Resolusi 2014

Yuhuuu,

sudah tahun baru lagi niiihhh..udah lewat sebulan malah ya..hehehe..baru sempet update blog karena sebulan ini pergi-pergi terus.  Cerita lengkapnya nanti akan ditulis di bagian lain yaaa..  Udah bikin resolusi tahun ini? kalo resolusi jalan-jalan tahun ini? Saya sudah 🙂

Untuk resolusi kehidupan *tsaaah* ga perlu saya share di sini lah yaa..kalo untuk resolusi jalan-jalan, cuma ada dua..hehehehe. Taun ini saya pingin banget ke Raja Ampat dan Turki.  Bismillaaaah, semoga bisa kesampean semuaaa.

Apapun resolusi kita tahun ini, semoga semuanya bisa tercapai, atau paling ngga, selangkah lebih maju yah.  Semangaaaatttt!!

 

Belitung (3) – Pantai Tanjung Tinggi

Hari ketiga di Belitung, saya berkunjung ke Pantai Tanjung Tinggi atau yang dikenal juga sebagai Pantai Laskar Pelangi.  Tadinya saya berencana untuk menghabiskan wkatu setengah hari saja di sini dan setengah harinya saya ingin melihat rumah adat Belitung dan Rumah Tuan Kuase, yaitu rumah tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Tanjung Pandan.  Ternyata, rencana tinggal rencana..heheh..saya betaaahhh di Pantai Tanjung Tinggi ini.  Gimana ngga, saya nemu spot yang enak banget buat kerja..nih, kerja di tempat kayak gini, bikin kreatifitas menjadi tidak berbatas 🙂

sayang yaaa batunya pad dicoretin :(
sayang yaaa batunya pada dicoretin 🙁
airnya tenaaang banget!
airnya tenaaang banget!

Setengah hari saya habiskan dengan menulis dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.  Dan percaya ga, kerjaan yang selama berminggu-minggu ga kelar-kelar, di sini saya cuma butuh waktu setengah hari buat nyelesaiin.   hehehe..lokasi menentukan prestasi *alasan* Selesai kerja, karena cuacanya mendung dan sepertinya akan turun hujan, saya mengajak driver saya untuk mencari makan siang.  Kebetulan waktunya juga sudah pas.  Saya diajak ke rumah makan yang menjual seafood yang ternyata adalah masih berhubungan keluarga dengan driver saya.  Saya memesan ikan bakar (yang ternyata gede banget), sayur kangkung, dan es kelapa muda.  Makan berdua di sini menghabiskan uang Rp 97.000,- dan ikannya masih sisa banyak banget yang akhirnya saya bungkus untuk makan malam.

Selesai makan, karena cuaca yang tidak terlalu panas habis hujan, saya memutuskan untuk berenang.  Sebagai informasi, pantai-pantai di Belitung ini ga ada ombaknya.  Jadi kita seperti berenang di kolam renang gedeeee banget gitu. Asik kan?  Begini nih :

siapa coba yang ga tergoda nyebur..
siapa coba yang ga tergoda nyebur..
adeeemmm
adeeemmm

Trus, karena makin sore suasana makin ramai, saya pun berjalan-jalan keliling pantai.  Dan nemu tempat sepiii yang enak banget buat berenang lagi.  Seperti punya pantai pribadiiii.

nemu spot iniiii..
nemu spot iniiii..
lagi-lagi mengundang untuk nyebur..
lagi-lagi mengundang untuk nyebur..
beniiiing..
beniiiing..

Sebenernya saya masih betah duduk-duduk di sini..tapi sayangnya driver saya sudah sms dan bilang kalo mau ngejer sunset, kita harus berangkat sekarang.  Saya pun beranjak dari tempat leye-leye saya dan menghampiri mobil untuk diantar ke Bukit Berahu, mengejar sunset.

Bukit Berahu ini ternyata merupakan sebuah penginapan dengan konsep bungalow yang semuanya menghadap ke laut.  Cukup nyaman sepertinya, sayang lokasinya terlalu jauh ke dalam dan sepi.  Tamu dari luar bisa masuk dan menikmati laut yang ada di depan penginapan.  Waktu saya ke sana, sudah ada beberapa orang yang siap dengan spot masing-masing untuk mengabadikan sunset.

sunset
sunset
Penginapan Bukit Berahu
Penginapan Bukit Berahu

Demikian cerita hari terakhir saya di Belitung.  Berikut ini saya berikan rekapan biaya yang besar-besar selama di Belitung yaaa..Harga ini updated September 2013 kemarin.

Hotel (1 kamar berdua)  =  Rp 200.000 semalam, termasuk breakfast

Sewa mobil                        = Rp 350.000 per hari termasuk sopir, belum termasuk bensin, bisa untuk 6 orang

Sewa perahu                      =  Rp 400.000 per hari, bisa untuk 10 orang

Semoga membantu 🙂

 

 

Mengenal Dunia Tanpa Batas

Seumur hidup saya, hampir tidak pernah saya iri dengan kehidupan orang lain dan apa yang orang lain miliki.  Saya percaya, semua orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang sama, dengan kesempatan untuk melihat dunia dan menikmati hidup yang sama sesuai dengan caranya masing-masing.  Tapi ternyata kepercayaan itu sedikit demi sedikit mulai saya pertanyakan.  Kenapa? Begini ceritanya..*tsaaahh.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengiyakan ajakan salah seorang teman saya untuk jalan-jalan ke London.  Gimana ga langsung iya, bagi penggemar Harry Potter dan Sherlock Holmes seperti saya, UK termasuk ke dalam negara impian yang sangat amat ingin saya datengin.

Sebagai WNI, tentunya langkah pertama yang harus kami siapkan adalah mengurus visa.  Semua dokumen saya siapkan hanya dalam waktu seminggu dan kami meminta bantuan teman saya yang bekerja di travel agent untuk mengurusi visa kami tsb. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, visa kami belum ada kabar.  Saya yang merasa tidak pernah bermasalah dalam mengurus visa, merasa tenang-tenang saja dan santai dalam menunggu keputusan apakah visa kami approved atau ngga.  Buat saya, visa approved ya berangkat..visa ga approved ya ga jadi..Sesederhana itu.  Berbeda dengan teman saya, teman saya ini pernah kuliah dan menghabiskan beberapa tahun hidupnya di London.  Tapi karena pernah punya pengalaman ditolak visanya oleh salah satu negara yang memang terkenal sulit mengeluarka visa (apalagi waktu itu bertepatan dengan bencana dunia), sehingga teman saya ini cukup ketar ketir dengan hasil keputusan visa kami.  Saya yang merasa kami tidak punya masalah dengan dokumen dll, ya berusaha menenangkan dan meyakinkan kalau Insya Allah visa tsb approved.

Setelah menunggu selama kurang lebih 1,5 bulan, akhirnya ada keputusan mengenai visa saya, dan ternyata visa saya ditolak.  Wah, lumayan lemes sih dengernya.  Tapi lagi-lagi, saya mikirnya sederhana aja.. visa ditolak, ya ga jadi berangkat dan bisa dicoba lagi lain kali di kesempatan yang lebih pas.  Ternyata, masalahnya tidak sesederhana itu.  Alasan penolakan visa saya adalah karena katanya akte lahir saya palsu, surat keterangan kerja saya palsu, tiket pesawat dan tanda booking hotel saya palsu.  Dan karena alasan dokumen palsu itulah, jika saya apply visa lagi, kemungkinan akan terus ditolak selama 10 tahun.  Dari situ saya mulai drop.  Saya yang tadinya berkeyakinan bahwa dunia ini bisa dinikmati tanpa batas, mulai merasa bahwa semua itu ternyata ada batasnya, even dreams.

