Surga Dunia Itu Bernama Raja Ampat

Baru pulang dari Raja Ampat niiihhh, wihiiiyy!!  seminggu yang gakkan pernah saya lupain seumur hidup saya. Bisa ngeliat laut yang begitu jernihnya, pasir yang begitu putih dan lembutnya, bawah laut yang begitu indahnya, dan orang-orang baik yang bikin saya pingin jadi manusia yang lebih baik lagi. Alhamdulillah 🙂

Kali ini, saya gakkan cerita banyak tentang pengalaman saya ke Raja Ampat, tapi mau cerita tentang informasi yang perlu diketahui kalo mau ke sana. Misalnya caranya bagaimana, penginapannya dimana, dan tempat-tempat yang dikunjungi apa aja.  Ayo yang mau jalan-jalan kesana, silakan disimak yaaaa..

Cara ke Raja Ampat

Cara termudah untuk ke Raja Ampat adalah dengan naik penerbangan menuju Sorong, dari Jakarta atau Makassar. Harga tiket PP Jakarta – Sorong bervariasi tergantung bulan keberangkatan. Supaya lebih murah, coba cara ngeteng deh..bisa Jakarta – Makassar dulu, trus lanjut dengan Makassar – Sorong. Kalau punya waktu banyak, bisa jalan-jalan dulu sekalian di Makassar.

Tiba di Sorong, naik taksi (angkot) menuju Pelabuhan Rakyat dengan tarif 1 angkot sekitar 100-150ribu untuk 6-8 orang. Dari Pelabuhan Rakyat dilanjutkan dengan kapal ferry menuju Waisai dengan tarif 100ribu, dan waktu tempuh 2 jam perjalanan.  Waktu keberangkatan kapal dati Sorong ke Waisai ini setiap hari ada 2 jadwal perjalanan, pagi jam 9.00 dan siang jam 14.00.  Biasanya sih, sampai Sorong pagi hari, trus langsung ke pelabuhan dan naik kapal yang jam 9.00.

Ternyata perjalanan ke Raja Ampat ini ga sesulit dan selama yang saya bayangkan lho. Penerbangan dari Jakarta ke Makassar sekitar 2 jam, Makassar – Sorong 1 jam 45 menit, dan kapal ferry 2 jam. Yaaaa, hampir sama dengan kalo saya mudik ke Lampung deh..heheheh..Kapalnya juga nyaman, sepi dan ga bikin pusing. Tapi kalo kamu termasuk yang gampang mabuk laut, siap-siap obat yaaaa..

Suasana di ferry menuju Waisai.  Itu pintu-pintu ruangan kamar yang bisa disewa dengan harga 150ribu per orang
Suasana di ferry menuju Waisai. Itu pintu-pintu ruangan kamar yang bisa disewa dengan harga 150ribu per orang
Pelabuhan Waisai
Pelabuhan Waisai

 

Penginapan

  • Kordiris Homestay

Terus terang, milih penginapan di Raja Ampat adalah bagian tersulit dalam menyusun rencana perjalanan ini. Saya orangnya sih ga terlalu pemilih, yang penting bersih dan bisa buat tidur. Tapi karena harus ninggalin kerjaan cukup lama, saya harus milih-milih yang penginapannya bisa menjangkau sinyal HP. Hahahaks..Selain itu, karena kita mau nginep di homestay (untuk menghemat biaya), dan kebanyakan homestay tidak dilengkapi dengan kamar mandi di dalam kamar, jadi saya juga pilih-pilih yang kelihatannya kamar mandinya bersih dan tidak “menyeramkan” kalau malam-malam saya harus ke toilet.

Setelah browsing sana sini, membanding-bandingkan foto, dan menimbang-nimbang biaya penjemputan dari pelabuhan Waisai juga, akhirnya kami memilih menginap di Kordiris Homestay.   Salah satu nilai plus yang akhirnya meyakinkan kami memilih homestay ini adalah karena homestay ini berada di pulau yang ada cekungan pantainya, jadi bisa banget tuh leye-leye di pasir, berasa di pulau pribadi. Hehehe..begini nih viewnya :

Kursi yang selalu jadi rebutan karena view nya paling enak..
Kursi yang selalu jadi rebutan karena view nya paling enak..
Kamar di atas air, foto diambil pada saat air surut
Kamar di atas air, foto diambil pada saat air surut
Berenang di depan penginapan sambil lihat view kayak gini sore-sore..kayak lukisan yaaa..#nofilter
Berenang di depan penginapan sambil lihat view kayak gini sore-sore..kayak lukisan yaaa..#nofilter
ruang makan, tempat berbagi cerita dengan tamu lain..
ruang makan, tempat berbagi cerita dengan tamu lain..
View dari penginapan..bikin speechless yaaa..
View dari penginapan..bikin speechless yaaa..
masih view di depan penginapan, agak ke tengah..beniiingg :')
masih view di depan penginapan, agak ke tengah..beniiingg :’)

Harga per malam di homestay ini adalah 300ribu per orang untuk kamar di darat, dan 350ribu per orang untuk kamar di atas air, sudah termasuk makan 3x sehari dan teh kopi sepuasnya.

Dalam kamar saya waktu itu..
Dalam kamar saya waktu itu..

Dan ternyata pilihan penginapan kami ini ga salah. Pemilik homestay ini, Pak Korneles, dan keluarganya benar-benar menjadikan liburan kami “beyond our expectation”. Makanannya enak, suasananya enak, dan apa yang kami minta selalu berusaha dipenuhi. Misalnya, waktu itu kami mau coba makan papeda, langsung deh Pak Kornelis ke kampung sebelah untuk beli sagu dan malamnya dibikinin, uenak! Trus pernah juga setelah kami makan malam, ternyata hasil pancingan hari itu lumayan banyak, jadi kami makan lagi, pesta ikan asap sambil mandangin bintang. Asik kaaann. Alhasil, dari yang tadinya kami cuma mau menginap 3 malam, jadi nambah 4 malam. hihihihi

Terimakasih Kordiris!
Terimakasih Kordiris!
Paling kiri : Bang Manu sang dive master.  Paling kanan : Bang Manu, suka bgt ngetawain tingkah laku tamu-tamu.  Suasana jadi tambah menyenangkan karena ada 2 orang ini.
Paling kiri : Bang Tigor sang dive master. Paling kanan : Bang Manu, suka bgt ngetawain tingkah laku tamu-tamu. Suasana jadi tambah menyenangkan karena ada 2 orang ini.

Untuk reservasi homestay Kordiris, bisa menghubungi Pak Kornelis di nomer 081248569412. Karena masalah sinyal, kalau nomer tsb susah untuk dihubungi, coba di SMS karena nantinya Pak Kornelis akan balik menghubungi kita.  Kordiris juga melayani penjemputan dari pelabuhan Waisai ke penginapan dengan biaya 500 ribu per kapal (bisa untuk 5-8 orang).

