 150ribu KIP untuk berdua.  Tapi mengingat udara dingin di luar, sayapun mengiyakan harga tersebut dan langsung pules tidur sampai jam 10.  Hehehehe..lupakan sarapan.

Setelah mandi dan bersih-bersih, saya berencana untuk keliling kota Luang Prabang dan mencari penginapan lain yang lebih strategis.  Saya pun menawar tuktuk ke kota dan mulai berjalan kaki menyusuri jalanan Luang Prabang.  Beruntungnya saya, ketika sedang jalan-jalan di sekitar Sungai Mekong, saya menemukan penginapan yang agak masuk ke dalam, tapi masih terlihat view Sungai Mekong,  Phabon Guest House namanya.  Harganya pun tidak terlalu mahal, 90ribu KIP dengan kamar yang memiliki balkon menghadap sungai. Asik kan? Di sini kita juga bisa menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga 15ribu KIP.  Suasana Luang Prabang memang asik banget buat sepedaan.  Jalannya bagus, kendaraan bermotornya pun ga banyak.  Saya keliling-keliling sampai sore menjelang Magrib karena jalanan sudah mulai ditutup untuk pasar malam.  Saya pun kembali ke penginapan untuk mengembalikan sepeda dan jalan kaki ke pasar malam.  Pasar malam di Luang Prabang cukup meriah meskipun yang datang tidak terlalu ramai.  Barang-barangnya lucu-lucuuuu semuaaa, apalagi tas-tasnya. Waah, warna-warnanya memanjakan mata banget deh.  Jangan lupa untuk menawar sepertiga atau setengah harga ya di sini, apalagi kalau beli banyak.

suasana Luang Prabang
salah satu cafe pinggir jalan yang banyak ditemui di Luang Prabang
sepanjang Sungai Mekong
tenda pasar malam
makanan di pasar malem. Sepiring 10ribu KIP, bebas.

Hari kedua di Luang Prabang, saya bangun pagi-pagi sekali untuk melihat ritual Ta Bat.  Ritual dimana para monks berbaris untuk menerima makanan atau uang dari para penduduk.  Tapi ternyata saya bangun terlalu pagi, karena suasana masih sangat gelap.  Saya pun kembali ke tempat tidur dan tidur-tidur ayam karena memang masih berasa capek banget abis sepedahan keliling-keliling kemarin.  Lima belas menit kemudian, saat hari sudah terlihat terang, saya memantau lewat balkon kamar, dan paaaasss banget, terlihat barisan monks tengah berjalan pelan.  Saya pun langsung menghambur ke bawah dan keluar menuju jalanan.  Akhirnyaaa, kesampean juga saya melihat ritual Ta Bat, ritual yang tadinya hanya saya lihat di brosur liburan ke Luang Prabang :’)

ritual Ta Bat
Sungai Mekong

Siang harinya, saya melanjutkan berkeliling Luang Prabang dan mencoba restoran yang ada di sekitar Sungai Mekong.  Ternyata, makan di pinggir sungai juga seru lho kalau suasananya adem gitu.  Sorenya saya naik ke puncak tertinggi Luang Prabang untuk menyaksikan sunset.  Salah satu sunset terindah yang pernah saya lihat :’) Oiya, untuk melihat sunset ini disarankan naik dari jam 3 atau 4 sore, karena makin sore, pengunjung makin ramai dan agak susah menemukan spot yang enak.

..karena foto kaki di pantai sudah terlalu mainstream.. :p
nongkrong di pinggir Sungai Mekong
sunset Luang Prabang
sunset :’)

Selesai menyaksikan sunset, saya bergegas turun dan menuju penginapan karena jam 18.15 akan dijemput untuk menuju terminal bis dan kembali ke Vientiane.  Sekedar tips kalau kamu juga harus kembali ke Vientiane, lebih baik beli tiketnya dari jauh-jauh hari karena ada resiko ga kebagian tiket.  Tiket yang saya beli waktu itu merupakan tiket terakhir bis tsb.  Kalau waktu itu ga kebagian tiket ke Vientiane, terpaksa tiket pesawat pulang saya hangus deh..huhuhuhu

Oiya, di perjalanan menuju Vientiane ini saya bertemu dengan Shinji, cowok, solo traveler dari Jepang yang ngasi banyak pelajaran dan kocak banget mukanya. Hahahah..Shinji ini Bahasa Inggrisnya pas-pasan tapi berani negor saya duluan.  Berani ngajak ngobrol orang asing walopun seringnya pake bahasa Tarzan dan kadang ga ngerti dia atau saya ngomong apa. Waktu itu katanya pengalaman dia pertama kali keluar Jepang, dan dia seneng banget! Hihihi, Shinji ini salah satu contoh, kendala bahasa itu bukan alasan kita untuk ga ngeliat dunia lho! Semangaaattt!!

Resolusi 2014

Yuhuuu,

sudah tahun baru lagi niiihhh..udah lewat sebulan malah ya..hehehe..baru sempet update blog karena sebulan ini pergi-pergi terus.  Cerita lengkapnya nanti akan ditulis di bagian lain yaaa..  Udah bikin resolusi tahun ini? kalo resolusi jalan-jalan tahun ini? Saya sudah 🙂

Untuk resolusi kehidupan *tsaaah* ga perlu saya share di sini lah yaa..kalo untuk resolusi jalan-jalan, cuma ada dua..hehehehe. Taun ini saya pingin banget ke Raja Ampat dan Turki.  Bismillaaaah, semoga bisa kesampean semuaaa.

Apapun resolusi kita tahun ini, semoga semuanya bisa tercapai, atau paling ngga, selangkah lebih maju yah.  Semangaaaatttt!!

 

Belitung (3) – Pantai Tanjung Tinggi

Hari ketiga di Belitung, saya berkunjung ke Pantai Tanjung Tinggi atau yang dikenal juga sebagai Pantai Laskar Pelangi.  Tadinya saya berencana untuk menghabiskan wkatu setengah hari saja di sini dan setengah harinya saya ingin melihat rumah adat Belitung dan Rumah Tuan Kuase, yaitu rumah tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Tanjung Pandan.  Ternyata, rencana tinggal rencana..heheh..saya betaaahhh di Pantai Tanjung Tinggi ini.  Gimana ngga, saya nemu spot yang enak banget buat kerja..nih, kerja di tempat kayak gini, bikin kreatifitas menjadi tidak berbatas 🙂

sayang yaaa batunya pad dicoretin :(
sayang yaaa batunya pada dicoretin 🙁
airnya tenaaang banget!
airnya tenaaang banget!

Setengah hari saya habiskan dengan menulis dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.  Dan percaya ga, kerjaan yang selama berminggu-minggu ga kelar-kelar, di sini saya cuma butuh waktu setengah hari buat nyelesaiin.   hehehe..lokasi menentukan prestasi *alasan* Selesai kerja, karena cuacanya mendung dan sepertinya akan turun hujan, saya mengajak driver saya untuk mencari makan siang.  Kebetulan waktunya juga sudah pas.  Saya diajak ke rumah makan yang menjual seafood yang ternyata adalah masih berhubungan keluarga dengan driver saya.  Saya memesan ikan bakar (yang ternyata gede banget), sayur kangkung, dan es kelapa muda.  Makan berdua di sini menghabiskan uang Rp 97.000,- dan ikannya masih sisa banyak banget yang akhirnya saya bungkus untuk makan malam.