Teman saya, yang ternyata visanya approved, mencoba menghibur saya.  Katanya, dunia ini masih banyak yang bisa dijelajahin.  Bener sih, Indonesia aja mungkin gakkan habis kalo mau saya explore satu-satu.  Tapi sebenernya bukan itu masalahnya.  Yang bikin saya drop adalah karena kejadian itu seperti menampar saya tentang banyak hal.  Apa aja? Beberapa yang bisa saya share disini adalah kita ga boleh buru-buru dalam mempersiapkan dokumen penting, harus dicek 1-1 dengan teliti dan disamakan dengan permintaan pihak kedutaan.  Kedua, kalo bisa kita urus segala sesuatunya sendiri, termasuk apply ke pihak kedutaan.  Karena nanti kalo ditolak dan dapet kejadian seperti saya, toh kita yang akan menanggung, bukan pihak travel agent atau pihak lain.

Saya sempet iri dengan seorang kenalan yang merupakan anak dari salah satu menteri.  Saya lihat foto-fotonya, bulan ini bisa keliling Eropa, dua bulan lagi sudah ada di New York.  Bahkan di hari ulangtahunnya aja, dia bisa ke London mengunjungi pacarnya, meskipun hanya memanfaatkan long wekeend.   Tapi trus saya mikir, mungkin kalo saya jadi dia, saya ga akan terlalu menikmati perjalanan saya karena saking mudah dan seringnya saya pergi jalan-jalan.  Jadi saya sekarang aja suka merasa “dipaksa” cepet move on kok dari satu trip ke trip lain, karena baru kelar trip ini, udah harus nyusun itinerary trip berikutnya..lebih ke urusan nyusun budget sih..hehehe..Sesuatu yang kita dapet dengan perjuangan itu Insha Allah akan lebih berasa artinya kan yah 🙂

Sejak itu, saya agak trauma untuk jalan-jalan, kemanapun itu.  Tapi trus saya sadar, Allah menciptakan dunia ini ga cuma sebatas UK, dan kejadian itu bukan tanpa alasan.  Hikmahnya pasti ada.  Salah satunya, saya jadi lebih fokus jalan-jalan ke daerah-daerah Indonesia yang sangat worth it untuk dikunjungi.  Sekarang saya sudah bisa menuliskan cerita ini dengan senyum dan hati yang lapang (tsaaah).  Tujuan saya menulis ini supaya siapa aja yang sedang berencana untuk apply visa, bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya.  Dan tentunya, supaya kamu, yang merasa pernah punya mimpi dan ternyata drop, bisa bangkit lagi dan mengambil hikmahnya ya 😉

Terimakasih sudah membaca dan sampai ketemu di tulisan berikutnyaaaa..

 

 

 

Belitung (2) – Island Hopping

Hari kedua adalah hari yang saya tunggu-tunggu selama di Belitung.  Gimana ngga, hari ini saya akan island-hopping ke pulau-pulau yang ada di Belitung, termasuk Pulau Lengkuas tempat mercusuar dengan pemandangan dari atas yang indah banget ituuuu.  ihiiiy.  Saya sudah menyewa kapal sehari sebelumnya dengan harga 400 ribu per kapal (bisa memuat 10 orang per kapal) dan tidak dibatasi waktunya berapa lama.

Tepat jam 9 pagi, saya sudah berada di Pelabuhan Tanjung Kelayang untuk naik kapal.  Oiya, jangan lupa untuk membeli makan siang atau perbekalan untuk di perjalanan karena di pulau-pulau yang akan didatangi tidak ada penjual makanan.

pelabuhan Tanjung Kelayang
di pelabuhan
wihiiiyyy
wihiiiyyy

1.  Pulau Pasir

Pulau pasir ini adalah seonggok pasir yang warnanya putiiiihhh banget, yang hanya ada di pagi hari.  Sore hari, ketika air laut sudah mulai pasang, pulai ini akan terendam air dan tidak terlihat lagi.  Begini nih :

bintang laut yang ada di Pulau Pasir
bintang laut yang ada di Pulau Pasir
Pulau Pasir
Pulau Pasir

2.Pulau Burung

Setelah puas berfoto di Pulau Pasir, saya pun menuju pemberhentian selanjutnya.  Pulau Burung.  Kenapa disebut Pulau Burung? karena di pulau itu ada batu yang berbentuk burung.  Driver saya pun bercerita dengan bangga bahwa pulau tsb pernah masuk acara On The Spot sebagai salah satu pulau paling unik di dunia..hehehe.

batu berbentuk burung
batu berbentuk burung
bikin seger mata ya
bikin seger mata ya

Saya menghabiskan waktu cukup lama di Pulau Burung ini karena nemu spot enak buat baca buku. Di situ ada sebuah dermaga ga terpakai yang adem dengan view langsung ke laut.  Wiiih, pas banget deh buat baca.  Berbekal kacang dan lagu-lagu di Ipod, selesai deh satu buku langsung hari itu juga..hihihih.  Gimana ngga langsung abis sebuku, gini nih view nya :

dermaga ga kepake buat ngadeem
dermaga ga kepake buat ngadeem

Saya kembali ke kapal karena driver saya sudah sms dan mengingatkan bahwa kita harus berangkat ke Pulau Lengkuas sebelum ombaknya membesar.  hihihihi ternyata saya lupa waktu, alhasil perjalanan ke Pulau Lengkuas pun penuh dilalui dengan ombak yang menghadang *tsaaaahhh.  Saya sampai harus pegangan kuat-kuat biar ga kelempar.  Kata Bapak kapal, itu ombaknya belum seberapa..pernah ada yang sampe 5 meter, dan penumpang tetep kekeuh untuk jalan terus.  Baiklaaahhh.

3.  Pulau Lengkuas

Ternyata, pengunjung Pulau Lengkuas jauh lebih banyak dibanding pulau-pulau sebelumnya yang saya datangi. Ga heran, di pulau ini ada spot snorkeling dengan air yang beniiiing banget, banyak tempat duduk-duduk, dan ada penjual minuman jugaa.  Tanpa buang waktu, saya pun bergegas memasuki mercu suar dan naik ke atas.  Di pintu masuk, terdapat kotak tempat pengunjung memasukkan uang Rp 5 ribu sebagai biaya kebersihan.

Baiklah, perjuangan naik ke mercu suar setinggi 60 meter, dimulai.

mercusuar di Pulau Lengkuas
mercusuar di Pulau Lengkuas
ada 18 tangga kayak gini, dan ini yang ke-10 hosh hosh
ada 18 tangga kayak gini, dan ini yang ke-10 hosh hosh
pemberhentian di tiap tangga
pemberhentian di tiap tangga

Ngos-ngosan, tapi begitu melihat pemandangan dari atas sini, capeknya sih masiiih, tapi langsung lupaaaa..gile keren banget!

enjooooyy!
enjooooyy!

2013-09-17 12.45.28 2013-09-17 12.47.24 2013-09-17 12.51.492013-09-17 14.29.08 2013-09-17 14.36.51

Selesai melepas lelah, menikmati pemandangan, dang ngobrol dengan pengunjung lain di atas mercusuar, saya pun turun lagi dan mencari tempat yang enak untuk menikmati santap siang.  Hari itu, saya menikmati nasi bungkus isi sambel telor dan tumis labu dengan view makan siang paling indah yang pernah saya alami.

menu makan siangnya sih biasa..
menu makan siangnya sih biasa..
view nya yang luar biasaaaa..
view nya yang luar biasaaaa..

2013-09-17 13.31.00

Saya juga menghabiskan waktu cukup lama disini.  Bukan, bukan karena baca buku. Tapi karena ketiduran di atas batu dan baru sadar ketika air laut sudah mencapai kaki saya. hihihihi.  Saya pun bergegas menghampiri kapal saya yang tinggal satu-satunya di pulau itu dan menuju ke pulau lain.  Teluk Labu namanya.