  •  Waiwo Dive Resort

Hari terakhir di Raja Ampat, kami pindah penginapan ke Waiwo Dive Resort yang letaknya hanya sekitar 20 menit dari pelabuhan Waisai. Tujuannya adalah agar ketika pulang besok paginya, kami tidak terlalu terburu-buru, karena sudah dekat dengan pelabuhan.

Darmaga di Waiwo Dive Resort
Darmaga di Waiwo Dive Resort
Darmaga menuju ke penginapan
Darmaga menuju ke penginapan
View di depan Waiwo Dive Resort
View di depan Waiwo Dive Resort

Kamar di Waiwo Dive Resort (WDR) ini hampir sama dengan kamar-kamar hotel di Jakarta. Ada AC dan air panas, serta listrik yang menyala lebih lama. Harga per orang per malam adalah 600ribu, sudah termasuk makan 3x sehari dan teh kopi juga sepuasnya. Satu hal yang bisa menjadi pertimbangan, di sini kamarnya berbau obat semprot nyamuk karena memang di Raja Ampat banyak nyamuk malaria, dan sekitar resort banyak pohon, jadi sepertinya memang harus disemprot setiap hari.

Begini kondisi kamarnya :

Kamar di Waiwo Dive Resort
Kamar di Waiwo Dive Resort
Kamar mandinya
Kamar mandinya

Untuk reservasi kamar di Waiwo Dive Resort, bisa menghubungi 0853.44515133.

Itu dua penginapan berbeda jenis yang saya coba, bisa dipilih sesuai dengan budget dan keinginan selama di sana yaaa..

 Itinerary

Untuk para divers, Raja Ampat merupakan surga dalam arti sesungguhnya. Gimana ngga, banyak spot-spot diving keren yang bisa dicoba bergantian setiap hari dengan pemandangan bawah laut yang bikin takjub. Begini contohnya :

2014-08-27 10.38.17
Ikannya warna warniii

2014-08-25 08.53.58

Kayak nyemplung di aquarium yaaaa..

Tapi kalo kamu bukan diver, jangan khawatiiirrr. Snorkeling di Raja Ampat ga beda jauh dengan diving karena spotnya sama. Iyaaaa, snorkelingnya bener-bener di laut lepas. Bedanya yaaaa cuma diving di bawah, snorkeling di atas aja gitu. Di sini banyak ikan warna warni yang mungkin belum pernah kita lihat dimanapun. Saya sedikit membandingkan ya, pemandangan waktu saya snorkeling di Raja Ampat, dengan diving di kedalaman 15m di Wakatobi, hampir sama. Ketemu penyu jugaaaa, ketemu barracuda juga, dan bahkan saya sempet lihat ikan dugong dan manta juga lho. Asik kan?

2014-08-25 09.06.47

Nah, kalo kamu bukan diver dan ga suka snorkeling juga, trus ngapain dong? Banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan di sini. Bisa leye-leye sambil baca buku di depan penginapan dengan view yang luar biasa keren (kalo mau leye-leye aja dan punya budget lebih, coba menginap di Papua Paradise Eco Resort deh), atau bisa juga tour ke pulau-pulau lain sambil berburu foto dan bird watching. Dijamin, alam dan pemandangannya ajiiiib, berasa kayak lagi di NatGeo Wild. Hehehe..

Berikut adalah tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama di Raja Ampat :

  • Teluk Kabui atau Little Wayag, pemandangan di perjalanannya ajiiibbb. Karena jauh dan perjalanannya bisa seharian (termasuk berhenti di spot-spot snorkeling), usahakan membawa bekal makan siang dari tempat menginap, jadi bisa makan siang di perjalanan menuju kesana.
    View sepanjang perjalanan ke Teluk Kabui
    View sepanjang perjalanan ke Teluk Kabui
    View kayak gini, khas Raja Ampat yaaa..
    View kayak gini, khas Raja Ampat yaaa..
    Takjub dengan view sepanjang perjalanan ke Teluk Kabui
    Takjub dengan view sepanjang perjalanan ke Teluk Kabui
    2014-08-26 12.12.48
    Bekal makan siang dari homestay
  • Manta Point, diving atau snorkeling. Ini tempat keren bangeett, spot snorkelingnya ok dan kalo beruntung bisa ketemu Manta yang lagi naik karena airnya pasang.
  • Desa Arborek, diving atau snorkeling. Ini juga keren banget, airnya beniiingg dan ikannya banyak. Bahkan kita bisa ngeliat lion fish hanya dari kapal kita aja.
    Desa Arborek dengan airnya yang jerniiihh
    Desa Arborek dengan airnya yang jerniiihh
    Sempet lihat pelangi jugaa sambil snorkeling :')
    Sempet lihat pelangi jugaa sambil snorkeling :’)
    Airnya jernih banget, sampe bisa lihat ikan-ikannya dari atas darmaga.  Ini ada lion fish.
    Airnya jernih banget, sampe bisa lihat ikan-ikannya dari atas darmaga. Ini ada lion fish.
    Desa Arborek, bersiihh..
    Desa Arborek, bersiihh..
  • Jetty, snorkeling. Di sini ikannya banyak, besar-besar, warna-warni, dan ga takut sama kitaaaa, jadi kadang kita berenang bareng gitu dikerubutin ikan-ikan. Hihihi
  • Pasir Timbul. Ini gundukan pasir yang timbul sehingga menyerupai pulau gtu karena air lautnya sedang surut. Pasirnya putiiiihhh, lembuuutt, dan air di sekelilingnya beniiing. Cocok untuk yang mau berenang-renang aja.
    Merapat ke Pasir Timbul
    Merapat ke Pasir Timbul
    Gaya wajib kalo foto di Pasir Timbul.  Kayaknya kalo liat brosur, gayanya gini semuaaaa..
    Gaya wajib kalo foto di Pasir Timbul. Kayaknya kalo liat brosur, gayanya gini semuaaaa..
  • Pianemo, ini juga kayak Wayag dengan panorama yang baguuus banget dari atas. Sayangnya perjalanan ke sini agak jauh, sehingga sewa kapalnya pun relatif mahal.

What to Bring?