Selesai makan, karena cuaca yang tidak terlalu panas habis hujan, saya memutuskan untuk berenang.  Sebagai informasi, pantai-pantai di Belitung ini ga ada ombaknya.  Jadi kita seperti berenang di kolam renang gedeeee banget gitu. Asik kan?  Begini nih :

siapa coba yang ga tergoda nyebur..
siapa coba yang ga tergoda nyebur..
adeeemmm
adeeemmm

Trus, karena makin sore suasana makin ramai, saya pun berjalan-jalan keliling pantai.  Dan nemu tempat sepiii yang enak banget buat berenang lagi.  Seperti punya pantai pribadiiii.

nemu spot iniiii..
nemu spot iniiii..
lagi-lagi mengundang untuk nyebur..
lagi-lagi mengundang untuk nyebur..
beniiiing..
beniiiing..

Sebenernya saya masih betah duduk-duduk di sini..tapi sayangnya driver saya sudah sms dan bilang kalo mau ngejer sunset, kita harus berangkat sekarang.  Saya pun beranjak dari tempat leye-leye saya dan menghampiri mobil untuk diantar ke Bukit Berahu, mengejar sunset.

Bukit Berahu ini ternyata merupakan sebuah penginapan dengan konsep bungalow yang semuanya menghadap ke laut.  Cukup nyaman sepertinya, sayang lokasinya terlalu jauh ke dalam dan sepi.  Tamu dari luar bisa masuk dan menikmati laut yang ada di depan penginapan.  Waktu saya ke sana, sudah ada beberapa orang yang siap dengan spot masing-masing untuk mengabadikan sunset.

sunset
sunset
Penginapan Bukit Berahu
Penginapan Bukit Berahu

Demikian cerita hari terakhir saya di Belitung.  Berikut ini saya berikan rekapan biaya yang besar-besar selama di Belitung yaaa..Harga ini updated September 2013 kemarin.

Hotel (1 kamar berdua)  =  Rp 200.000 semalam, termasuk breakfast

Sewa mobil                        = Rp 350.000 per hari termasuk sopir, belum termasuk bensin, bisa untuk 6 orang

Sewa perahu                      =  Rp 400.000 per hari, bisa untuk 10 orang

Semoga membantu 🙂

 

 

Mengenal Dunia Tanpa Batas

Seumur hidup saya, hampir tidak pernah saya iri dengan kehidupan orang lain dan apa yang orang lain miliki.  Saya percaya, semua orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang sama, dengan kesempatan untuk melihat dunia dan menikmati hidup yang sama sesuai dengan caranya masing-masing.  Tapi ternyata kepercayaan itu sedikit demi sedikit mulai saya pertanyakan.  Kenapa? Begini ceritanya..*tsaaahh.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengiyakan ajakan salah seorang teman saya untuk jalan-jalan ke London.  Gimana ga langsung iya, bagi penggemar Harry Potter dan Sherlock Holmes seperti saya, UK termasuk ke dalam negara impian yang sangat amat ingin saya datengin.

Sebagai WNI, tentunya langkah pertama yang harus kami siapkan adalah mengurus visa.  Semua dokumen saya siapkan hanya dalam waktu seminggu dan kami meminta bantuan teman saya yang bekerja di travel agent untuk mengurusi visa kami tsb. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, visa kami belum ada kabar.  Saya yang merasa tidak pernah bermasalah dalam mengurus visa, merasa tenang-tenang saja dan santai dalam menunggu keputusan apakah visa kami approved atau ngga.  Buat saya, visa approved ya berangkat..visa ga approved ya ga jadi..Sesederhana itu.  Berbeda dengan teman saya, teman saya ini pernah kuliah dan menghabiskan beberapa tahun hidupnya di London.  Tapi karena pernah punya pengalaman ditolak visanya oleh salah satu negara yang memang terkenal sulit mengeluarka visa (apalagi waktu itu bertepatan dengan bencana dunia), sehingga teman saya ini cukup ketar ketir dengan hasil keputusan visa kami.  Saya yang merasa kami tidak punya masalah dengan dokumen dll, ya berusaha menenangkan dan meyakinkan kalau Insya Allah visa tsb approved.

Setelah menunggu selama kurang lebih 1,5 bulan, akhirnya ada keputusan mengenai visa saya, dan ternyata visa saya ditolak.  Wah, lumayan lemes sih dengernya.  Tapi lagi-lagi, saya mikirnya sederhana aja.. visa ditolak, ya ga jadi berangkat dan bisa dicoba lagi lain kali di kesempatan yang lebih pas.  Ternyata, masalahnya tidak sesederhana itu.  Alasan penolakan visa saya adalah karena katanya akte lahir saya palsu, surat keterangan kerja saya palsu, tiket pesawat dan tanda booking hotel saya palsu.  Dan karena alasan dokumen palsu itulah, jika saya apply visa lagi, kemungkinan akan terus ditolak selama 10 tahun.  Dari situ saya mulai drop.  Saya yang tadinya berkeyakinan bahwa dunia ini bisa dinikmati tanpa batas, mulai merasa bahwa semua itu ternyata ada batasnya, even dreams.

Teman saya, yang ternyata visanya approved, mencoba menghibur saya.  Katanya, dunia ini masih banyak yang bisa dijelajahin.  Bener sih, Indonesia aja mungkin gakkan habis kalo mau saya explore satu-satu.  Tapi sebenernya bukan itu masalahnya.  Yang bikin saya drop adalah karena kejadian itu seperti menampar saya tentang banyak hal.  Apa aja? Beberapa yang bisa saya share disini adalah kita ga boleh buru-buru dalam mempersiapkan dokumen penting, harus dicek 1-1 dengan teliti dan disamakan dengan permintaan pihak kedutaan.  Kedua, kalo bisa kita urus segala sesuatunya sendiri, termasuk apply ke pihak kedutaan.  Karena nanti kalo ditolak dan dapet kejadian seperti saya, toh kita yang akan menanggung, bukan pihak travel agent atau pihak lain.

Saya sempet iri dengan seorang kenalan yang merupakan anak dari salah satu menteri.  Saya lihat foto-fotonya, bulan ini bisa keliling Eropa, dua bulan lagi sudah ada di New York.  Bahkan di hari ulangtahunnya aja, dia bisa ke London mengunjungi pacarnya, meskipun hanya memanfaatkan long wekeend.   Tapi trus saya mikir, mungkin kalo saya jadi dia, saya ga akan terlalu menikmati perjalanan saya karena saking mudah dan seringnya saya pergi jalan-jalan.  Jadi saya sekarang aja suka merasa “dipaksa” cepet move on kok dari satu trip ke trip lain, karena baru kelar trip ini, udah harus nyusun itinerary trip berikutnya..lebih ke urusan nyusun budget sih..hehehe..Sesuatu yang kita dapet dengan perjuangan itu Insha Allah akan lebih berasa artinya kan yah 🙂

Sejak itu, saya agak trauma untuk jalan-jalan, kemanapun itu.  Tapi trus saya sadar, Allah menciptakan dunia ini ga cuma sebatas UK, dan kejadian itu bukan tanpa alasan.  Hikmahnya pasti ada.  Salah satunya, saya jadi lebih fokus jalan-jalan ke daerah-daerah Indonesia yang sangat worth it untuk dikunjungi.  Sekarang saya sudah bisa menuliskan cerita ini dengan senyum dan hati yang lapang (tsaaah).  Tujuan saya menulis ini supaya siapa aja yang sedang berencana untuk apply visa, bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya.  Dan tentunya, supaya kamu, yang merasa pernah punya mimpi dan ternyata drop, bisa bangkit lagi dan mengambil hikmahnya ya 😉

Terimakasih sudah membaca dan sampai ketemu di tulisan berikutnyaaaa..