4.  Teluk Labu

Konon katanya, sebenernya pulau ini tidak termasuk ke dalam paket Island-Hopping yang biasa dilakukan oleh wisatawan.  Namun hari itu, saya dikasih bonus.  hehehe..saya diajak ke Pulau yang belum terjamah dan jarang didatangi orang.  Eh tapi pas kesana ternyata saya ga sendirian, ada pasangan yang sepertinya sedang bulan madu sedang berenang di pulau tersebut.  Airnya ituuu, beuuuuuh, memang mengundang untuk nyebur banget sih.  Tapi saya memilih untuk duduk-duduk aja sambil foto-foto.  Bingung ntar ganti bajunya dimana sih..hehehhe

2013-09-17 15.03.06 2013-09-17 15.05.09

5.  Pulau Kepayang

Pulau Kepayang adalah pulau yang paling “hidup” menurut saya.  Di sini terdapat tempat makan dan penginapan serta penangkaran penyu.  Katanya, pulau ini juga bagus untuk melihat sunset.  Sayangnya waktu itu agak mendung, jadi saya pikir ga perlu nunggu sunset disitu. heheh.. Saya hanya menikmati sebuah kelapa muda dan langsung pulang ke Pulau Kelayang untuk kembali ke penginapan.

2013-09-17 15.52.05 2013-09-17 15.58.37

Demikian perjalanan island-hopping saya hari ini.  Saya pulang ke penginapan dalam keadaan capek, belang, tapi seneeeengg banget.  Mata saya abis dimanjakan oleh warna hijau biru nya laut Belitung.  Ihiiiiy.

Oiya, untuk informasi sewa kapal bisa hubungi Bang Yus di no HP 0819.9591845 yaaa..

Belitung (1) – Laskar Pelangi

Promo Citilink seharga 55ribu one way beberapa bulan yang lalu, akhirnya sukses mengantarkan saya ke negeri Laskar Pelangi ini.  Iya, tiket PP Jakarta – Tanjung Pandan – Jakarta saya beli “hanya” dengan harga Rp 110ribu saja. Asik kan? Ga tanggung-tanggung, saya akan berpetulang di Belitung selama 5 hari 4 malam.  4 hari ding, karena flight saya kembali ke Jakarta di hari kelima berangkat jam 7 pagi.

Pada hari Senin, 16 September 2013 jam 3.30, berangkatlah saya menuju bandara menggunakan taksi bertarif bawah.  Ternyata, walopun sudah bertarif bawah, tetep aja biaya taksi dari rumah saya ke bandara lebih mahal dibandingkan harga tiket PP saya ke Tanjung Pandan..hihihi :D.  Alhamdulillah, jalanan masih lengang, sehingga perjalanan hanya ditempuh selama 45 menit saja.  Proses check in tidak memakan waktu lama, dan tepat pukul 05.55 pesawat saya pun bertolak menuju Tanjung Pandan.  Soooo excited!

Satu jam kemudian, mendaratlah saya di Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.  Mobil sewaan saya beserta drivernya (Mas Teguh) sudah stand by menjemput dan siap mengantar saya berkeliling Belitung.  Ketika bertemu pertama kali, Mas Teguh agak kaget karena saya sendiri dan orang Indonesia..heheheh..Katanya, dari nama saya, dia tadinya ngira saya orang India. wkwkwkk..India dari Hongkong nih kayaknya.

Tujuan pertama saya adalah makan mie khas Belitung dong.  Saya pun langsung dibawa menuju Mie Atep, kios mie Belitung paling terkenal disana.  Ternyata memang bener, ketika saya sampai, banyak banget bis-bis yang mengantar tamu makan di sana.  Saya sampe ga kebagian tempat duduk.  Sedikit tips, ternyata memang rute pertama para wisatawan setelah mendarat di Belitung adalah Mie Atep in.  Sehingga kalau memang jadwal kamu fleksibel, bisa menyantap mie ini pada siang atau sore hari, di waktu yang tidak terlalu ramai.  Oh, jangan lupa juga untuk mencicipi es jeruk sebagai minumannya. Perpaduan yang sempurna! :p

Begini nih penampakan mie Belitung yang terkenal enak itu :

2013-09-16 08.09.15

Setelah kenyang, perjalanan pun saya lanjutkan ke daerah Gantong dan Manggar. Iyaaaa, daerahnya Laskar Pelangi. hehehe..Perjalanan yang ditempuh selama 1,5 jam itu saya manfaatkan untuk tidur di mobil.  Lumayan, secara malem sebelumnya jam tidur saya sangat kurang karena harus packing dan menggunakan flight paling pagi.

Saya terbangun ketika merasa bahwa mobil sudah melakukan manuver-manuver untuk parkir *tsaaahh.  Ketika membuka mata, tampaklah bangunanan tempat Ikal, Mahar, Lintang, dkk menimba ilmu, SD Muhammadiyah Gantong.  Saya pun bergegas turun dan sedikit berlari menaiki bukit pasir untuk masuk ke dalam sekolah tsb.  Begini nih kondisinya :

SD Laskar Pelangi
SD Laskar Pelangi
2013-09-16 09.51.12
Suasana dalam kelas

Setelah puas foto-foto, saya menuju ke tempat selanjutnya, yaitu Museum Kata Andrea Hirata, yang letaknya tidak jauh dari SD Laskar Pelangi. Bangunan yang berisi foto-foto dan cuplikan cerpen dan novel karya Andrea Hirata ini tampak nyaman dengan dekorasi yang keren banget menurut saya.  Di pintu masuk, ada kotak untuk memasukkan uang dari para pengunjung untuk biaya kebersihan museum.  Buat yang suka baca, pasti betah berlama-lama di tempat ini. Begini nih suasananya :

suasana dalam museum
suasana dalam museum
museum tampak depan
museum tampak depan

2013-09-16 10.07.24 2013-09-16 10.09.22 2013-09-16 10.09.58 2013-09-16 10.41.01

asik baca :p
asik baca :p

Kita juga bisa menikmati kopi khas Belitung yang dijual di dalam museum.  Asik deh jualannya, masih pake arang dan panci tradisional gitu. Beda sama coffee shop yang ada di kota, tapi suasana nyamannya sama.  “Coffee Shop” di museum ini dinamakan Kupi Kuli.  Saya yang ga kuat sama kopi hitam tp penasaran buat nyoba akhirnya memesan segelas kopi susu. Dan rasanya enak deh, ga bikin deg-degan..hehehe..apalagi pas bayar, sama sekali ga deg-degan karena harga segelas kop dan sebotol air mineral di sini Rp 10 ribu saja 😀

Kupi Kuli
Kupi Kuli
view ngopi di halaman belakang
view ngopi di halaman belakang

Ternyata, pada hari itu saya sedang beruntung karena kebetulan sekali Andrea Hirata sedang ada kunjungan ke museum tersebut.  Jadi, saya sempet ngobrol dengan beliau, foto bersama, dan dapet tandatangan di kaos yang saya beli di museum.  hehehhe..ternyata orangnya baik, ramah, dan rendah hati lho.  Saya sempet dikenalin juga sama Mba Meda, penyanyi yang mengisi soundtrack Laskar Pelangi The Series beserta tim-nya.  Waaah, hari yang menyenangkan dan pengalaman seru buat saya.

hehehehehe
wihiiiiiyy!!