Berikut ini adalah barang-barang yang menurut saya wajib dibawa atau dipersiapkan sebelum berangkat ke Raja Ampat :

Bawa :

  • Sunblock dengan SPF tinggi, karena matahari disana nyengat banget, dan sebagian besar kegiatan kita naik boat yang ga ada pelindungnya
  • Topi
  • Kaca mata hitam
  • Handuk, karena kebanyakan homestay tidak menyediakan
  • Baju menyerap keringat
  • Baju renang dan peralatan snorkeling (termasuk fin), jika ingin snorkeling. Homestay biasanya menyewakan, tapi akan lebih nyaman jika kita bawa peralatan sendiri.
  • Uang cash secukupnya, agar tidak perlu mencari-cari ATM yang jarang ada.
  • Makanan kecil dan obat-obatan ringan
  • Lampu tembak buat yang ga bisa tidur gelap-gelapan, karena listrik umumnya mati dari jam 23.00 sampai siang harinya.
  • Power bank untuk persiapan kalo listrik mati dan batere HP habis

Persiapan

Minum pil kina atau obat anti malaria sebelum berangkat kesana untuk mencegah terjangkitnya penyakit tsb. Karena ternyata penyakit malaria bisa terjadi melalui gigitan nyamuk, dan bisa juga melalui udara.

Perkiraan Biaya

Perjalanan saya di atas berdurasi 6 hari 5 malam, 4 malam menginap di Kordiris Homestay, dan 1 malam menginap di Waiwo Dive Resort. Total biaya perjalanan kurang lebih sekitar Rp 9juta per orang dengan jumlah peserta perjalanan 5 orang (sewa kapal selalu dibagi lima). Hayooo, kata siapa pergi ke luar negeri lebih murah dibandingin pergi ke Raja Ampat? 😀

Sekarang, saya mau update bucket list saya dulu yaaa..

Pergi ke Raja Ampat : CHECKED! :”) kamu kapan? yuk nabung!

2014-08-26 14.30.59

Tugu Raja Ampat
Tugu Raja Ampat

 

NB :

Kalo kamu dan teman-teman kamu berencana ke Raja Ampat dan perlu bantuan untuk nyusun itinerary, booking tiket pesawat, penginapan, dan tour selama disana, bisa hubungi koperkuning@gmail.com yaaa..Kami akan usahakan memberi harga terbaik dengan pengalaman yang gakkan terlupakan *tsaaahh.

Waktu terbaik untuk ke Raja Ampat adalah bulan Oktober – April, karena di bulan itu anginnya udah lebih enak. Bahkan katanya di bulan April, kita bisa melihat manta yang sedang main-main ke atas lho, karena airnya sedang pasang dan jumlahnya lagi banyak-banyaknya.

 

 

 

 

Guilin – Kota Dengan Pemandangan Paling Indah di Kaki Langit

Ya, begitu menurut orang-orang yang pernah datang ke Guilin, kota yang terletak sektar 478 km ke arah barat laut Guangzhou.  Cara yang paling banyak dilakukan oleh traveler yang ingin ke Guilin adalah dengan terbang ke Guangzhou, dan dilanjutkan dengan bis atau kereta menuju Guilin.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 11 jam, kami tiba di Guilin pukul 6.15 pagi dalam kondisi hujan dan dingiiiiinnn banget.  Kami langsung mencari tempat makan di sekitar stasiun dan mencoba mie Guilin yang terkenal enak itu.  Ternyata beneran enak! Mie beras dengan kuah yang dikasih beberapa iris (saking tipisnya) daging sapi.  Cocok buat udara dingin pagi itu.  Oiya, kata adik saya sih sambelnya enak juga, tapi waktu itu saya ga cobain karena saya lagi rentan diare.  Hehehe..  Mie Guilin ini dijual dengan harga 5 yuan per mangkok.

mie Guilin, enak!

Sambil makan mie, saya berusaha untuk browsing hotel yang direkomendasikan di Guilin, dan pilihan pun jatuh ke Guilin Sapphire Hotel.  Saya pun mencoba menelepon kesana untuk menanyakan apakah bisa check in pagi itu juga.  Tapi ternyata, ketika saya menelepon dan baru bilang “Halo, good morning”, eh sudah dijawab resepsionisnya dengan “sorry, no English here” errrrhhh..baiklah..

Bapak saya pun menyarankan untuk langsung aja kesana dengan menggunakan taksi.  Kami pun mencari taksi dan sempet celingukan karena semua taksi yang parkir di stasiun ga ada sopirnya.  Kirain kayak di Jakarta gituuu, sopirnya tidur di dalem. Hihihi, ternyata ngga.  Lagi celingukan, ada seorang Bapak separuh baya yang menghampiri dan mempersilakan kami untuk naik ke taksinya.  Kamipun naik dan ngobrol-ngobrol, dia menawarkan untuk mengantar kami seharian seharga 50 Yuan. Iya, 50 Yuan itu kira-kira kalo dirupiahin sekitar 100ribu rupiah ya..sempet ga percaya, tapi bener 50 Yuan. Hehehe..Hari itu, kami diajak ke tempat-tempat wisata yang ada di Guilin, termasuk ke Elephant Trunk Hill yang terkenal itu.  Tempat wisata di Guilin kebanyakan adalah gua-gua dari pegunungan kapur yang di dalamnya terbentuk stalaktit dan diberi lampu bewarna-warni untuk menambah keindahan gua tsb.  Konon katanya di sini adalah tempat syuting film Soon Go Kong lho.

gua stalaktit di Guilin gua khas Guilin 2014-02-25 11.54.17 2014-02-25 13.50.33 Elephant Trunk Hill

Hari kedua, merupakan hari yang saya tunggu-tunggu karena hari itu kami akan berkeliling Li River menggunakan kapal.  Konon katanya, pemandangan indah di kaki langit itu ada di sepanjang perjalanan ini.  Begini nih :

pelayaran dimulai :D 2014-02-26 08.48.39 2014-02-26 09.23.34 penjual buah nawarin jualannya ke kapal 2014-02-26 10.02.18

Hehehe bikin speechless yaaa..suasana Li River yang dikelilingi tebing, udara yang dingin, dan kapal-kapal yang bergerak pelan semakin membuat saya terlena.  Selama perjalanan menyusuri sungai ini, pemandangan di sekelilingnya merupakan salah satu pemandangan paling indah yang pernah saya lihat. Perjalanan kapal ini menyusuri Sungai Li memakan waktu sekitar 5 jam.  Disediakan makan siang juga, meskipun lauknya sangat sederhana, tapi kita bisa membeli tambahan lauk di restoran kapal tsb.  Saya sih lebih nyaman bawa bekal sendiri karena menu di kapal pake huruf Mandarin, jadi takut salah pesen X))

Kapal yang membawa kami mengarungi Sungai Li berhenti di Kota Yangsuo, kota yang menurut saya lebih tourist friendly dibandingkan dengan Guilin, karena banyak toko, hotel, dan tempat makan yang menuliskan huruf latin, bukan huruf Mandarin.  Suasana kota Yangshuo ini seperti Puncak, dingin dan banyak perbukitan yang bisa ditemui di dalam kota.  Kalau punya waktu banyak, boleh dicoba menginap 1 atau 2 malam di kota ini.

Suasana kota Yangshuo :

2014-02-26 13.06.40 2014-02-26 13.11.27

Di kota ini kami diajak mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Big Banyan Tree Park dan Gua Naga.