 

 

 

Belitung (2) – Island Hopping

Hari kedua adalah hari yang saya tunggu-tunggu selama di Belitung.  Gimana ngga, hari ini saya akan island-hopping ke pulau-pulau yang ada di Belitung, termasuk Pulau Lengkuas tempat mercusuar dengan pemandangan dari atas yang indah banget ituuuu.  ihiiiy.  Saya sudah menyewa kapal sehari sebelumnya dengan harga 400 ribu per kapal (bisa memuat 10 orang per kapal) dan tidak dibatasi waktunya berapa lama.

Tepat jam 9 pagi, saya sudah berada di Pelabuhan Tanjung Kelayang untuk naik kapal.  Oiya, jangan lupa untuk membeli makan siang atau perbekalan untuk di perjalanan karena di pulau-pulau yang akan didatangi tidak ada penjual makanan.

pelabuhan Tanjung Kelayang
di pelabuhan
wihiiiyyy
wihiiiyyy

1.  Pulau Pasir

Pulau pasir ini adalah seonggok pasir yang warnanya putiiiihhh banget, yang hanya ada di pagi hari.  Sore hari, ketika air laut sudah mulai pasang, pulai ini akan terendam air dan tidak terlihat lagi.  Begini nih :

bintang laut yang ada di Pulau Pasir
bintang laut yang ada di Pulau Pasir
Pulau Pasir
Pulau Pasir

2.Pulau Burung

Setelah puas berfoto di Pulau Pasir, saya pun menuju pemberhentian selanjutnya.  Pulau Burung.  Kenapa disebut Pulau Burung? karena di pulau itu ada batu yang berbentuk burung.  Driver saya pun bercerita dengan bangga bahwa pulau tsb pernah masuk acara On The Spot sebagai salah satu pulau paling unik di dunia..hehehe.

batu berbentuk burung
batu berbentuk burung
bikin seger mata ya
bikin seger mata ya

Saya menghabiskan waktu cukup lama di Pulau Burung ini karena nemu spot enak buat baca buku. Di situ ada sebuah dermaga ga terpakai yang adem dengan view langsung ke laut.  Wiiih, pas banget deh buat baca.  Berbekal kacang dan lagu-lagu di Ipod, selesai deh satu buku langsung hari itu juga..hihihih.  Gimana ngga langsung abis sebuku, gini nih view nya :

dermaga ga kepake buat ngadeem
dermaga ga kepake buat ngadeem

Saya kembali ke kapal karena driver saya sudah sms dan mengingatkan bahwa kita harus berangkat ke Pulau Lengkuas sebelum ombaknya membesar.  hihihihi ternyata saya lupa waktu, alhasil perjalanan ke Pulau Lengkuas pun penuh dilalui dengan ombak yang menghadang *tsaaaahhh.  Saya sampai harus pegangan kuat-kuat biar ga kelempar.  Kata Bapak kapal, itu ombaknya belum seberapa..pernah ada yang sampe 5 meter, dan penumpang tetep kekeuh untuk jalan terus.  Baiklaaahhh.

3.  Pulau Lengkuas

Ternyata, pengunjung Pulau Lengkuas jauh lebih banyak dibanding pulau-pulau sebelumnya yang saya datangi. Ga heran, di pulau ini ada spot snorkeling dengan air yang beniiiing banget, banyak tempat duduk-duduk, dan ada penjual minuman jugaa.  Tanpa buang waktu, saya pun bergegas memasuki mercu suar dan naik ke atas.  Di pintu masuk, terdapat kotak tempat pengunjung memasukkan uang Rp 5 ribu sebagai biaya kebersihan.

Baiklah, perjuangan naik ke mercu suar setinggi 60 meter, dimulai.

mercusuar di Pulau Lengkuas
mercusuar di Pulau Lengkuas
ada 18 tangga kayak gini, dan ini yang ke-10 hosh hosh
ada 18 tangga kayak gini, dan ini yang ke-10 hosh hosh
pemberhentian di tiap tangga
pemberhentian di tiap tangga

Ngos-ngosan, tapi begitu melihat pemandangan dari atas sini, capeknya sih masiiih, tapi langsung lupaaaa..gile keren banget!

enjooooyy!
enjooooyy!

2013-09-17 12.45.28 2013-09-17 12.47.24 2013-09-17 12.51.492013-09-17 14.29.08 2013-09-17 14.36.51

Selesai melepas lelah, menikmati pemandangan, dang ngobrol dengan pengunjung lain di atas mercusuar, saya pun turun lagi dan mencari tempat yang enak untuk menikmati santap siang.  Hari itu, saya menikmati nasi bungkus isi sambel telor dan tumis labu dengan view makan siang paling indah yang pernah saya alami.

menu makan siangnya sih biasa..
menu makan siangnya sih biasa..
view nya yang luar biasaaaa..
view nya yang luar biasaaaa..

2013-09-17 13.31.00

Saya juga menghabiskan waktu cukup lama disini.  Bukan, bukan karena baca buku. Tapi karena ketiduran di atas batu dan baru sadar ketika air laut sudah mencapai kaki saya. hihihihi.  Saya pun bergegas menghampiri kapal saya yang tinggal satu-satunya di pulau itu dan menuju ke pulau lain.  Teluk Labu namanya.

4.  Teluk Labu

Konon katanya, sebenernya pulau ini tidak termasuk ke dalam paket Island-Hopping yang biasa dilakukan oleh wisatawan.  Namun hari itu, saya dikasih bonus.  hehehe..saya diajak ke Pulau yang belum terjamah dan jarang didatangi orang.  Eh tapi pas kesana ternyata saya ga sendirian, ada pasangan yang sepertinya sedang bulan madu sedang berenang di pulau tersebut.  Airnya ituuu, beuuuuuh, memang mengundang untuk nyebur banget sih.  Tapi saya memilih untuk duduk-duduk aja sambil foto-foto.  Bingung ntar ganti bajunya dimana sih..hehehhe

2013-09-17 15.03.06 2013-09-17 15.05.09

5.  Pulau Kepayang

Pulau Kepayang adalah pulau yang paling “hidup” menurut saya.  Di sini terdapat tempat makan dan penginapan serta penangkaran penyu.  Katanya, pulau ini juga bagus untuk melihat sunset.  Sayangnya waktu itu agak mendung, jadi saya pikir ga perlu nunggu sunset disitu. heheh.. Saya hanya menikmati sebuah kelapa muda dan langsung pulang ke Pulau Kelayang untuk kembali ke penginapan.

2013-09-17 15.52.05 2013-09-17 15.58.37

Demikian perjalanan island-hopping saya hari ini.  Saya pulang ke penginapan dalam keadaan capek, belang, tapi seneeeengg banget.  Mata saya abis dimanjakan oleh warna hijau biru nya laut Belitung.  Ihiiiiy.