Setelah foto bareng, saya pun berpamitan untuk menuju Manggar, daerah yang dikenal dengan daerah 1001 warung kopi.  Belum lengkap ke Manggar kalo ga nyobain kopinya dong..jadi saya ngopi lagiii..heheheh..

kopi Manggar
kopi Manggar

Saya juga nyobain makanan khas Belitung yang lain, yaitu Gangan. Gangan ini isinya potongan ikan yang dimasak dengan nanas dan berkuah kuning.  Rasanya campuran antara pedas, asem, dan gurih.

view dari tempat makan siang
tempat makan siang
gangan ikan
gangan ikan

Pemberhentian terakhir adalah Vihara Dewi Kwan Im yang terletak di dekat Pantai Burung Mandi.  Saya sampai di sana tepat ketika Vihara tersebut mau tutup, sehingga sudah tidak ada pengnjung lain yang datang.  Bapak yang menjaga, namanya Koh Akhun, ternyata katanya bisa ngeramal lho.  Katanya sih, salah satu daya tarik pengunjung untuk datang ke Vihara ini yaaa karena pingin diramal Koh Akhun ini.  Vihara-nya bersih dan sangat terawat lho. Dari sini bisa kelihatan pemandangan Pantai Burung Mandi yang berada tepat di bawahnya.

Vihara Dewi Kwan Im
Vihara Dewi Kwan Im
Koh Akhun :D
Koh Akhun 😀

Vihara ini merupakan tujuan terakhir saya di hari pertama saya tiba di Belitung.  Wiiihh, ga kerasa lho kalo saya baru paginya tiba di kota ini karena berasa jadwalnya efektif banget.  Saya pun kembali ke penginapan saya, Hotel Bunga Pantai yang ada di kota Tanjung Pandan.  Oiya, sedikit cerita..Saya melakukan reservasi di hotel ini malam sebelumnya, sehingga agar cepat mendapatkan konfirmasi dan biasanya dapat harga lebih murah, saya melakukan reservasi lewat web Ag*d*.  Ternyata, ketika saya tiba di hotel dan melihat rate kamarnya, lebih murah pesan langsung di hotel.  hehehe, pelajaran buat saya untuk melakukan cek ulang ke hotelnya langsung agar harganya bisa dibandingkan.

Penginapan Bunga Pantai menyediakan 10 kamar dengan tipe kamar paling murah seharga 200ribu semalam tidak termasuk sarapan pagi.  Kamarnya besar, bersih, ada WIFI dan disediakan galon kecil berisi air mineral di setiap kamar.  Ini foto kamarnya:

hotel Bunga Pantai
hotel Bunga Pantai

Untuk pemesanan kamar di Bunga Pantai, bisa langsung menghubungi Ibu Yemi sebagai pemilik penginapan di no HP 0819.29552104.

Perjalanan hari kedua di Belitung akan diceritakan di bagian dua yaaa..

Soul Trip lagiiii..

Bulan Mei lalu, saya kembali berkesempatan mengulang apa yang telah saya lakukan taun lalu.. Jalan-jalan ke Kamboja, Vietnam, dan Bangkok.  Tapi kali ini saya ga sendirian dan rute nya pun kebalik.  Jadi saya terbang ke Bangkok dulu, trus lanjut lewat darat ke Siem Reap ngeteng naik bis, lanjut naik bis malem ke Phnom Penh, jalan-jalan bentar, dan lanjut lagi ke Ho Chi Minh lalu balik ke Jakarta dengan menginap semalam di bandara KLIA.

Walaupun kota-kotanya mengulang, tapi ternyata kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru di setiap perjalanan yang kita lakukan *tsaaaahh.  Perjalanan kali ini lebih tepat disebut berpetualang.  Gimana ngga, perjalanan ke tiga negara tersebut kami lakukan hanya dengan waktu seminggu dengan budget kurang dari 8 juta rupiah berdua, sudah termasuk tiket pesawat.

Kali ini saya mau menceritakan hal-hal baru buat saya, yang belum pernah saya lakukan di perjalanan sebelumnya ya.

1.  Bangkok – pertama kali mendarat di Don Mueang Airport

Pertama kalinya saya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok.  Bandaranya sih ga sebesar Suvarnabhumi ya, tapi lebih deket ke pusat kota.  Kami menuju terminal Mo Chit dengan menggunakan bis nomer 510.  Tidak sulit untuk menemukan bis ini, karena tempat pemberhentiannya tepat setelah pintu keluar bandara. Ihiiiiyy.  Oiya, karena sebelumnya kami mendapat informasi bahwa ongkosnya 30 baht, maka kami pun mulai rempong jajan ini itu di bandara biar dapet kembalian uang kecil.  Ternyataaa..penumpang lain dengan santainya membayar ongkos bis dengan selembar 1000-an baht aja dong..dan kondektur dengan santai memberikan kembaliannya..hiyaaahhh *kunyahjajanandibandara*.

Dari Mo Chit, kami melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menggunakan BTS ke Saphan Taksin.  Hotel kami, Bangkok City Hotel, terletak sekitar 5 menit berjalan kaki dari BTS tersebut.  Merupakan hotel baru dengan lokasi strategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan.  Kamarnya bersiiihh, luaaasss, dengan harga sekitar 400ribu per malam. Sayangnya saya lupa foto kamarnya seperti apa..huhuhuhuhu..

2.  Bangkok – Siem Reap ngeteng naik bis

Kali ini, saya mencoba ngeteng naik bis dari Bangkok ke Siem Reap. Begini rutenya : dari terminal Mo Chit ke Aranyaprathet (perbatasan Bangkok), naik bis jam 3 pagi, dilanjutkan dengan bis ke Siem Reap.  Katanya sih begini lebih cepet dibandingkan naik bis langsung dari Bangkok ke Siem Reap yang memakan waktu 12 jam.

Perjalanan lancar sampai di Aranyapratet.  Kami langsung menuju imigrasi yang tampak masih sepi dan tanpa antrian.  Berbeda sekali dengan ketika saya pertama kali kesini, antri imigrasinya memakan waktu hampir 2 jam.  Setelah paspor dicap keluar, kami berjalan kaki ke Poi Pet, border negara Cambodia.  Di sini pun tidak ada halangan yang berarti, sampai kami keluar imigrasi.  Tidak jauh dari pintu keluar imigrasi, terdapat bis dengan tulisan free shuttle bus.  Tadinya kami ragu-ragu untuk naik ke bis tersebut, apalagi ada beberapa orang mencurigakan yg terkesan memaksa kami untuk naik.  Setelah menunggu beberapa lama dan melihat ada dua orang turis yang juga naik ke bis tsb, maka kami pun ikut naik, dan bis pun berangkat.  Teman saya yang curiga bahwa ini penipuan, meminta saya browsing tentang bis ini dan kami menemukan banyak sekali informasi.  Katanya, nanti kami akan dibawa ke travel agent yang mematok harga tiket jauh lebih mahal dibanding semestinya dan seolah-olah kami tidak ada pilihan lain.  Ya iyalah, karena ternyata letak travel agent tsb jauuuuhhh dari mana-mana di tempat yang terpencil. hadeuuuhhh..

Kami pun kekeuh ga mau pake bis atau taksi dari travel agent tsb dan mau balik lagi aja ke border tempat tadi.  Kami pun keluar sambil bingung naik apa.  Kalo kamu pernah nonton film yang pemerannya berdiri di pinggir jalan ngacungin jempol mau nebeng sama mobil lewat, nah waktu itu saya udah mikir gitu tuh.  Secara ga ada bis lewat sama sekaliii..huhuhu..  di tengah kebingungan dan panas matahari, salah satu supir taksi dari travel agent tadi mengikuti sambil tetep nawarin untuk pake dia ke Siem Reap.  Tawar menawar pun terjadi. dan akhirnya kami berhasil naik dengan biaya yang ga beda jauh dengan harga resmi.  fiuuuhh..

Saking stressnya, jadi ga sempet foto-foto..hehehehe..