2014-02-26 14.35.53 Big Banyan Tree masuk ke Gua Naga 2014-02-26 15.21.05 2014-02-26 15.48.00

Hari ketiga di Guilin, kami mengunjungi Gunung Yao atau Yaoshan.  Di sini, kita akan dibawa ke atas Gunung Yao menggunakan kereta gantung terbuka dan melihat pemandangan kota Guilin dari atas.  Spektakuler!  Turunnya, kita boleh pilih, mau naik kereta gantung lagi, atau meluncur menggunakan papan seperti kalo kita di Sentosa Island Singapore itu lho.  Saya waktu itu? Memilih naik kereta gantung aja deh, secara saya “penggila” naik kereta gantung :p

medan kalo turun meluncur kereta ganung di atas, meluncur di bawah kereta gantungnya

Walaupun waktu itu pemandangannya agak tertutup kabut, tapi pemandangan indah kota Guilin tetap bisa dinikmati sepanjang perjalanan.  Kalau kesini, jangan lupa membawa jaket agak tebal yaaa karena cuaca saat naik kereta gantung cukup dingin.

sayangnya tertutup kabut Guilin dari atas

Setelah puas mengunjungi Gunung Yao dan berkeliling di atasnya, kami bergegas ke stasiun kereta untuk membeli tiket kembali ke Guangzhou.  Sayangnya waktu itu tiket keretanya habis karena hanya ada satu jadwal kereta dari Guilin ke Guangzhou.  Kami pun memutuskan untuk kembali ke Guangzhou naik sleeper bus.  Sleeper bus di China ternyata hanya terdiri dari satu tempat tidur, atas bawah, tiga deret.  Beberapa tempat tidur dilengkapi TV di hadapannya, sudah seperti di pesawat deh..hihihihi..

Begini penampakan bisnya :

suasana di dalam bis

Sekitar jam 2 pagi, saya terbangun karena pingin pipis banget.  Saya baru menyadari bahwa bis saya itu lagi berhenti di pinggir jalan seperi jalan tol bersama bis-bis yang lain.  Saya lihat sekeliling, kok ga ada tanda-tanda ada toilet.  Sayapun memutuskan untuk membangunkan adik saya dan berjaga selagi saya ke toilet, karena saya takut ditinggal.  Turun bis, aroma toilet umum sudah kecium.  Sayapun mengurungkan niat saya ke toilet dan berencana untuk pipis di rerumputan pinggir tol aja.  Toh gelap.  Saya pun mulai mencari tempat yang rumputnya lumayan tinggi dan agak tertutup dari jalan dan tempat bis-bis (termasuk bis saya) berhenti.  Malam itu, malam yang ga mungkin saya lupain, karena untuk pertama kalinya saya pipis di rumput, di pinggir jalan, dengan view truk dan bis yang lagi kebut di jalan tol.  Hehehehe..

Demikian pengalaman saya jalan-jalan ke Guilin, kota dengan pemandangan indah di kaki langit.  Pengalaman dan pemandangan yang saya lihat waktu itu, gakkan pernah bisa saya lupain 🙂

Luang Prabang, The Most Romantic City in Southeast Asia

Laos. Sudah beberapa kali masukin negara ini ke itinerary, tapi selalu gagal dengan berbagai alasan, entah karena waktunya ga cukup atau karena jiper bayangin perjalanan darat yang kayaknya ribet.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok dalam waktu yang cukup lama karena pekerjaan saya sedang tidak sibuk. Sekelumit tekad (tsaaaah, tekad kok sekelumit) pun muncul di benak saya. Apa saya sekalian ke Laos yaaa..kan ada Friendship Bridge yang menghubungkan Thailand dan Laos tuh.  saya pun mulai mencari informasi dan membuka catatan lama saya mengenai cara ke Laos dari Bangkok lewat darat.

Suasana Bangkok yang lagi rame demo, apalagi ketika saya ke sana bertepatan dengan ShutDownBangkok, makin membulatkan tekad saya.  Saya pun memesan tiket kereta api dari Bangkok menuju Nong Khai, dimana terletak border Thailand untuk keluar menuju Laos.  Stasiun pemberangkatan yang saya pilih dari Bangkok adalah Stasiun Don Mueang, karena menurut kabar yang beredar waktu itu, akses menuju Stasiun Hualamphong tertutup para demonstran.  Oiya, mungkin ga banyak yang tau ya kalo Stasiun Don Mueang ini terletak di sebrang Bandara Don Muang.  Jadi kalau misalnya kamu mendarat di Don Muang dan ingin langsung naik kereta ke kota-kota Thailand lainnya (tentunya yang melewati stasiun ini), kamu ga perlu harus ke Hualamphong yang berada di pusat kota Bangkok dulu.

Bagaimana cara ke Stasiun Don Muang dari Bandara Don Muang? Cukup cari petunjuk “Amari Don Muang Hotel”, kalo ga salah adanya di lantai Arrival, trus naik lift atau turun tangga, dan tinggal ikuti papan petunjuk ke stasiunnya. Jadi kayak lewat jembatan penghubung gitu, ga sampe 10 menit deh.

Stasiun Don Mueang

Tiket kereta yang saya beli, seharga 758 baht, merupakan kereta dengan kelas sleeper AC dan lower berth.  Lumayanlah, 12 jam perjalanan malam tersebut sekalian untuk menghemat biaya penginapan. Hehehe..Tiket bisa dibeli langsung di loket stasiun, atau di semua travel agent di Bangkok (tapi kena biaya), atau bisa juga beli online (kena biaya pengantaran).  Jadi kalo ga lagi peak season, mendingan beli di loket langsung deh, bisa juga beli beberapa hari sebelumnya untuk berjaga-jaga ga kehabisan.

suasana di dalam kereta, sleeper 2nd class
kalau siang, tempat tidurnya jadi kursi lagiii

Singkat cerita, malam itu, sekitar jam 20.50, saya berangkat menuju Nong Khai dengan perasaan campur aduk antara seneng, deg-degan, takut, excited, dll.  Akhirnya, sebentar lagi saya bisa melihat Luang Prabang.  Iya, kota yang bikin saya tertarik banget ke Laos adalah Luang Prabang, yang katanya The Most Romantic City in South East Asia 😀 .  Untuk menuju ke kota ini, saya masih harus menempuh perjalanan 11 jam lagi pake bis.  Tapi tekad saya sudah ga sekelumit lagi, jadi gpp deh. Hehehe..

suasana stasiun Nong Khai

Jadi gini nih urutan perjalan saya dari Thailand menuju Laos dengan menggunakan jalur darat (kereta api) :

  • Stasiun Don Muang – Nong Khai à naik kereta malam, 758 baht
  • Di stasiun Nong Khai, naik tuk tuk menuju border Thailand à 30 baht per orang
  • Cap paspor keluar Thailand
  • Beli karcis bis untuk menyebrangi Friendship Bridge Thailand – Laos à 20 baht
  • Cap paspor masuk Laos
  • Naik bis hijau nomer 145 ke pusat kota Vientiane (Central Bus Terminal) à 6000 kip, bisa juga menggunakan tuktuk sampai tempat tujuan di Vientiane, tapi harus tawar menawar.