Oiya, untuk informasi sewa kapal bisa hubungi Bang Yus di no HP 0819.9591845 yaaa..

Belitung (1) – Laskar Pelangi

Promo Citilink seharga 55ribu one way beberapa bulan yang lalu, akhirnya sukses mengantarkan saya ke negeri Laskar Pelangi ini.  Iya, tiket PP Jakarta – Tanjung Pandan – Jakarta saya beli “hanya” dengan harga Rp 110ribu saja. Asik kan? Ga tanggung-tanggung, saya akan berpetulang di Belitung selama 5 hari 4 malam.  4 hari ding, karena flight saya kembali ke Jakarta di hari kelima berangkat jam 7 pagi.

Pada hari Senin, 16 September 2013 jam 3.30, berangkatlah saya menuju bandara menggunakan taksi bertarif bawah.  Ternyata, walopun sudah bertarif bawah, tetep aja biaya taksi dari rumah saya ke bandara lebih mahal dibandingkan harga tiket PP saya ke Tanjung Pandan..hihihi :D.  Alhamdulillah, jalanan masih lengang, sehingga perjalanan hanya ditempuh selama 45 menit saja.  Proses check in tidak memakan waktu lama, dan tepat pukul 05.55 pesawat saya pun bertolak menuju Tanjung Pandan.  Soooo excited!

Satu jam kemudian, mendaratlah saya di Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.  Mobil sewaan saya beserta drivernya (Mas Teguh) sudah stand by menjemput dan siap mengantar saya berkeliling Belitung.  Ketika bertemu pertama kali, Mas Teguh agak kaget karena saya sendiri dan orang Indonesia..heheheh..Katanya, dari nama saya, dia tadinya ngira saya orang India. wkwkwkk..India dari Hongkong nih kayaknya.

Tujuan pertama saya adalah makan mie khas Belitung dong.  Saya pun langsung dibawa menuju Mie Atep, kios mie Belitung paling terkenal disana.  Ternyata memang bener, ketika saya sampai, banyak banget bis-bis yang mengantar tamu makan di sana.  Saya sampe ga kebagian tempat duduk.  Sedikit tips, ternyata memang rute pertama para wisatawan setelah mendarat di Belitung adalah Mie Atep in.  Sehingga kalau memang jadwal kamu fleksibel, bisa menyantap mie ini pada siang atau sore hari, di waktu yang tidak terlalu ramai.  Oh, jangan lupa juga untuk mencicipi es jeruk sebagai minumannya. Perpaduan yang sempurna! :p

Begini nih penampakan mie Belitung yang terkenal enak itu :

2013-09-16 08.09.15

Setelah kenyang, perjalanan pun saya lanjutkan ke daerah Gantong dan Manggar. Iyaaaa, daerahnya Laskar Pelangi. hehehe..Perjalanan yang ditempuh selama 1,5 jam itu saya manfaatkan untuk tidur di mobil.  Lumayan, secara malem sebelumnya jam tidur saya sangat kurang karena harus packing dan menggunakan flight paling pagi.

Saya terbangun ketika merasa bahwa mobil sudah melakukan manuver-manuver untuk parkir *tsaaahh.  Ketika membuka mata, tampaklah bangunanan tempat Ikal, Mahar, Lintang, dkk menimba ilmu, SD Muhammadiyah Gantong.  Saya pun bergegas turun dan sedikit berlari menaiki bukit pasir untuk masuk ke dalam sekolah tsb.  Begini nih kondisinya :

SD Laskar Pelangi
SD Laskar Pelangi
2013-09-16 09.51.12
Suasana dalam kelas

Setelah puas foto-foto, saya menuju ke tempat selanjutnya, yaitu Museum Kata Andrea Hirata, yang letaknya tidak jauh dari SD Laskar Pelangi. Bangunan yang berisi foto-foto dan cuplikan cerpen dan novel karya Andrea Hirata ini tampak nyaman dengan dekorasi yang keren banget menurut saya.  Di pintu masuk, ada kotak untuk memasukkan uang dari para pengunjung untuk biaya kebersihan museum.  Buat yang suka baca, pasti betah berlama-lama di tempat ini. Begini nih suasananya :

suasana dalam museum
suasana dalam museum
museum tampak depan
museum tampak depan

2013-09-16 10.07.24 2013-09-16 10.09.22 2013-09-16 10.09.58 2013-09-16 10.41.01

asik baca :p
asik baca :p

Kita juga bisa menikmati kopi khas Belitung yang dijual di dalam museum.  Asik deh jualannya, masih pake arang dan panci tradisional gitu. Beda sama coffee shop yang ada di kota, tapi suasana nyamannya sama.  “Coffee Shop” di museum ini dinamakan Kupi Kuli.  Saya yang ga kuat sama kopi hitam tp penasaran buat nyoba akhirnya memesan segelas kopi susu. Dan rasanya enak deh, ga bikin deg-degan..hehehe..apalagi pas bayar, sama sekali ga deg-degan karena harga segelas kop dan sebotol air mineral di sini Rp 10 ribu saja 😀

Kupi Kuli
Kupi Kuli
view ngopi di halaman belakang
view ngopi di halaman belakang

Ternyata, pada hari itu saya sedang beruntung karena kebetulan sekali Andrea Hirata sedang ada kunjungan ke museum tersebut.  Jadi, saya sempet ngobrol dengan beliau, foto bersama, dan dapet tandatangan di kaos yang saya beli di museum.  hehehhe..ternyata orangnya baik, ramah, dan rendah hati lho.  Saya sempet dikenalin juga sama Mba Meda, penyanyi yang mengisi soundtrack Laskar Pelangi The Series beserta tim-nya.  Waaah, hari yang menyenangkan dan pengalaman seru buat saya.

hehehehehe
wihiiiiiyy!!

Setelah foto bareng, saya pun berpamitan untuk menuju Manggar, daerah yang dikenal dengan daerah 1001 warung kopi.  Belum lengkap ke Manggar kalo ga nyobain kopinya dong..jadi saya ngopi lagiii..heheheh..

kopi Manggar
kopi Manggar

Saya juga nyobain makanan khas Belitung yang lain, yaitu Gangan. Gangan ini isinya potongan ikan yang dimasak dengan nanas dan berkuah kuning.  Rasanya campuran antara pedas, asem, dan gurih.

view dari tempat makan siang
tempat makan siang
gangan ikan
gangan ikan

Pemberhentian terakhir adalah Vihara Dewi Kwan Im yang terletak di dekat Pantai Burung Mandi.  Saya sampai di sana tepat ketika Vihara tersebut mau tutup, sehingga sudah tidak ada pengnjung lain yang datang.  Bapak yang menjaga, namanya Koh Akhun, ternyata katanya bisa ngeramal lho.  Katanya sih, salah satu daya tarik pengunjung untuk datang ke Vihara ini yaaa karena pingin diramal Koh Akhun ini.  Vihara-nya bersih dan sangat terawat lho. Dari sini bisa kelihatan pemandangan Pantai Burung Mandi yang berada tepat di bawahnya.