 

3.  Siem Reap – pertama kali liat sunrise

Tahun lalu, saya ga sempet menyaksikan sunrise di Angkor Wat karena ga sempet.  Tapi kali ini, berhasil dooong.  Tanpa mandi dan sarapan, kami sudah berada di tuk tuk yang akan mengantar kami melihat sunrise.  Ternyata udah banyak banget turis yang juga menuju kesana, padahal hari masih gelap.  Walaupun mataharinya ga bulet karena ketutup awan, tapi bayangan candi yang memantul di danau bawahnya itu tetep menyejukkan mata.  Begini nih penampakannya :

IMG_6712

Setelah menyaksikan sunrise, kami pun beranjak kembali ke hotel untuk sarapan, tidur sejenak dan kembali lagi untuk mulai keliling temple lain di Angkor Wat.

4.  Bis malam dari Siem Reap ke Phnom Penh

Pertama kalinya naik bis malem, hihihi.  Naik kereta malem sih sering, tapi kayaknya kalo naik bis malem butuh keberanian khusus deh.  Kami memilih naik bis malam di perjalanan dari Siem Reap ke Phnom Penh dengan alasan menghemat waktu dan biaya menginap.  Tiket bis sudah kami beli di travel agent di sekitar Pub Street dengah harga 9USD.  Pas masuk ke bis, jeeeng jeeengg..begini penampakannya :

bis malemsuasana di dalam bis

Kalo kamu berencana naik bis malem, lebih enak pilih yang di bagian atas.  Kalo di bagian bawah sepertinya pengap dan kebayang kan kalo lg enak-enak tidur eh ada kaki ngegantung di atas kita. hehehe.. oiya, bis kami sempet mogok pulak sekitar 2 jam di daerah sepi gitu..huhuhuhu..

5.  Ho Chi Minh – city tour jalan kaki

Beberapa kali mengunjungi Ho Chi Minh, baru kemarin saya tau kalo ternyata jalan-jalan di kota bisa dilakukan dengan berjalan kaki karena tempat wisatanya terletak berdekatan.  Bahkan, di Lonely Planet yang kami baca di hostel tempat kami menginap, ada satu lembar peta rute perjalanan city tour yang bisa dilakukan dengan berjalan kaki.  Rute awalnya mulai dari Pham Ngu Lao Street (kawasan backpacker di Ho Chi Minh), dan kebetulan merupakan tempat kami menginap.  Estimasi lamanya perjalanan ini sekitar 6 jam, tergantung seberapa cepet kamu jalan dan seberapa sering istirahat..heheheheh.

Tempat wisata yang ada di rute ini (yang saya ingat), antara lain adalah :  War Museum, Reunification Palace, Notredamme Cathedral, Post Office (sebrang Cathedral), dan Ben Thanh Market.  Di jalan pulang ke hotel, kami melewati mall gede banget yang baguuuss banget bangunannya. Tapi saya lupa nama mall nya apa.

IMG_6853dalemnya kantor pos

Oiya, salah satu yang saya inget di perjalanan ini banyak banget nemu tukang jualan enak-enak.  Ada tukang rujak jambu air yang jambunya itu manis dan banyak banget airnya, sampe tukang jualan kopi Vietnam yang kalo di Jakarta harga segelasnya bisa 20ribuan.  Di sana, harga segelas es kopi Vietnam yang seger banget itu cuma 10ribu VND atau 5ribu rupiah sajah *mabuk2ankopi*

Truuus, saya baru tau juga kalo ternyata terminal bis yang menuju bandara Tan Son Nhat letaknya deket banget sama daerah Pham Ngu Lao. Tepatnya di sebrang Ben Thanh market.  Selama ini, kalo ke Ho Chi Minh ya dari/ke bandaranya naik taksi.  Kali ini saya coba naik bis.  Ongkosnya? 5ribu VND atau 2500 rupiah saja. hhahhahaha..gile ih puas rasanya.  Bis nya pun ok, ber AC dan berenti tepat di pintu keberangkatan bandara. ihiiiiyy!!

6.  Menginap di bandara KLIA

Nginep di bandara sih udah lumayan sering. Tapi kayaknya ini yang paling enak..hehehe..di tiap pojok bandara KLIA lantai 2, memang disediakan kursi-kursi yang bisa digunakan untuk tidur.  Wiiihhh asik bangeett..waktu itu saya bener-bener tidur pules kayak tidur di kamar hotel.  Ternyata, bandara ini termasuk ke dalam 10 bandara paling asik buat dijadikan tempat menginap.  hihihi..

tempat tidur

Begitu cerita petualangan saya. hehehe..bener-bener berkesan karena bisa banyaaak hal-hal baru yg saya alamin walopun perjalanannya termasuk mengulang. Semoga bisa ikut merasakan excitement yg saya rasain ketika melakukan perjalanan ini yaaa..

It takes courage to try something new..

Mungkin kalimat itu lah yang paling cocok mewakili pengalaman saya pertama kali diving.  hihihi..iya, buat seorang cewek yang panikan, belum pernah berenang di laut dan kadang masi suka keselek kalo ngambil nafas pas berenang, diving jd kegiatan yang agak nekad buat dilakukan.

Ajakan diving ini berasal dari teman saya yang merupakan teman seperjalanan saya ke Wakatobi.  Teman saya ini, merupakan diver yang sudah berlicense cukup tinggi (kalo ga salah, license diving ada level-levelnya yaaa)..hehehe..jadi, buat dia diving di Wakatobi itu wajib hukumnya.  Saya? saya sih cuma pingin leye-leye ajaa sambil liat gradasi warna air laut hijau, biru muda dan biru tua, udah cukup.  Tapiiii, bukan temen saya namanya kalo ga manas-manasin saya untuk ikut nyelam juga.  Katanya, Wakatobi merupakan surga bawah laut yang jadi impian banyak orang..sayang kalo saya ga nyelam.  Lagipula, kapan lagi ke Wakatobi kan?  Karena waktu itu darah saya masih darah muda *tsaaah*, sayapun panas dan memutuskan untuk ikut nyelam.  Hihihi..Kami berdua mendatangi dive centre di Patuno Resort, tempat kami menginap, dan menanyakan informasi mengenai diving.  Kebetulan waktu itu lagi sepi pengunjung karena memang bukan musim liburan.

Setelah tanya-tanya, kami pun mulai bersiap-siap dengan menggunakan wet suit dan memilih pelampung dan kaki katak yang sesuai ukuran.  Ternyata, orang yang ga bisa berenang sama sekali pun boleh ikut menyelam kok, jadi saya agak tenang.  Karena saya belum mempunyai license, maka saya diwajibkan untuk latihan dulu di laut yang tidak terlalu dalam.   Saya diajarin cara bernafas dengan menggunakan selang oksigen yang terhubung dengan tabung, bahasa-bahasa isyarat di dalam laut, dan tips kalo hidung dan telinga saya sakit karena perbedaan tekanan di dalam laut.  Oh, ada kejadian lucu ketika saya berjalan dari kantor dive centre menuju laut.  Karena sudah pakai tabung oksigen dan pemberat di pinggang, saya pun susah jalan, sempoyongan dan jatuh beberapa kali.  saya pun membatin dalam hati, ini belum seberat cobaan hidup, jadi saya harus bisa bangun lagi *halah apa sih* hahaha.  Tapi karena saya sudah ketinggalan jauh dari dive master saya, beliau pun balik lagi dan menggeret saya ke tengah laut..saya pasrah aja deh.hahahha..doi kesel kayaknya karena saya jatuh mulu dan susah banget buat bangun lagi.

IMG_0137

Setelah mendengarkan pengarahan, saya diajak makin ke tengah laut. Teman saya yang berlicense ituh, maunya pisah spot diving-nya sama saya, karena menurut dia, sebagai pemula saya cuma boleh nyelam sampai maksimal di kedalaman 18m di medan yang tidak banyak batu karang dan tidak berombak besar.  Teman saya ga mau bareng karena dia pingin nyelam lebih dalam lagi di spot yang lebih menantang.  hih! sombongnyah.  Bukan apa-apa, jadi kan ga ada yang motoin saya di dalem air..hehehhe..