Sampai di Central Bus Terminal, saya pun langsung mencari loket penjualan tiket ke Luang Prabang.  Errrrhhh, ternyata bis yang menuju ke sana itu berangkatnya dari Northern Bus Terminal.  Baiklaaaahh, pantesan ga nemuuu.  Saya mulai menawar tuk tuk yang akan mengantar ke Northern Bus Terminal dan berhasil di harga 60ribu kip 1 tuktuk.  Ternyata jaraknya lumayan jauh dengan medan jalanan yang berdebu.

Suasana Northern Bus Terminal tidak seramai terminal bis biasanya, malah cenderung sepi.  Saya pun langsung menuju loket dan memilih jam keberangkatan yang tidak terlalu lama, yaitu jam 16:00.  Rencana awal, saya inginnya naik sleeper bus jam 21:00 atatu 22:00 agar sampai di Luang Prabang sudah cukup terang.  Tapi karena saya kecepetan sampai di terminal bis-nya, dan mau balik lagi ke kota juga lumayan jauh, jadilah saya ambil bis dengan jam terdekat.

Northern Bus Terminal
jadwal dan harga bis dari Vientiane ke Luang Prabang

Sekitar jam 15:45, penumpang bis sudah dipersilakan untuk naik.  Saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil dan minuman untuk bekal perjalanan, mengingat perjalanan yang cukup lama.  Penumpang bis kebanyakan orang lokal, hanya saya dan dua orang bule Australia dengan tujuan Van Vieng yang terlihat pendatang.  Tidak lama setelah bis berjalan, sayapun tertidur diiringi alunan musik yang sepertinya lagi hits di Laos.

Saya terbangun sekitar pukul 23.30 karena bis berhenti dan kondekturnya berteriak-teriak meminta penumpangnya turun.  Saya lihat keluar jendela, lho ini sepertinya bukan di tempat peristirahatan, dan dua orang bule Australia tadi pun sudah ga ada.  Saya pun mengikuti penumpang lain untuk turun.  Ternyata, bis tertahan karena di depannya ada truk mogok dan sedang diganti bannya.  Kami disuruh menunggu sekitar 200 meter di depan karena katanya berbahaya jika menunggu di dalam bis.  Hihihihih, baru nunggu 10 menit, saya udah ga tahan dinginnyaaaa.  Bayangin aja, di daerah kayak Puncak gitu, tapi ga ada warung-warung, sepiiii, kanan kiri gunung, kami disuruh menunggu selama waktu yang tidak bisa ditentukan.  Beruntung waktu itu bulan purnama, jadi ga terlalu gelap dan menyeramkan.  Mati gaya karena kedinginan, sayapun bertekad kembali ke bis dan berharap dibolehin nunggu di dalem.  Eh ternyata pas ijin sama kondekturnya, tetep ga dibolehin lho. Ada satu orang penumpang, Bapak-bapak yang memakai celana pendek, dan mengerti kalau saya kedinginan.  Dia bilang gini “exercise, exercise” sambil lari-lari kecil dengan lincahnya.  Errrrhhh, ya sudahlah saya balik ke tempat penumpang lainnya saja.

Ternyata, para penumpang lain sudah membuat beberapa api unggun untuk menghangatkan badan.  Saya jadi malu sendiri karena tadi kekeu mau nunggu di bis, padahal di rombongan saya, ada ibu-ibu yang sudah berumur dan ibu yang menggendong bayi, tapi tetap bertahan menunggu.

Akhirnya, setelah dua jam menanti *tsaaah, kami diperbolehkan naik ke bis dan melanjutkan perjalanan.  Alhamdulillaaaaahhh..saya pun melanjutkan tidur dan bangun ketika bis parkir di terminal Luang Prabang.  Saya sampai di Luang Prabang sekitar jam 5 pagi, dan udaranya itu lebih duingiiinnn dibanding tadi di jalanan. Baiklah, saya ga kuat nunggu sampe terang, saya pun berjalan keluar terminal dan menemukan ada hotel tepat di seberangnya, namanya Dao Fa Hotel.  Tanpa pikir panjang, sayapun menginap di situ untuk sekedar tidur, bersih-bersih, dan menghangatkan badan.  Sebenernya harga yang ditawarkan cukup mahal, walaupun kamarnya besar, yaitu 150ribu KIP untuk berdua.  Tapi mengingat udara dingin di luar, sayapun mengiyakan harga tersebut dan langsung pules tidur sampai jam 10.  Hehehehe..lupakan sarapan.

Setelah mandi dan bersih-bersih, saya berencana untuk keliling kota Luang Prabang dan mencari penginapan lain yang lebih strategis.  Saya pun menawar tuktuk ke kota dan mulai berjalan kaki menyusuri jalanan Luang Prabang.  Beruntungnya saya, ketika sedang jalan-jalan di sekitar Sungai Mekong, saya menemukan penginapan yang agak masuk ke dalam, tapi masih terlihat view Sungai Mekong,  Phabon Guest House namanya.  Harganya pun tidak terlalu mahal, 90ribu KIP dengan kamar yang memiliki balkon menghadap sungai. Asik kan? Di sini kita juga bisa menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga 15ribu KIP.  Suasana Luang Prabang memang asik banget buat sepedaan.  Jalannya bagus, kendaraan bermotornya pun ga banyak.  Saya keliling-keliling sampai sore menjelang Magrib karena jalanan sudah mulai ditutup untuk pasar malam.  Saya pun kembali ke penginapan untuk mengembalikan sepeda dan jalan kaki ke pasar malam.  Pasar malam di Luang Prabang cukup meriah meskipun yang datang tidak terlalu ramai.  Barang-barangnya lucu-lucuuuu semuaaa, apalagi tas-tasnya. Waah, warna-warnanya memanjakan mata banget deh.  Jangan lupa untuk menawar sepertiga atau setengah harga ya di sini, apalagi kalau beli banyak.

suasana Luang Prabang
salah satu cafe pinggir jalan yang banyak ditemui di Luang Prabang
sepanjang Sungai Mekong
tenda pasar malam
makanan di pasar malem. Sepiring 10ribu KIP, bebas.