Vihara Dewi Kwan Im
Vihara Dewi Kwan Im
Koh Akhun :D
Koh Akhun 😀

Vihara ini merupakan tujuan terakhir saya di hari pertama saya tiba di Belitung.  Wiiihh, ga kerasa lho kalo saya baru paginya tiba di kota ini karena berasa jadwalnya efektif banget.  Saya pun kembali ke penginapan saya, Hotel Bunga Pantai yang ada di kota Tanjung Pandan.  Oiya, sedikit cerita..Saya melakukan reservasi di hotel ini malam sebelumnya, sehingga agar cepat mendapatkan konfirmasi dan biasanya dapat harga lebih murah, saya melakukan reservasi lewat web Ag*d*.  Ternyata, ketika saya tiba di hotel dan melihat rate kamarnya, lebih murah pesan langsung di hotel.  hehehe, pelajaran buat saya untuk melakukan cek ulang ke hotelnya langsung agar harganya bisa dibandingkan.

Penginapan Bunga Pantai menyediakan 10 kamar dengan tipe kamar paling murah seharga 200ribu semalam tidak termasuk sarapan pagi.  Kamarnya besar, bersih, ada WIFI dan disediakan galon kecil berisi air mineral di setiap kamar.  Ini foto kamarnya:

hotel Bunga Pantai
hotel Bunga Pantai

Untuk pemesanan kamar di Bunga Pantai, bisa langsung menghubungi Ibu Yemi sebagai pemilik penginapan di no HP 0819.29552104.

Perjalanan hari kedua di Belitung akan diceritakan di bagian dua yaaa..

Lombok

Kalo kamu suka pantai, kamu wajib ke Lombok.  Kenapa? Ya karena pantainya bagus-bagus..hehehe..truuuss, suasana pantai di Lombok juga ga seramai Bali, pantesan Lombok sering banget jadi tujuan para pengantin baru untuk honeymoon yaaaa..

Pertama kali menjejakkan kaki di Lombok Praya Indonesia Airport, wiihh rasanya pingn lompat-lompaatt. Udah lama banget pingin ke Lombok, tapi baru ada kesempatan sekarang.  Padahal kan Lombok ga terlalu jauh dari Jakarta yaaa..tapi ga tau kenapa, saya suka jiper kalo pergi sendirian ke daerah-daerah dalam negeri..huhuhu. Jadi nunggu ada temennya dulu nih 😀

Setelah selesai mengurus bagasi, saya dan teman saya bergegas menuju Damri yang akan membawa kami ke daerah Senggigi.  Iya, rencananya malam pertama ini kami akan menginap di Senggigi.  Di penginapan mana? Belum tau..heheheh..

Kami turun di daerah yang sepertinya ramai dengan toko-toko dan penginapan terjangkau dan mulai mencari penginapan yang sesuai budget.  Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Central Inn, dengan harga 300ribu termasuk sarapan pagi untuk 3 orang.  Mungkin karena kami datang di saat bukan musim liburan, jadi harga penginapan pun bisa ditawar. Hehehe.. tadinya, harga yang ditawarkan adalah 350ribu per malam untuk dua orang.  Tapi emang dasarnya cewek yaaa, ga puas kalo ga coba nawar.  Eeeehh dikasiiihh..Aheeeyy!!  Ini view dari kamar kami..sayangnya malah dalem kamarnya lupa difoto 🙁

ada pool nya, lumayaaann..sunrise terlihat dari balkon kamar

 

Keesokan paginya, kami sudah bersiap menuju Gili Air.  Kami menyewa angkot dari depan penginapan dengan harga 80ribu menuju ke Pelabuhan Bangsal.  Lumayaaan, bisa foto-foto sepanjang jalan dan angkotnya berhenti tepat di depan loket pembelian tiket kapal.  Tiket menuju Gili Air untuk menumpang perahu umum, sebesar 8ribu per orang, dimana keberangkatan harus menunggu sampai perahu penuh (sekitar 25 orang).  Kalo kamu buru-buru, kamu bisa menyewa perahu dengan harga sekitar 200ribu per perahu, tergantung tujuan kamu apakah ke Gili Air, Gili Meno atau Gili Trawangan.  Ini view yang bisa dilihat di perjalanan menuju dan di Pelabuhan Bangsal :

IMG_7131Pelabuhan Bangsal

 

Begini suasana di perahu umum menuju Gili Air :

barengan sayuuurrkoperkuning numpang foto :D

Perjalanan menuju Gili Air ditempuh hanya sekitar 30 menit.  Ketika sampai, kami ga bisa menahan decak kagum.  Itu airnya beniiiinggg banget dengan nuansa kapal-kapal yang sedang berlabuh.  Begini pemandangan ketika kami sampai di pelabuhan Gili Air :

berlabuhpelabuhan Gili Air

Setelah puas foto-foto, kami bergegas menuju penginapan kami di Gili Air, yaitu Villa Kombok.  Ternyata, penginapan kami ini jaraknya hanya selemparan tombak dari pelabuhan (tsaaahh).  Dekeeet banget!  Pantesan tadi mas-mas yang jemput ke pelabuhan kok cepet banget nyampenya..baru ditelepon, eh udah langsung sampe aja jemputannya.Villa Kombok

Tidak berlama-lama di penginapan, kami langsung menuju ke rencana berikutnya, diving!  Kami sudah booking lewat internet untuk satu kali dive di Manta Dive Gili Air.  Dalam perjalanan menuju Manta Dive inilah saya baru sadar.  Ini Gili Air kok sepertinya lebih banyak bule-nya dibanding orang lokalnya.  Hmmm..penginapan dan dive centre yang ada di sana pun lebih banyak dikelola oleh orang luar, sementara orang lokal hanya membantu membawakan barang atau menyiapkan keperluan dive.

Manta Dive Gili Air

Sesampainya kami di Manta Dive, saya diharuskan untuk mengikuti semacam perkenalan diving karena saya belum mempunyai sertifikasi.  Instruktur yang melatih saya berasal dari Swiss, dan cakep 😀  Temen saya aja sampe iri dan pingin pura-pura belum certified..hihihihi..Setelah selesai menonton video tentang diving dan mengikuti latihan di kolam renang selama kurang lebih satu jam, saya dan teman saya sepakat untuk makan siang dulu di salah satu tempat makan di dekat situ.  Masakannya sih biasa aja..tapi viewnya? Beuuuhh..oiya, kami makan siang ditemani hujan deras, jadi ga yakin deh itu masakan emang biasa aja atau saya yang deg-degan mau diving tapi ujan deres banget sampe ga napsu makan..hehehe..

Ini dia view dari tempat makan kami :

beniiing bangeeettt

Selesai menyantap makan siang, kami pun bergegas kembali ke Manta sesuai waktu yang disepakati.  Tadinya kami pikir karena ujan deras, maka kegiatan diving ditunda.  Ternyata jalan terus tuh..tampak beberapa orang sedang membawa tabung, fin, dan pemberat ke kapal yang akan mengantar kami ke tengah laut.  Kami dibagi menjadi dua kelompok.  Kelompok yang belum certified dan yang sudah.  Waaah, kelompok diving saya kali ini bule semuaaa.. ada yang dari Belanda, Belgia, dan Swiss.  Sempet kepikiran, ini kalo mau minta tolong di dalem laut, ga enak banget yak.  Secara guweh yang orang Indonesiaaa, hahahaha..

