Soul Trip – Siem Reap (2)

Hari kedua di siem Reap.  Rencananya hari ini saya mau ke floating village yang letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari tempat saya menginap.  Abang tuktuk sudah siap mengantar saya jam 9 pagi, dan dengan perbekalan air minum yang lebih banyak dari kemarin, berangkatlah saya membelah asap di kota Siem Reap *ciyeeh*.

Di perjalanan, kami melewati perkebunan lotus yang baguuusss banget.  Abang tuktuk menawarkan untuk berhenti sebentar dan mengambil foto di tempat tersebut, langsung deh saya setuju.  Ternyata, biji bunga lotus ini bisa dimakan lho dan rasanya kayak edamame cuma agak bergetah dikit.  hehehe.  tapi saya ga berani makan banyak-banyak karena waktu itu belum makan nasi (maklum, perut Indonesia).

Setelah puas berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan.  Abang tuktuk mengingatkan bahwa nanti petugas perahu akan mengajak saya ke sekolah untuk anak-anak tidak mampu dan menawarkan untuk memberikan sumbangan.  Kalo kita setuju, kita akan dibawa ke toko sembako yang harganya mahaaall banget.  Jadi, kalo nanti ditawarin, lebih baik menolak aja.  Baiklaaahhh.

Tiba di tempat tujuan, saya membeli tiket dan langsung menuju perahu yang akan membawa saya menyusuri sungai.  Saya sendiriaaan di perahu ituuu, ditemani dua orang yang mengemudikan.  Di perjalanan itu saya sih ga terlalu excited ya, karena hampir mirip dengan yang pernah saya ikuti di Ho Chi Minh.  Saya diajak ke tempat penangkaran buaya, trus ada toko-toko souvenir gitu, dan beneeerr, diajak untuk memberikan bantuan ke sebuah sekolah gitu.  Untung aja saya udah diberi info sebelumnya, jadi saya siap.. siap menolak.  hehehe..

Selesai dari floating village (jauh lebih bagus yang di Wakatobi), saya minta diantar ke penginapan untuk makan siang dan belanja oleh-oleh di pasar dekat situ.

jadwal bis floating village warga floating village floating village Siem Reap floating shop

Selesai berbelanja oleh-oleh, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan dan packiing.  Besok pagi-pagi saya harus berangkat ke Bangkok 🙂

 

Soul Trip – Phnom Penh

Kamboja, adalah salah satu negara yang pingin banget saya kunjungin.  Padahal, saya ga nonton Tomb Rider, jadi saya ga tau semenarik apa Kamboja yang ada di film itu.  hehe..saya pingin ke Kamboja, karena sepertinya negara ini salah satu tujuan buat yang pingin menenangkan diri *halah*  Ga tau kenapa, saya selalu pingin ke negara -negara yang di brosurnya itu ada Monk, entah lagi baris, entah lagi nyebrang danau, atau lagi melakukan ritual keagamaan.  Jadi daya tarik tersendiri buat saya.

Karena itulah, akhirnya saya pun menyusun perjalanan yang saya beri judul Soul Trip.  Rute awalnya : Jakarta – Ho Chi Minh- Phnom Penh – Siem Reap – Bangkok – Vientiane – Luang Prabang – Vientiane – KL – Jakarta.  Huwaaa panjaaaang, dan sebagian dilakukan melalui jalan darat.  Waktu perjalanan tesebut sekitar 12 hari, dan karena saya pergi sendirian, sayapun berjanji kalau memang saya gentar untuk melakukan rute tersebut, saya bisa pulang kapan aja.  Itu janji saya ke keluarga saya sih sebenernya. hehehe..

Petualangan pun dimulai.  Saya berangkat menuju bandara sambil deg-degaaann dan menguatkan tekad kalo saya bisa.  Tujuan pertama saya adalah Ho Chi Minh untuk transit menginap satu malam dan melanjutkan perjalan ke Phnom Penh keesokan harinya.  Semua penginapan di masing-masing kota sudah saya pesan melalui booking.com kecuali penginapan di Laos, karena saya masih belum memastikan tanggal berapa saya akan berangkat kesana.

Setelah sampai di Ho Chi Minh, saya memesan taksi ke penginapan di daerah Benh Tanh, yang merupakan daerah backpacker disana.  Di daerah ini, banyak terdapat penginapan murah, tempat makan dan travel agent, sehingga saya pun langsung memesan tiket bis ke Phnom Penh untuk keberangkatan besok pagi jam 8.45.  Tiket yang saya beli adalah bis dari Kumho Samco Travel seharga 10 USD dengan lama perjalanan 6 jam.

Di bis, kondektur akan mengumpulkan paspor dan uang untuk membayar visa.  Beruntungnya bagi WNI, Kamboja sudah memberlakukan bebas visa.  Lumayan, penghematan.  Nanti di imigrasi Vietnam, seluruh penumpang diminta turun dan menunggu sampai namanya dipanggil oleh petugas dan paspor dikembalikan setelah di cap keluar.  Penumpang yang telah menerima paspornya kembali, dipersilakan untuk naik ke bis yang telah menunggu tidak jauh dari pintu keluar.  Ketika turun di imigrasi ini, penumpang hanya membawa barang-barang yang diperlukan.  Selain itu, bisa ditinggal di bis.

Sesampainya di Phnom Penh, sudah banyak tuk tuk yang mengerubungi kita untuk mengantar ke penginapan.  Saya menawar tuktuk seharga 2 USD untuk meengantar ke Circuit Hotel, penginapan saya.  Sebelum naik tuktuk, saya menyempatkan diri membeli tiket ke Siem Reap untuk keesokan harinya.  Tiket seharga 12 USD dengan lama perjalanan 8 jam.  Harga tiket tersebut memang lebih mahal dibandingkan bis lain yang rata-rata hanya 8-10 USD.  Jadi, kalau memang waktunya memungkinkan, bisa membeli tiket bis di daerah Old Market, katanya banyak agen bis dengan harga bersaing.

Tujuan saya di Phnom Penh adalah sebagai berikut :

1.  Tonle Sap River

2.  Royal Palace

3.  Warung Bali, warung ini terkenal sekali di kalangan para backpackers Indonesia yang ke Phnom Penh.  Letaknya ada di dekat Royal Palace.  Kalo kita berjalan di jalanan utama sisi Royal Palace, sebelumnya ada belokan ke kanan, nah belok situ, nanti Warung Bali ini ada di sebelah kanan.  Lumayan buat yang kangen dengan masakan Indonesia 🙂

4.  Old Market

 

Memang tidak banyak tempat yang saya kunjungi, karena waktu saya di Phnom Penh juga hanya 1 malam.  Beruntungnya, tempat-tempat tersebut letaknya berdekatan dan tidak jauh dari penginapan saya.  Jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki.  Setelah itu, sayapun siap melanjutkan perjalanan saya menuju Siem Reap.