Hari kedua di Luang Prabang, saya bangun pagi-pagi sekali untuk melihat ritual Ta Bat.  Ritual dimana para monks berbaris untuk menerima makanan atau uang dari para penduduk.  Tapi ternyata saya bangun terlalu pagi, karena suasana masih sangat gelap.  Saya pun kembali ke tempat tidur dan tidur-tidur ayam karena memang masih berasa capek banget abis sepedahan keliling-keliling kemarin.  Lima belas menit kemudian, saat hari sudah terlihat terang, saya memantau lewat balkon kamar, dan paaaasss banget, terlihat barisan monks tengah berjalan pelan.  Saya pun langsung menghambur ke bawah dan keluar menuju jalanan.  Akhirnyaaa, kesampean juga saya melihat ritual Ta Bat, ritual yang tadinya hanya saya lihat di brosur liburan ke Luang Prabang :’)

ritual Ta Bat
Sungai Mekong

Siang harinya, saya melanjutkan berkeliling Luang Prabang dan mencoba restoran yang ada di sekitar Sungai Mekong.  Ternyata, makan di pinggir sungai juga seru lho kalau suasananya adem gitu.  Sorenya saya naik ke puncak tertinggi Luang Prabang untuk menyaksikan sunset.  Salah satu sunset terindah yang pernah saya lihat :’) Oiya, untuk melihat sunset ini disarankan naik dari jam 3 atau 4 sore, karena makin sore, pengunjung makin ramai dan agak susah menemukan spot yang enak.

..karena foto kaki di pantai sudah terlalu mainstream.. :p
nongkrong di pinggir Sungai Mekong
sunset Luang Prabang
sunset :’)

Selesai menyaksikan sunset, saya bergegas turun dan menuju penginapan karena jam 18.15 akan dijemput untuk menuju terminal bis dan kembali ke Vientiane.  Sekedar tips kalau kamu juga harus kembali ke Vientiane, lebih baik beli tiketnya dari jauh-jauh hari karena ada resiko ga kebagian tiket.  Tiket yang saya beli waktu itu merupakan tiket terakhir bis tsb.  Kalau waktu itu ga kebagian tiket ke Vientiane, terpaksa tiket pesawat pulang saya hangus deh..huhuhuhu

Oiya, di perjalanan menuju Vientiane ini saya bertemu dengan Shinji, cowok, solo traveler dari Jepang yang ngasi banyak pelajaran dan kocak banget mukanya. Hahahah..Shinji ini Bahasa Inggrisnya pas-pasan tapi berani negor saya duluan.  Berani ngajak ngobrol orang asing walopun seringnya pake bahasa Tarzan dan kadang ga ngerti dia atau saya ngomong apa. Waktu itu katanya pengalaman dia pertama kali keluar Jepang, dan dia seneng banget! Hihihi, Shinji ini salah satu contoh, kendala bahasa itu bukan alasan kita untuk ga ngeliat dunia lho! Semangaaattt!!

Lombok

Kalo kamu suka pantai, kamu wajib ke Lombok.  Kenapa? Ya karena pantainya bagus-bagus..hehehe..truuuss, suasana pantai di Lombok juga ga seramai Bali, pantesan Lombok sering banget jadi tujuan para pengantin baru untuk honeymoon yaaaa..

Pertama kali menjejakkan kaki di Lombok Praya Indonesia Airport, wiihh rasanya pingn lompat-lompaatt. Udah lama banget pingin ke Lombok, tapi baru ada kesempatan sekarang.  Padahal kan Lombok ga terlalu jauh dari Jakarta yaaa..tapi ga tau kenapa, saya suka jiper kalo pergi sendirian ke daerah-daerah dalam negeri..huhuhu. Jadi nunggu ada temennya dulu nih 😀

Setelah selesai mengurus bagasi, saya dan teman saya bergegas menuju Damri yang akan membawa kami ke daerah Senggigi.  Iya, rencananya malam pertama ini kami akan menginap di Senggigi.  Di penginapan mana? Belum tau..heheheh..

Kami turun di daerah yang sepertinya ramai dengan toko-toko dan penginapan terjangkau dan mulai mencari penginapan yang sesuai budget.  Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Central Inn, dengan harga 300ribu termasuk sarapan pagi untuk 3 orang.  Mungkin karena kami datang di saat bukan musim liburan, jadi harga penginapan pun bisa ditawar. Hehehe.. tadinya, harga yang ditawarkan adalah 350ribu per malam untuk dua orang.  Tapi emang dasarnya cewek yaaa, ga puas kalo ga coba nawar.  Eeeehh dikasiiihh..Aheeeyy!!  Ini view dari kamar kami..sayangnya malah dalem kamarnya lupa difoto 🙁

ada pool nya, lumayaaann..sunrise terlihat dari balkon kamar

 

Keesokan paginya, kami sudah bersiap menuju Gili Air.  Kami menyewa angkot dari depan penginapan dengan harga 80ribu menuju ke Pelabuhan Bangsal.  Lumayaaan, bisa foto-foto sepanjang jalan dan angkotnya berhenti tepat di depan loket pembelian tiket kapal.  Tiket menuju Gili Air untuk menumpang perahu umum, sebesar 8ribu per orang, dimana keberangkatan harus menunggu sampai perahu penuh (sekitar 25 orang).  Kalo kamu buru-buru, kamu bisa menyewa perahu dengan harga sekitar 200ribu per perahu, tergantung tujuan kamu apakah ke Gili Air, Gili Meno atau Gili Trawangan.  Ini view yang bisa dilihat di perjalanan menuju dan di Pelabuhan Bangsal :

IMG_7131Pelabuhan Bangsal

 

Begini suasana di perahu umum menuju Gili Air :

barengan sayuuurrkoperkuning numpang foto :D

Perjalanan menuju Gili Air ditempuh hanya sekitar 30 menit.  Ketika sampai, kami ga bisa menahan decak kagum.  Itu airnya beniiiinggg banget dengan nuansa kapal-kapal yang sedang berlabuh.  Begini pemandangan ketika kami sampai di pelabuhan Gili Air :

berlabuhpelabuhan Gili Air

Setelah puas foto-foto, kami bergegas menuju penginapan kami di Gili Air, yaitu Villa Kombok.  Ternyata, penginapan kami ini jaraknya hanya selemparan tombak dari pelabuhan (tsaaahh).  Dekeeet banget!  Pantesan tadi mas-mas yang jemput ke pelabuhan kok cepet banget nyampenya..baru ditelepon, eh udah langsung sampe aja jemputannya.Villa Kombok

Tidak berlama-lama di penginapan, kami langsung menuju ke rencana berikutnya, diving!  Kami sudah booking lewat internet untuk satu kali dive di Manta Dive Gili Air.  Dalam perjalanan menuju Manta Dive inilah saya baru sadar.  Ini Gili Air kok sepertinya lebih banyak bule-nya dibanding orang lokalnya.  Hmmm..penginapan dan dive centre yang ada di sana pun lebih banyak dikelola oleh orang luar, sementara orang lokal hanya membantu membawakan barang atau menyiapkan keperluan dive.