Singkat cerita, kami pun dive di spot yang saya lupa namanya. Hehehe..tapi jujur aja, ternyata ga banyak yang bisa dilihat di spot tersebut.  Mungkin karena saya bandinginnya dengan dive spot di Tomia, Wakatobi? Ga tau juga..tapi yang jelas, bule-bule di kelompok saya semuanya pada terkesan dengan apa yang mereka lihat di dalam sana.  Ketika naik ke kapal, ga henti-hentinya mereka bilang “Amazing!”  hehehe..saya boleh sombong ga nih sebagai orang Indonesia? :p

Selesai diving, saya dan teman saya menuju penginapan dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat suasana Gili Air.  Pulaunya tenang, menyenangkan, dan pemandangannya spektakuler.  Apalagi Gili Trawangan yaaa.. Hari itu ditutup dengan tidur cepat karena memang kalo abis diving, energi seperti terkuras banyak..hihihihi *alasan*

Gili Air sore hariGili Air pagi hari

Keesokan harinya, setelah puas berjalan mengelilingi pulau, kami pun kembali ke Pelabuhan Bangsal untuk menuju Pantai Kuta, Lombok.  Kami menyewa mobil dengan harga 200ribu dari Pelabuhan Bangsal menuju penginapan di Pantai Kuta.  Penginapan apa? Lagi-lagi kami belum tau..hehehe..

Di perjalanan menuju Pantai Kuta, kami mampir sebentar ke Sasak Village, desa penduduk asli Lombok yang rumahnya berasal dari kotoran sapi.  Jangan membayangkan rumahnya kotor dan bau ya, karena sama sekali ngga.  Kami ditemani oleh seorang guide yang menjelaskan tentang asal muasal rumah tersebut dan beberapa kebiasaan yang dianut oleh penduduk desa Sasak.  Guide ini tidak mematok bayaran, hanya seikhlasnya kita mau memberi berapa.  Oh iya, di sini kita diperbolehkan untuk mencoba pura-pura sedang menenun dan berfoto.  Konon katanya, wanita yang sudah bisa menenun berarti sudah diperbolehkan untuk berumah tangga. hihihi..dan ternyata menenun itu susah euy, harus detail dan telitiiii.

sasak villagesalah satu rumah pendudukmenenunmenenun juga

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Pantai Kuta yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari Desa Sasak.  Berdasarkan rekomendasi dari Bapak yang mengantar kami, kami pun menginap di Seger Reef.  Penginapannya berupa bungalow berkipas angin dengan harga 200ribu per malam termasuk sarapan untuk 3 orang.  Lagi-lagi, kami mengeluarkan jurus menawar, dan berhasil lagiii..ihiiiiy!! Tadinya saya pikir namanya Sugar Reef, eh tapi ternyata bener lho Seger Reef..hehehe.

Penginapannya sendiri bersih dan cukup nyaman.  Ini fotonya :

bungalow di Seger Reef

akhirnya ada juga foto dalem kamar :)
akhirnya ada juga foto dalem kamar 🙂

Selesai mandi dan istirahat sebentar, kami pun mencari makan di restoran yang ada di sebrang penginapan.  Target kami malam ini harus makan ayam taliwang, secara besoknya kami sudah harus pulang ke Jakarta.  Ternyataaa, pemandangan di restoran sebrang itu bikin kami terpana *tsaaahh.  Gimana ngga, di depannya ada laut yang tidak menyerupai laut, tapi lebih seperti danau saking tenangnya.  Dan karena hari sudah sore, warnanya pun berubah menjadi kelabu.  Begini pemandangannya :

 

view dari tempat makan
view dari tempat makan

IMG_7275IMG_7274

suasana malam harinya
suasana malam harinya

Kami menghabiskan waktu hingga malam hari di restoran tsb. karena seneng dengan suasananya yang tenang.  Rasa ayam taliwangnya sih tidak terlalu enak, tapi makanan lainnya lumayan.  Oh iya, teman-teman saya mencoba kopi Lombok yang katanya sih rasanya enak.  Yang mengganggu di sini adalah banyaknya anj*ng liar berkeliaran yang menunggu kita untuk memberi makan.  Di sini juga banyak anak-anak penjual gelang yang sepetinya tidak bisa ditolak, hehehe..saya biasanya kan nolak dengan kata-kata “nanti ya..” eh beneran lho ditungguin *tepokjidat

Besoknya, kami menyempatkan diri menuju Tanjung Aan yang berjarak 30 menit menggunakan mobil.  Ga nyesel deh bela-belain ke Tanjung Aan, karena pemandangannya baguuuusss bangeeetttt. Begini nih :

Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok

Dan ini bonus foto-foto yang saya ambil pas jalan-jalan pagi di sekitar penginapan..Awannya baguuuusss banget ya :

IMG_7329 IMG_7349IMG_7326

 

Sekian cerita perjalanan saya ke Lombok, mudah-mudahan bisa ikutan ngerasain tenang dan indahnya Lombok yaaa..sampai ketemu di perjalanan koperkuning berikutnyaaa..

tsaaahhh
tsaaahhh

Soul Trip lagiiii..

Bulan Mei lalu, saya kembali berkesempatan mengulang apa yang telah saya lakukan taun lalu.. Jalan-jalan ke Kamboja, Vietnam, dan Bangkok.  Tapi kali ini saya ga sendirian dan rute nya pun kebalik.  Jadi saya terbang ke Bangkok dulu, trus lanjut lewat darat ke Siem Reap ngeteng naik bis, lanjut naik bis malem ke Phnom Penh, jalan-jalan bentar, dan lanjut lagi ke Ho Chi Minh lalu balik ke Jakarta dengan menginap semalam di bandara KLIA.

Walaupun kota-kotanya mengulang, tapi ternyata kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru di setiap perjalanan yang kita lakukan *tsaaaahh.  Perjalanan kali ini lebih tepat disebut berpetualang.  Gimana ngga, perjalanan ke tiga negara tersebut kami lakukan hanya dengan waktu seminggu dengan budget kurang dari 8 juta rupiah berdua, sudah termasuk tiket pesawat.

Kali ini saya mau menceritakan hal-hal baru buat saya, yang belum pernah saya lakukan di perjalanan sebelumnya ya.

1.  Bangkok – pertama kali mendarat di Don Mueang Airport

Pertama kalinya saya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok.  Bandaranya sih ga sebesar Suvarnabhumi ya, tapi lebih deket ke pusat kota.  Kami menuju terminal Mo Chit dengan menggunakan bis nomer 510.  Tidak sulit untuk menemukan bis ini, karena tempat pemberhentiannya tepat setelah pintu keluar bandara. Ihiiiiyy.  Oiya, karena sebelumnya kami mendapat informasi bahwa ongkosnya 30 baht, maka kami pun mulai rempong jajan ini itu di bandara biar dapet kembalian uang kecil.  Ternyataaa..penumpang lain dengan santainya membayar ongkos bis dengan selembar 1000-an baht aja dong..dan kondektur dengan santai memberikan kembaliannya..hiyaaahhh *kunyahjajanandibandara*.