Sebelum menyelam beneran, Dive Master (DM) saya meminta saya untuk memasukka kepala ke air dan merasakan apakah kacamata saya sudah pas sehingga tidak ada air yang masuk ke mata dan mencoba cara saya bernafas di dalam air.  Terus terang saya jiper ngeliat sekeliling saya aiiirrr semuaaa..ga ada tepinya. tapiii, saya bener-bener mikir, kalo ga sekarang, kapan lagi saya coba diving.  Akhirnya, setelah semua dirasa ok, sedikit demi sedikit DM saya mengempeskan baju pelampung agar saya tenggelam. Ya Allah, saya bener-bener tenggelem.  Sama seperti kalo turun tangga curam saya ga mau liat ke bawah, kali ini saya ga mau liat ke atas.  Sayapun mulai mencoba bernafas seperti biasa dengan menggunakan selang oksigen.  Ga sampe 10 menit, tiba-tiba saya sadar bahwa saya sekarang ada di bawah air.  Suasana di bawah sana makin lama makin hening, gelap, ikan-ikan berenang hilir mudik, dan saya mulai kedinginan. OMG, saya pun panik dan memberikan isyarat ke DM saya untuk naik ke permukaan.  Saya takuuttt..huhuhuhu.. di permukaan, DM bilang ke saya “kenapaa minta naik”, saya bilang saya takut. hehehe..untungnya doi bisa ngerti dan nanya ke saya, apakah saya mau nyelam lagi, sayang katanya, tadi baru 8m.  saya pun bertekad untuk menyelam lagi. Ketika menyelam ini, DM saya beberapa kali mengempeskan pelampung saya agar saya bisa lebih ke dalam laut.  saya pun mulai menikmati.  Aneka makhlut bawah laut mulai terlihat bewarna warni dan lucu-lucu.  Lama-lama, saya mulai merasa tenang dengan melihat semua pemandangan itu, sampe saya ga sadar kalo saya lg di bawah laut, bukan di Sea World..hehehe..Akhirnya, DM memberi isyarat bahwa kami harus naik ke permukaan.  kami naik, dan katanya tadi saya menyelam sekitar 12m.  wow..ga berasaaaa…

Besoknya, kami diving lagi di 2 spot di Tomia.  Kali ini udah lumayan lah, ga panikan dan sudah bisa mengatur nafas kayak bernafas di udara biasa.  Kali ini, saya bisa sampe kedalaman hampir 18m lho. Satu yang saya masih takut adalah pas terjun dari kapal ke laut yang pake balik badan itu..huhuhu..tapi, rasa takut memang harus dilawan, karena ternyata kalo kita lakuin, ga seserem bayangan kita kok 🙂

IMG_0496IMG_0457

Sejak saat itu, saya jadi pingin diving lagi dan lagi.  ngambil license sih sepertinya saya masih takut..hehehe..takut kalo udah ada license, ntar saya ga ditemenin lagi pas diving..hahaha. Satu hal yang saya suka pas nyelem adalah : di dalem sana itu berasa tenaaangg banget..hening..berasa keciiiill banget sebagai makhluk Allah, dan bisa bikin kita “ngeliat” sesuatu yang beda.  Kamu sudah pernah nyelam di laut? kalo belum, coba deh..ntar kalo sudah pernah dan ketagihan, pasti bersyukur karena kita dilahirkan di Indonesia, jadi mau liat tempat-tempat cantik, ga perlu pake visa ;).

Happy diving!

 

 

 

Ho Chi Minh

Ho Chi Minh, kota dengan biaya hidup termurah yang pernah saya datengin.  Mungkin karena kursnya yang “hanya” setengah dari mata uang kita? hehe, iya, misalnya kita bawa uang sejuta rupiah, trus pas dituker sama Vietnam Dong dapetnya dua juta.  wihiiiy.  berasa jutawaaan.

Daerah backpacker di Ho Chi Minh terletak di daerah Bui Vien, dekat dengan Ben Than Market.  Di sini, banyak tersebar cafe, tempat makan, agen perjalanan dan hostel dengan tarif mulai dari 80ribu – 200ribu per malam.  Kalo lagi mati gaya malem-malem bingung di hostel mau ngapain, cukup jalan-jalan di sekitar situ, udah ok banget.  Di sini juga terdapat taman yang sering dipakai untuk latihan olahraga seperti sepak takraw gitu.  Tapi harus ati-ati kalo mau liat-liat di sepanjang taman ini, karena banyak yang pacaran dan suka melakukan “hal-hal aneh di tempat umum” hehehe.

Ada pengalaman menarik ketika saya dan teman-teman mendarat di bandara.  Kami dijemput oleh petugas dari hostel yang mengabarkan bahwa hostel yang kami booked, sudah tidak available lagi. Jadi kami akan dipindah ke hostel lain.  Errrhh.. waktu itu ga terima sih, karena kalo misalnya memang sudah tidak available, kenapa kami ga diinfo sebelumnya.  Padahal kami sudah confirm beberapa kali, baik itu tentang kamar maupun tentang penjemputan.  truuuss, ketika kami diantar ke hostel yang baru, wah makin ga terima deh.  Karena kondisi kamarnya sangat jauh dari hostel tempat seharusnya kami menginap.  Jadi kami bersikeras untuk tetap dapet kamar di hostel yang sudah kami pesan.  Setelah ribut dan kekeuh, akhirnya kami dipindah ke hostel lain yang kami pilih tapi hanya semalam.  Malam berikutnya, kami pindah lagi ke hostel yang kami pesan.  hffffttt..

kamar hostelfasilitas di kamarkamar mandi

Untung aja kejadian malam itu cukup terbayar ketika kami nongkrong di cafe Allezboo.  haha *gampangan*  Cafe ini terletak di pinggir jalan, pas di belokan, jadi bisa sambil ngeliat orang lalu lalang.  Dan harga makanan dan minumannya, untuk sebuah cafe bisa dibilang muraaah.  Cukup mengeluarkan uang sekitar 50ribu untuk satu gelas minuman dan makanan.  Di Jakarta ga dapet kan tuh :p

Allez Boo"view" dari AllezBoo :p
Puas melepas penat *halah*, kami pun kembali ke penginapan karena besok pagi-pagi mau ikut tour ke Mekong River.  Paket tour yang ditawarkan di Ho Chi Minh bisa dipilih di hostel tempat menginap.  Biasanya disitu sudah tersedia paket tour kemana saja lengkap dengan harga dan durasinya.  Waktu itu, saya dan teman-teman mengambil paket tour ke Chu Chi Tunnel dan Mekong River.