Manta Dive Gili Air

Sesampainya kami di Manta Dive, saya diharuskan untuk mengikuti semacam perkenalan diving karena saya belum mempunyai sertifikasi.  Instruktur yang melatih saya berasal dari Swiss, dan cakep 😀  Temen saya aja sampe iri dan pingin pura-pura belum certified..hihihihi..Setelah selesai menonton video tentang diving dan mengikuti latihan di kolam renang selama kurang lebih satu jam, saya dan teman saya sepakat untuk makan siang dulu di salah satu tempat makan di dekat situ.  Masakannya sih biasa aja..tapi viewnya? Beuuuhh..oiya, kami makan siang ditemani hujan deras, jadi ga yakin deh itu masakan emang biasa aja atau saya yang deg-degan mau diving tapi ujan deres banget sampe ga napsu makan..hehehe..

Ini dia view dari tempat makan kami :

beniiing bangeeettt

Selesai menyantap makan siang, kami pun bergegas kembali ke Manta sesuai waktu yang disepakati.  Tadinya kami pikir karena ujan deras, maka kegiatan diving ditunda.  Ternyata jalan terus tuh..tampak beberapa orang sedang membawa tabung, fin, dan pemberat ke kapal yang akan mengantar kami ke tengah laut.  Kami dibagi menjadi dua kelompok.  Kelompok yang belum certified dan yang sudah.  Waaah, kelompok diving saya kali ini bule semuaaa.. ada yang dari Belanda, Belgia, dan Swiss.  Sempet kepikiran, ini kalo mau minta tolong di dalem laut, ga enak banget yak.  Secara guweh yang orang Indonesiaaa, hahahaha..

Singkat cerita, kami pun dive di spot yang saya lupa namanya. Hehehe..tapi jujur aja, ternyata ga banyak yang bisa dilihat di spot tersebut.  Mungkin karena saya bandinginnya dengan dive spot di Tomia, Wakatobi? Ga tau juga..tapi yang jelas, bule-bule di kelompok saya semuanya pada terkesan dengan apa yang mereka lihat di dalam sana.  Ketika naik ke kapal, ga henti-hentinya mereka bilang “Amazing!”  hehehe..saya boleh sombong ga nih sebagai orang Indonesia? :p

Selesai diving, saya dan teman saya menuju penginapan dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat suasana Gili Air.  Pulaunya tenang, menyenangkan, dan pemandangannya spektakuler.  Apalagi Gili Trawangan yaaa.. Hari itu ditutup dengan tidur cepat karena memang kalo abis diving, energi seperti terkuras banyak..hihihihi *alasan*

Gili Air sore hariGili Air pagi hari

Keesokan harinya, setelah puas berjalan mengelilingi pulau, kami pun kembali ke Pelabuhan Bangsal untuk menuju Pantai Kuta, Lombok.  Kami menyewa mobil dengan harga 200ribu dari Pelabuhan Bangsal menuju penginapan di Pantai Kuta.  Penginapan apa? Lagi-lagi kami belum tau..hehehe..

Di perjalanan menuju Pantai Kuta, kami mampir sebentar ke Sasak Village, desa penduduk asli Lombok yang rumahnya berasal dari kotoran sapi.  Jangan membayangkan rumahnya kotor dan bau ya, karena sama sekali ngga.  Kami ditemani oleh seorang guide yang menjelaskan tentang asal muasal rumah tersebut dan beberapa kebiasaan yang dianut oleh penduduk desa Sasak.  Guide ini tidak mematok bayaran, hanya seikhlasnya kita mau memberi berapa.  Oh iya, di sini kita diperbolehkan untuk mencoba pura-pura sedang menenun dan berfoto.  Konon katanya, wanita yang sudah bisa menenun berarti sudah diperbolehkan untuk berumah tangga. hihihi..dan ternyata menenun itu susah euy, harus detail dan telitiiii.

sasak villagesalah satu rumah pendudukmenenunmenenun juga

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Pantai Kuta yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari Desa Sasak.  Berdasarkan rekomendasi dari Bapak yang mengantar kami, kami pun menginap di Seger Reef.  Penginapannya berupa bungalow berkipas angin dengan harga 200ribu per malam termasuk sarapan untuk 3 orang.  Lagi-lagi, kami mengeluarkan jurus menawar, dan berhasil lagiii..ihiiiiy!! Tadinya saya pikir namanya Sugar Reef, eh tapi ternyata bener lho Seger Reef..hehehe.

Penginapannya sendiri bersih dan cukup nyaman.  Ini fotonya :

bungalow di Seger Reef

akhirnya ada juga foto dalem kamar :)
akhirnya ada juga foto dalem kamar 🙂

Selesai mandi dan istirahat sebentar, kami pun mencari makan di restoran yang ada di sebrang penginapan.  Target kami malam ini harus makan ayam taliwang, secara besoknya kami sudah harus pulang ke Jakarta.  Ternyataaa, pemandangan di restoran sebrang itu bikin kami terpana *tsaaahh.  Gimana ngga, di depannya ada laut yang tidak menyerupai laut, tapi lebih seperti danau saking tenangnya.  Dan karena hari sudah sore, warnanya pun berubah menjadi kelabu.  Begini pemandangannya :

 

view dari tempat makan
view dari tempat makan

IMG_7275IMG_7274

suasana malam harinya
suasana malam harinya

Kami menghabiskan waktu hingga malam hari di restoran tsb. karena seneng dengan suasananya yang tenang.  Rasa ayam taliwangnya sih tidak terlalu enak, tapi makanan lainnya lumayan.  Oh iya, teman-teman saya mencoba kopi Lombok yang katanya sih rasanya enak.  Yang mengganggu di sini adalah banyaknya anj*ng liar berkeliaran yang menunggu kita untuk memberi makan.  Di sini juga banyak anak-anak penjual gelang yang sepetinya tidak bisa ditolak, hehehe..saya biasanya kan nolak dengan kata-kata “nanti ya..” eh beneran lho ditungguin *tepokjidat

Besoknya, kami menyempatkan diri menuju Tanjung Aan yang berjarak 30 menit menggunakan mobil.  Ga nyesel deh bela-belain ke Tanjung Aan, karena pemandangannya baguuuusss bangeeetttt. Begini nih :

Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok
Tanjung Aan, Lombok

Dan ini bonus foto-foto yang saya ambil pas jalan-jalan pagi di sekitar penginapan..Awannya baguuuusss banget ya :

IMG_7329 IMG_7349IMG_7326

 

Sekian cerita perjalanan saya ke Lombok, mudah-mudahan bisa ikutan ngerasain tenang dan indahnya Lombok yaaa..sampai ketemu di perjalanan koperkuning berikutnyaaa..

tsaaahhh
tsaaahhh

Agra

Jam 6.15 pagi kami sudah siap menuju Nizammudin Railway Station untuk naik kereta ke Agra..ternyata dari hotel ke NRS cukup jauh, sekitar 1 jam perjalanan..Alhamdulillah karena masih pagi, jadi keadaan lalu lintas di Delhi tidak macet dan udaranya pun masih segar.  Secara kami ke sana pake auto-rickshaw (sejenis bajaj) gitu, jadi lumayan juga debunya kalo siang-siang.