Dari Mo Chit, kami melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menggunakan BTS ke Saphan Taksin.  Hotel kami, Bangkok City Hotel, terletak sekitar 5 menit berjalan kaki dari BTS tersebut.  Merupakan hotel baru dengan lokasi strategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan.  Kamarnya bersiiihh, luaaasss, dengan harga sekitar 400ribu per malam. Sayangnya saya lupa foto kamarnya seperti apa..huhuhuhuhu..

2.  Bangkok – Siem Reap ngeteng naik bis

Kali ini, saya mencoba ngeteng naik bis dari Bangkok ke Siem Reap. Begini rutenya : dari terminal Mo Chit ke Aranyaprathet (perbatasan Bangkok), naik bis jam 3 pagi, dilanjutkan dengan bis ke Siem Reap.  Katanya sih begini lebih cepet dibandingkan naik bis langsung dari Bangkok ke Siem Reap yang memakan waktu 12 jam.

Perjalanan lancar sampai di Aranyapratet.  Kami langsung menuju imigrasi yang tampak masih sepi dan tanpa antrian.  Berbeda sekali dengan ketika saya pertama kali kesini, antri imigrasinya memakan waktu hampir 2 jam.  Setelah paspor dicap keluar, kami berjalan kaki ke Poi Pet, border negara Cambodia.  Di sini pun tidak ada halangan yang berarti, sampai kami keluar imigrasi.  Tidak jauh dari pintu keluar imigrasi, terdapat bis dengan tulisan free shuttle bus.  Tadinya kami ragu-ragu untuk naik ke bis tersebut, apalagi ada beberapa orang mencurigakan yg terkesan memaksa kami untuk naik.  Setelah menunggu beberapa lama dan melihat ada dua orang turis yang juga naik ke bis tsb, maka kami pun ikut naik, dan bis pun berangkat.  Teman saya yang curiga bahwa ini penipuan, meminta saya browsing tentang bis ini dan kami menemukan banyak sekali informasi.  Katanya, nanti kami akan dibawa ke travel agent yang mematok harga tiket jauh lebih mahal dibanding semestinya dan seolah-olah kami tidak ada pilihan lain.  Ya iyalah, karena ternyata letak travel agent tsb jauuuuhhh dari mana-mana di tempat yang terpencil. hadeuuuhhh..

Kami pun kekeuh ga mau pake bis atau taksi dari travel agent tsb dan mau balik lagi aja ke border tempat tadi.  Kami pun keluar sambil bingung naik apa.  Kalo kamu pernah nonton film yang pemerannya berdiri di pinggir jalan ngacungin jempol mau nebeng sama mobil lewat, nah waktu itu saya udah mikir gitu tuh.  Secara ga ada bis lewat sama sekaliii..huhuhu..  di tengah kebingungan dan panas matahari, salah satu supir taksi dari travel agent tadi mengikuti sambil tetep nawarin untuk pake dia ke Siem Reap.  Tawar menawar pun terjadi. dan akhirnya kami berhasil naik dengan biaya yang ga beda jauh dengan harga resmi.  fiuuuhh..

Saking stressnya, jadi ga sempet foto-foto..hehehehe..

 

3.  Siem Reap – pertama kali liat sunrise

Tahun lalu, saya ga sempet menyaksikan sunrise di Angkor Wat karena ga sempet.  Tapi kali ini, berhasil dooong.  Tanpa mandi dan sarapan, kami sudah berada di tuk tuk yang akan mengantar kami melihat sunrise.  Ternyata udah banyak banget turis yang juga menuju kesana, padahal hari masih gelap.  Walaupun mataharinya ga bulet karena ketutup awan, tapi bayangan candi yang memantul di danau bawahnya itu tetep menyejukkan mata.  Begini nih penampakannya :

IMG_6712

Setelah menyaksikan sunrise, kami pun beranjak kembali ke hotel untuk sarapan, tidur sejenak dan kembali lagi untuk mulai keliling temple lain di Angkor Wat.

4.  Bis malam dari Siem Reap ke Phnom Penh

Pertama kalinya naik bis malem, hihihi.  Naik kereta malem sih sering, tapi kayaknya kalo naik bis malem butuh keberanian khusus deh.  Kami memilih naik bis malam di perjalanan dari Siem Reap ke Phnom Penh dengan alasan menghemat waktu dan biaya menginap.  Tiket bis sudah kami beli di travel agent di sekitar Pub Street dengah harga 9USD.  Pas masuk ke bis, jeeeng jeeengg..begini penampakannya :

bis malemsuasana di dalam bis

Kalo kamu berencana naik bis malem, lebih enak pilih yang di bagian atas.  Kalo di bagian bawah sepertinya pengap dan kebayang kan kalo lg enak-enak tidur eh ada kaki ngegantung di atas kita. hehehe.. oiya, bis kami sempet mogok pulak sekitar 2 jam di daerah sepi gitu..huhuhuhu..

5.  Ho Chi Minh – city tour jalan kaki

Beberapa kali mengunjungi Ho Chi Minh, baru kemarin saya tau kalo ternyata jalan-jalan di kota bisa dilakukan dengan berjalan kaki karena tempat wisatanya terletak berdekatan.  Bahkan, di Lonely Planet yang kami baca di hostel tempat kami menginap, ada satu lembar peta rute perjalanan city tour yang bisa dilakukan dengan berjalan kaki.  Rute awalnya mulai dari Pham Ngu Lao Street (kawasan backpacker di Ho Chi Minh), dan kebetulan merupakan tempat kami menginap.  Estimasi lamanya perjalanan ini sekitar 6 jam, tergantung seberapa cepet kamu jalan dan seberapa sering istirahat..heheheheh.

Tempat wisata yang ada di rute ini (yang saya ingat), antara lain adalah :  War Museum, Reunification Palace, Notredamme Cathedral, Post Office (sebrang Cathedral), dan Ben Thanh Market.  Di jalan pulang ke hotel, kami melewati mall gede banget yang baguuuss banget bangunannya. Tapi saya lupa nama mall nya apa.

IMG_6853dalemnya kantor pos

Oiya, salah satu yang saya inget di perjalanan ini banyak banget nemu tukang jualan enak-enak.  Ada tukang rujak jambu air yang jambunya itu manis dan banyak banget airnya, sampe tukang jualan kopi Vietnam yang kalo di Jakarta harga segelasnya bisa 20ribuan.  Di sana, harga segelas es kopi Vietnam yang seger banget itu cuma 10ribu VND atau 5ribu rupiah sajah *mabuk2ankopi*

Truuus, saya baru tau juga kalo ternyata terminal bis yang menuju bandara Tan Son Nhat letaknya deket banget sama daerah Pham Ngu Lao. Tepatnya di sebrang Ben Thanh market.  Selama ini, kalo ke Ho Chi Minh ya dari/ke bandaranya naik taksi.  Kali ini saya coba naik bis.  Ongkosnya? 5ribu VND atau 2500 rupiah saja. hhahhahaha..gile ih puas rasanya.  Bis nya pun ok, ber AC dan berenti tepat di pintu keberangkatan bandara. ihiiiiyy!!