Mekong River

Di tour ini, kita akan diajak untuk menyusuri Mekong River dengan menggunakan perahu kecil berkapasitas 4 orang tidak termasuk 2 orang yang mengendalikan perahu.  Sepanjang sungai, kita akan melihat banyak pohon-pohon seperti pohon sagu di kiri kanan dan rumah-rumah penduduk.  Selesai menyusuri sungai, kita diajak untuk melihat pengolahan makanan dari kelapa.  saya dan temen-temen sih cukup nyobain testernya aja. lumayaaann.  Kita juga diajak untuk melihat penangkaran lebah madu dan minum hasilnya yang dicampur dalam teh.  Di tour ini juga disediakan makan siang, tapi buat yang muslim harus bertanya dulu sebelum menyantap ya, karena waktu itu menunya tidak halal.  Untung saya dan teman-teman selalu bawa abon kemana-mana.  Jadi masi bisa makan dan ga kelaperan deh.

buah di Ho Chi Minh, seger2 bangetcemilan kelapa

Tour Mekong Riverperahu untuk menyusuri Sungai Mekong

DSC03921 teh dengan madu hasil penangkaran

Chu Chi Tunnel

Hari berikutnya, kami mengambil paket tour Chu Chi Tunnel dengan durasi sekitar 6 jam.  Chu Chi Tunnel merupakan tempat bersejarah ketika Vietnam mengalami perang.  Konon katanya, tentara-tentara dan penduduk Vietnam mengungsi di dalam terowongan ini lho untuk melindungi diri.  Saya sampe merinding ketika menonton video mengenai sejarah Vietnam yang diputar setelah kita masuk.  Lebih merinding lagi pas liat jenis-jenis senjata yang digunakan.  Wah, ga bisa dibayangkan deh perang dulu itu kayak gimana.

salah satu jebakan jebakan salah satu senjata

Chu Chi Tunnel salah satu lubang di Chu Chi Tunnel"pintu" keluar Chu Chi Tunnelpengunjung mencoba masuk ke tunnel

Saya sempet masuk ke terowongan di Chu Chi Tunnel ini, dalemnya pengap, sempit dan gelap.  ga kebayang ya tentara-tentara dan pengungsi Vietnam sempet tinggal disitu dalam waktu yang cukup lama.

Pada waktu yang ditentukan, kami kembali naik bis dan diantar kembali ke penginapan dan melanjutkan aktifitas dengan berbelanja di Ben Thanh Market, dekat dengan penginapan.  Barang-barang yang dijual sangat lengkap, mulai dari iket pinggang, baju, syal, sendal, sampe hiasan dinding dan piring2 makan, semua ada.  Harga barang yang ditawarkan tidak terlalu murah, namun kalo kita kekeuh nawar dan cukup nekad, dapetnya jadi muraaaahhh banget.

suasana menuju Ben Thanh Ben Thanh Market

Itu cerita saya tentang Ho Chi Minh, semoga bisa nambah semangat buat yang mau kesana ya 😀

Soul Trip – Siem Reap (2)

Hari kedua di siem Reap.  Rencananya hari ini saya mau ke floating village yang letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari tempat saya menginap.  Abang tuktuk sudah siap mengantar saya jam 9 pagi, dan dengan perbekalan air minum yang lebih banyak dari kemarin, berangkatlah saya membelah asap di kota Siem Reap *ciyeeh*.

Di perjalanan, kami melewati perkebunan lotus yang baguuusss banget.  Abang tuktuk menawarkan untuk berhenti sebentar dan mengambil foto di tempat tersebut, langsung deh saya setuju.  Ternyata, biji bunga lotus ini bisa dimakan lho dan rasanya kayak edamame cuma agak bergetah dikit.  hehehe.  tapi saya ga berani makan banyak-banyak karena waktu itu belum makan nasi (maklum, perut Indonesia).

Setelah puas berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan.  Abang tuktuk mengingatkan bahwa nanti petugas perahu akan mengajak saya ke sekolah untuk anak-anak tidak mampu dan menawarkan untuk memberikan sumbangan.  Kalo kita setuju, kita akan dibawa ke toko sembako yang harganya mahaaall banget.  Jadi, kalo nanti ditawarin, lebih baik menolak aja.  Baiklaaahhh.

Tiba di tempat tujuan, saya membeli tiket dan langsung menuju perahu yang akan membawa saya menyusuri sungai.  Saya sendiriaaan di perahu ituuu, ditemani dua orang yang mengemudikan.  Di perjalanan itu saya sih ga terlalu excited ya, karena hampir mirip dengan yang pernah saya ikuti di Ho Chi Minh.  Saya diajak ke tempat penangkaran buaya, trus ada toko-toko souvenir gitu, dan beneeerr, diajak untuk memberikan bantuan ke sebuah sekolah gitu.  Untung aja saya udah diberi info sebelumnya, jadi saya siap.. siap menolak.  hehehe..

Selesai dari floating village (jauh lebih bagus yang di Wakatobi), saya minta diantar ke penginapan untuk makan siang dan belanja oleh-oleh di pasar dekat situ.

jadwal bis floating village warga floating village floating village Siem Reap floating shop

Selesai berbelanja oleh-oleh, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan dan packiing.  Besok pagi-pagi saya harus berangkat ke Bangkok 🙂

 

Ronda-ronda di Ambon

Ini adalah perjalanan pertama saya di tahun 2013., sekaligus perjalanan terjauh saya di Indonesia.  Tiket sudah saya beli dengan promo early bird Garuda Indonesia, “cuma” Rp 1,4 juta PP.  Jauh lebih murah dibandingkan harga normal yang katanya segitu cuma untuk one way.  Ihiiiiyy.  Sering-sering cek ke situsnya ya untuk tau promo apa yang sedang berlangsung.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.  Hari Jumat malam tanggal 25 Januari 2013, saya berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta untuk lepas landas (ciyeeh) ke Ambon naik penerbangan tanggal 26 Januari pukul 00.40.  Karena abis ngurus kerjaan dulu sebelum berangkat, kesana sini ngurus ini itu, alhasil di pesawat pun saya langsung tidur pules.  Bahkan pas transit di Makassar pun saya tak kuasa untuk membuka mata saya.  Bangun-bangun, pesawat sudah terbang lagi dan lihat pemandangan kayak gini dari jendela saya.  Langsung deh ceprat cepret kamera dan rasa ngantuknya ilaaanggg.

SONY DSC

Hari Pertama

Mendarat di Ambon, saya sudah dijemput oleh teman saya yang kebetulan kerja disana.  Setelah diantar ke hotel, sayapun istirahat sebentar dan siap-siap keliling Ambon dengan diantar Pak Taju.  Pak Taju ini adalah orang yang akan mengantar saya kemana-mana, naik motor.  Hehehe..senagaja saya pilih keliling-keliling naik motor, karena lebih murah, dan yang lebih penting, bisa sambil moto-moto kalo ada pemandangan bagus di perjalanan.  Oiya, hari pertama ini saya menginap di Hotel Amaris, dengan harga 340ribu per malam.  Letaknya strategis di tengah kota dan di bawah ada KFC, lumayan kalo laper malem-malem. hehe.  Rencananya, hari ini saya akan ke Pintu Kota, Gong Perdamaian, melihat sunset di Karang Panjang, dan makan nasi kalapa di daerah Bukit Merah.

Pintu Kota bisa ditempuh dengan waktu 40 menit dari hotel saya dengan pemandangan sepanjang jalan seperti di bawah ini :

Perjalanan menuju Pintu Kotaawannyaaaa..

Sampai di Pintu Kota, kita harus membayar Rp 5000 per orang di gerbang masuknya.  Dan setelah menaiki tangga dan turun ke bebatuan, sampai deh saya di Pintu Kota, yang ternyata cuma seperti lubang di batu yang menyerupai pintu.  Tapi pemandangan sekitarnya, baguuuuss banget..

Gerbang Pintu KotaPintu Kotapemandangan dari atas

Setelah puas foto-foto, saya pun memutuskan untuk mampir ke pantai terdekat dari Pintu Kota, namanya Pantai Namalutu.  Di sini pun kita diharuskan membayar 2ribu per orang.  Pantainya sepiiii, banyak tempat duduk di pinggir, dan anginnya kenceng.  Mungkin karena anginnya yang kenceng itulah, makanya pohon-pohon disini semuanya miring. hehehe.