Setelah sampai di NRS, situasinya sudah ramai sekali.  Kami bergegas menuju peron 10, dimana kereta ke Agra berada.  Penampakan keretanya ternyata kayak kereta jaman dulu, trus jendelanya ada besi-besi teralis gitu.  hehehhe..berasa kayak lagi syuting film India yang tembak-tembakan, kayak kereta penjara soalnya.

Kereta datang setengah jam sebelum keberangkatan. Karena kondisi yang ramai, kami pun bergegas untuk mencari gerbong tempat duduk sesuai dengan yang tertera di tiket.  Tidak usah khawatir tidak kebagian tempat duduk, karena walaupun naiknya rebutan, tapi masing-masing ada nomer tempat duduknya kok..Tepat pukul 8.05, kereta pun berangkat menuju Agra.  Kali ini perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Lumayan, buat tidur lagiiii..heheh..

Sesampainya di Agra, kami dikerubuti oleh banyaaakkk banget pengemudi auto rickshaw yang menawarkan jasanya untuk mengantar ke tempat-tempat wisata.  Akhirnya, karena bingung juga naik apa dari situ ke Taj Mahal, kami setuju untuk menggunakan salah satu rickshaw dan membayar 500 rupee di loket yang yang ternyata loket resmi jasa rickshaw untuk turis.  Untuk harga tersebut, kami akan diantar ke Taj Mahal, Mini Taj Mahal, Agra Fort, Yamunaa River dan ada 1 lagi tempat wisata, saya lupa namanya.  Tour akan berakhir pukul 6 sore dan kami akan diantar kembali ke stasiun.

Taj Mahal

Menurut informasi, hari itu adalah hari wisata di India, sehingga ada kemungkinan untuk masuk ke Taj Mahal tidak dikenakan biaya.  Tapi ternyataaa kabar itu hanya isu..hehehe..kami tetap diharuskan untuk membeli tiket seharga 750 rupee per orang.  Lagi-lagi, untuk Indian, hanya dikenakan biaya 20 rupee, tapi antriannyaaaa uwoooww..Untuk masuk ke gerbang pun terjadi pemisahan antrian antara Indian dan turis, sehingga kami bisa langsung masuk tanpa perlu mengantri panjang.  Setelah masuk gerbang, ada pemeriksaan tas, dimana makanan, korek api dan barang-barang yang dianggap bisa mengganggu, harus dikeluarkan dari tas dan tidak boleh dibawa masuk.  Daaann, inilah diaa..Taj Mahaal..saya dan Kiki sampe lompat-lompat saking girangnya.  Gimana ngga, bangunan yang tadinya hanya kami lihat di internet atau kartu pos, sekarang berdiri megah di hadapan kami.

Untuk masuk ke dalam Taj Mahal, kita diharuskan untuk memakai shoe cover, yang seharusnya diambil di dekat loket pembelian tiket.  Tapi karena kami tadi terburu-buru dan ga ngeh, maka kamipun tidak punya shoe cover tersebut.  Hmmm..masa udah sampe sini tapi ga masuk sih.  Untungnya, penjaga bilang dia punya shoe cover yang bisa kami pake..Kami pun lega. fiuuuhhh..bisa masuk dong nih..masalah terpecahkaaann.  Eh tapi ntar dulu. Si penjaga ternyata membuka tong sampah di dekat situ, dan mengorek-ngorek tong sampah tersebut, nyari shoe cover untuk kami.  errrrhhhh..kamipun langsung bilang “gimana kalo saya keluar dulu ke loket tadi, ngambil, trus balik lagi kesini” eeehh ternyata si penjaga punya yang baru, tapi kami harus bayar 20 rupee per orang..gpp deeehhh!!

Akhirnya, kamipun masuk ke Taj Mahal.  Oiya, ternyata tanpa shoe cover pun bisa tetep masuk, asalkan kita lepas sendal/sepatu dan ditaro di depan bersama dengan sendal/sepatu ratusan pengunjung lainnya.  Jadi ada resiko tertukar atau pun hilang.  Di dalam, terdapat makam Raja dan istri yang diberi pagar, sehingga kita cuma bisa ngintip dari celahnya.  Harus diingat bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil foto.  Karena walopun keliatannya penjaganya ngantuk, mereka tetep tau lho kalo ada yang “bandel” dan nekad ngambil foto.  Makamnya mewaaahhh dan suasanya adeeemmm banget.  Beda sama di luar yang panas terik.

Setelah puas, kami pun pergi ke tujuan berikutnya, Agra Fort.

Dari Agra Fort, kami menuju Little Taj Mahal dan berhenti di Yamuna River dulu untuk mengambil foto.  Di Yamuna River ini lagi banyak kerbau yang berendam dan terlihat dari jauh seperti kutu.  Dan itu ternyata termasuk ke dalam objek wisata. hehehe

Karena panas terik dan sepertinya tempat wisata yang akan kami kunjungi tidak begitu menarik, maka kami memutuskan untuk minta diantar ke Cafe Coffee Day (inget kan, tempat ngopi happening) dan numpang wifi disana..hehehe..

Di tengah perjalanan, pengemudi auto rickshaw kami yang bernama Bablu memberikan sebuah buku yang sudah tampak kusam.  Ternyata itu buku yang berisi tentang testimoni orang-orang yang sudah memakai jasa Bablu untuk tour di Agra.  Banyak lho, satu buku penuh dan isinya positif semua.  Bablu meminta kami untuk membaca dan menulis testimoni di buku baru. huhuhuhu saya dan Kiki sempet terharu pas baca buku itu.  Apalagi setelah apa yang kami alami di Delhi, dimana orang-orangnya seperti mencari kesempatan dalam kesempitan mengambil untung dari para turis.  Bablu ga seperti itu bangeeettt.  Buat yang mau ke Agra dan butuh jasa auto rickshaw, bisa hubungi Bablu di +91 95-48-260799 ya.  Insya Allah gakkan “dikerjain” 🙂

Kami berpisah dengan Bablu di kedai kopi dan menunggu disana sampai jam 5 sore.  Kami sempet mampir juga ke KFC untuk membeli makan malam karena khawatir nanti di Delhi sudah terlalu malam untuk mencari makan.

Selesai sudah petualangan di Agra kali ini.  Jujur buat saya, tournya sendiri kalah berkesan dibandingkan dengan kesan yang ditinggalkan si pengemudi rickshaw, Bablu 🙂