6.  Menginap di bandara KLIA

Nginep di bandara sih udah lumayan sering. Tapi kayaknya ini yang paling enak..hehehe..di tiap pojok bandara KLIA lantai 2, memang disediakan kursi-kursi yang bisa digunakan untuk tidur.  Wiiihhh asik bangeett..waktu itu saya bener-bener tidur pules kayak tidur di kamar hotel.  Ternyata, bandara ini termasuk ke dalam 10 bandara paling asik buat dijadikan tempat menginap.  hihihi..

tempat tidur

Begitu cerita petualangan saya. hehehe..bener-bener berkesan karena bisa banyaaak hal-hal baru yg saya alamin walopun perjalanannya termasuk mengulang. Semoga bisa ikut merasakan excitement yg saya rasain ketika melakukan perjalanan ini yaaa..

It takes courage to try something new..

Mungkin kalimat itu lah yang paling cocok mewakili pengalaman saya pertama kali diving.  hihihi..iya, buat seorang cewek yang panikan, belum pernah berenang di laut dan kadang masi suka keselek kalo ngambil nafas pas berenang, diving jd kegiatan yang agak nekad buat dilakukan.

Ajakan diving ini berasal dari teman saya yang merupakan teman seperjalanan saya ke Wakatobi.  Teman saya ini, merupakan diver yang sudah berlicense cukup tinggi (kalo ga salah, license diving ada level-levelnya yaaa)..hehehe..jadi, buat dia diving di Wakatobi itu wajib hukumnya.  Saya? saya sih cuma pingin leye-leye ajaa sambil liat gradasi warna air laut hijau, biru muda dan biru tua, udah cukup.  Tapiiii, bukan temen saya namanya kalo ga manas-manasin saya untuk ikut nyelam juga.  Katanya, Wakatobi merupakan surga bawah laut yang jadi impian banyak orang..sayang kalo saya ga nyelam.  Lagipula, kapan lagi ke Wakatobi kan?  Karena waktu itu darah saya masih darah muda *tsaaah*, sayapun panas dan memutuskan untuk ikut nyelam.  Hihihi..Kami berdua mendatangi dive centre di Patuno Resort, tempat kami menginap, dan menanyakan informasi mengenai diving.  Kebetulan waktu itu lagi sepi pengunjung karena memang bukan musim liburan.

Setelah tanya-tanya, kami pun mulai bersiap-siap dengan menggunakan wet suit dan memilih pelampung dan kaki katak yang sesuai ukuran.  Ternyata, orang yang ga bisa berenang sama sekali pun boleh ikut menyelam kok, jadi saya agak tenang.  Karena saya belum mempunyai license, maka saya diwajibkan untuk latihan dulu di laut yang tidak terlalu dalam.   Saya diajarin cara bernafas dengan menggunakan selang oksigen yang terhubung dengan tabung, bahasa-bahasa isyarat di dalam laut, dan tips kalo hidung dan telinga saya sakit karena perbedaan tekanan di dalam laut.  Oh, ada kejadian lucu ketika saya berjalan dari kantor dive centre menuju laut.  Karena sudah pakai tabung oksigen dan pemberat di pinggang, saya pun susah jalan, sempoyongan dan jatuh beberapa kali.  saya pun membatin dalam hati, ini belum seberat cobaan hidup, jadi saya harus bisa bangun lagi *halah apa sih* hahaha.  Tapi karena saya sudah ketinggalan jauh dari dive master saya, beliau pun balik lagi dan menggeret saya ke tengah laut..saya pasrah aja deh.hahahha..doi kesel kayaknya karena saya jatuh mulu dan susah banget buat bangun lagi.

IMG_0137

Setelah mendengarkan pengarahan, saya diajak makin ke tengah laut. Teman saya yang berlicense ituh, maunya pisah spot diving-nya sama saya, karena menurut dia, sebagai pemula saya cuma boleh nyelam sampai maksimal di kedalaman 18m di medan yang tidak banyak batu karang dan tidak berombak besar.  Teman saya ga mau bareng karena dia pingin nyelam lebih dalam lagi di spot yang lebih menantang.  hih! sombongnyah.  Bukan apa-apa, jadi kan ga ada yang motoin saya di dalem air..hehehhe..

Sebelum menyelam beneran, Dive Master (DM) saya meminta saya untuk memasukka kepala ke air dan merasakan apakah kacamata saya sudah pas sehingga tidak ada air yang masuk ke mata dan mencoba cara saya bernafas di dalam air.  Terus terang saya jiper ngeliat sekeliling saya aiiirrr semuaaa..ga ada tepinya. tapiii, saya bener-bener mikir, kalo ga sekarang, kapan lagi saya coba diving.  Akhirnya, setelah semua dirasa ok, sedikit demi sedikit DM saya mengempeskan baju pelampung agar saya tenggelam. Ya Allah, saya bener-bener tenggelem.  Sama seperti kalo turun tangga curam saya ga mau liat ke bawah, kali ini saya ga mau liat ke atas.  Sayapun mulai mencoba bernafas seperti biasa dengan menggunakan selang oksigen.  Ga sampe 10 menit, tiba-tiba saya sadar bahwa saya sekarang ada di bawah air.  Suasana di bawah sana makin lama makin hening, gelap, ikan-ikan berenang hilir mudik, dan saya mulai kedinginan. OMG, saya pun panik dan memberikan isyarat ke DM saya untuk naik ke permukaan.  Saya takuuttt..huhuhuhu.. di permukaan, DM bilang ke saya “kenapaa minta naik”, saya bilang saya takut. hehehe..untungnya doi bisa ngerti dan nanya ke saya, apakah saya mau nyelam lagi, sayang katanya, tadi baru 8m.  saya pun bertekad untuk menyelam lagi. Ketika menyelam ini, DM saya beberapa kali mengempeskan pelampung saya agar saya bisa lebih ke dalam laut.  saya pun mulai menikmati.  Aneka makhlut bawah laut mulai terlihat bewarna warni dan lucu-lucu.  Lama-lama, saya mulai merasa tenang dengan melihat semua pemandangan itu, sampe saya ga sadar kalo saya lg di bawah laut, bukan di Sea World..hehehe..Akhirnya, DM memberi isyarat bahwa kami harus naik ke permukaan.  kami naik, dan katanya tadi saya menyelam sekitar 12m.  wow..ga berasaaaa…

Besoknya, kami diving lagi di 2 spot di Tomia.  Kali ini udah lumayan lah, ga panikan dan sudah bisa mengatur nafas kayak bernafas di udara biasa.  Kali ini, saya bisa sampe kedalaman hampir 18m lho. Satu yang saya masih takut adalah pas terjun dari kapal ke laut yang pake balik badan itu..huhuhu..tapi, rasa takut memang harus dilawan, karena ternyata kalo kita lakuin, ga seserem bayangan kita kok 🙂

IMG_0496IMG_0457

Sejak saat itu, saya jadi pingin diving lagi dan lagi.  ngambil license sih sepertinya saya masih takut..hehehe..takut kalo udah ada license, ntar saya ga ditemenin lagi pas diving..hahaha. Satu hal yang saya suka pas nyelem adalah : di dalem sana itu berasa tenaaangg banget..hening..berasa keciiiill banget sebagai makhluk Allah, dan bisa bikin kita “ngeliat” sesuatu yang beda.  Kamu sudah pernah nyelam di laut? kalo belum, coba deh..ntar kalo sudah pernah dan ketagihan, pasti bersyukur karena kita dilahirkan di Indonesia, jadi mau liat tempat-tempat cantik, ga perlu pake visa ;).

Happy diving!