Pantai Namalutu SONY DSC

Tempat selanjutnya adalah Karang Panjang untuk melihat sunset.  Di sini juga terdapat patung salah satu pahlawan Maluku, Martha Christina Tiahahu yang berdiri gagah menghadap ke laut sambil memegang tombak.  Jadi sambil menunggu sunset, bisa foto-foto duluuu.  Untuk masuk ke dalam lingkungan taman ini, kita harus membayar 5ribu per orang.  Sayangnya waktu itu matahari tertutup awan, jadi sunsetnya kurang sempurna.  Tapi, rasa kecewanya terobati karena setelah selesai sunset, kita bisa melihat pemandangan kota Ambon dari atas sini.  Lampu-lampunya baguuuusss.

Martha Christina Tiahahusunsetkota Ambon dari atas

Puas memandangi lampu-lampu kota Ambon di malam hari, saya pun beranjak menuju Bukit Merah untuk makan nasi kalapa dan ikan bakar.  Di daerah tersebut, ada warung tenda yang ramaiiiiii sekali pengunjungnya.  Ketika saya kesana, warungnya belum buka dan makanannya belum siap, tapi yang antri sudah banyak banget.  Wah, saya jadi tambah penasaran dan tambah laper pastinyaaaa.  haha. Saya memilih menu nasi, ikan bakar dan udang, meskipun menu lain pun terlihat sangat menarik.  Selain ikan dan udang, ada juga telur balado, bakwan, ayam goreng, dll.  Ternyata nasi kalapa ini semacam nasi uduk yang diberi taburan kelapa seperti yang biasa kita temukan di sayur urap.  Rasa ikannya, maknyuuuss.  Disajikan dengan kuah yang rasanya asem, pedes, seger gitu.  Enak deh.  Sayangnya saya ga sempet foto makanan disini karena saking lapernya langsung saya santap.

Setelah makan, saya mengajak Pak Taju untuk mengantar saya ke Gong Perdamaian yang terletak di dekat Lapangan Merdeka.  Katanya, kalo ke sini, lebih bagus di malam hari.  Tapi kok buat foto-foto ga terlalu jelas ya.  huhuhu..Konon katanya Gong Perdamaian ini dibuat sebagai simbol perdamaian di Maluku, sehingga ke depannya diharapkan tidak ada konflik dan pertikaian lagi.  Di bagian bawah gong ini terdapat pintu menuju bawah tanah yang ternyata museum yang isinya foto-foto bersejarah tentang konflik yang pernah terjadi di Ambon beberapa tahun yang lalu.

Gong Perdamaianfoto-foto di dalam museum

Selesai sudah perjalanan hari ini, waktunya istirahat karena besok pagi saya akan berenang di Pantai Liang.  Ihiiyy..!  Oiya, di perjalanan, Pak Taju sempet nanya ke saya “ke Ambon hanya ronda-ronda?” saya pun bingung sambil mikir, jauh banget ronda di Ambon.  Hahah..ternyata, ronda-ronda itu maksudnya adalah keliling-keliling, hihihi.

Hari Kedua

Sesuai rencana, saya dijemput oleh teman saya beserta istri dan anaknya untuk main-main air di Pantai Liang.  Kenapa Pantai Liang? katanya karena garis pantainya lebih banyak, dan suasana tidak terlalu ramai, jadi bisa lebih leluasa.  Perjalanan ke sana ditempuh dengan waktu 1 jam menggunakan mobil.  Teman saya sudah siap membawa ikan segar dan peralatan bakar-bakaran untuk kami makan siang disana.  Ternyata di Ambon, bakar-bakaran ikan di pinggir pantai bebas dilakukan oleh pengunjung.  Asik banget yaaa?

Sampai disana, kami bergegas mencari tempat yang teduh dan tidak mengganggu jika mau bakar-bakaran ikan.  Setelah ketemu dan menyewa tikar, kamipun mulai menyiapkan api, arang dan ikan.  hmmmm..makan siang langsung dengan pemandangan laut ternyata menimbulkan selera makan besar-besaran bagi saya, ga lupa dengan minuman kelapa muda yang airnya manis dan segar.

pemandangan makan siangPisang goreng Ambon, makannya pake sambeellhasil bakar ikan

Setelah kenyang dan puas main air, kami menuju ke Desa Morea, dimana terdapat ikan belut raksasa.  Ternyata,  tempat belut ini berada adalah di sebuah muara yang dipakai mencuci oleh penduduk setempat.  Belut ini harus dipancing dengan telur rebus dulu agar mau keluar dari lubang persembunyiannya.

belut raksasabelut raksasa

Karena si belut tidak mau terlalu lama menampakkan diri, maka saya dan teman saya pun tidak berlama-lama di tempat tersebut.  Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Nastepa untuk makan rujaknya yang terkenal itu.  Buat yang suka pedes, tentukan sendiri ya jumlah cabenya.  Karena standar pedes disana adalah kalo cabe-nya dua, dan pas dicoba rasanya masi maniiiss bangeett.  Tapi memang rasa bumbunya enaaak, kacangnya banyaakk.  Selama saya disana, 3 kali saya bungkus untuk dimakan di hotel dan rasa yang paling enak adalah setelah pembelian ketiga dengan cabe 6.  hehehehe.  Ini penampakannya :

rujak Natsepa

Setelah kenyang banget (ya iyalah makan muluk), saya pun diantar ke hotel.  Malam ini, saya menginap di Aston Natsepa Resort and Spa yang ada di dekat Pantai Natsepa.  Memang rencananya saya mau leye-leye aja di hotel sampe besok siang, jadi cari hotel yang ada fasilitas kolam renang dan menghadap langsung ke pantai deh.

view dari tempat makansunsetview dari depan kamarpool

Hari ketiga

Hari ini saya berencana beli oleh-oleh di daerah kota dan mau nongkrong-nongkrong lucu di warung kopi terkenal di Ambon, Warung Kopi Sibu-Sibu.  Hari ini saya juga pindah hotel lagiii, ke Baguala Resort yang letaknya tidak jauh dari Hotel Aston.  Saya tertarik menginap di Baguala Resort ini karena pemiliknya sama dengan pemilik Ora Beach Resort yang ada di Pulau Seram.  Jadi saya pikir, wah pasti kerennya hampir sama nih.  hehehe.  Ketika check in, saya sempet kecewa juga dengan keadaan kamarnya.  Lembab dan sepertinya tidak terawat dengan baik.  Tapi saya pikir, toh cuma numpang tidur aja dan besok pagi-pagi buta saya sudah harus berangkat ke Bandara, jadi ya udahlah yaaaa.

Setelah menaruh barang dan bersiap seperlunya, saya pun langsung berangkat menuju Toko Petak Sembilan untuk membeli oleh-oleh.  Oleh-oleh khas Ambon cukup beragaam, saya sampe bingung milihnya.  Saya pun memilih bagea kenari, kacang kenari dan minyak kayu putih untuk keponakan saya di Jakarta.

Beres urusan oleh-oleh, saya minta diantar Pak Taju ke Warung Kopi Sibu-Sibu untuk sekedar minum kopi dan ngemil.  Ternyata, warung kopi ini jauuh di atas harapan saya sebelumnya.  Warung yang dihiasi dengan foto-foto orang terkenal dari daerah Maluku, musik khas daerah Maluku, dan kipas angin, menjadikan warung ini tempat yang cocok untuk ngobrol, atau kalo orang Jakarta, kerja kali ya :p.

tampak depanSONY DSCsalah satu pojokan

Selesai bersantap dan menghilangkan penat, saya minta diantar ke Lapangan Merdeka karena mau foto di tulisan iniiii :

Lapangan MerdekaLapangan Merdeka lagi

Sekian cerita saya di Ambon, semoga bisa ikut menikmati bagusnya pemandangan di kota ini yaaa.. walopun panas dan mungkin saya yang paling rempong naik motor sambil pake sarung Bali buat nutupin badan, tapi saya tetep pingin balik lagi ke sana.  Ambon memang Manise!

 

 

 

 

Skip to toolbar