Seumur hidup saya, hampir tidak pernah saya iri dengan kehidupan orang lain dan apa yang orang lain miliki. Saya percaya, semua orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang sama, dengan kesempatan untuk melihat dunia dan menikmati hidup yang sama sesuai dengan caranya masing-masing. Tapi ternyata kepercayaan itu sedikit demi sedikit mulai saya pertanyakan. Kenapa? Begini ceritanya..*tsaaahh.
Beberapa bulan yang lalu, saya mengiyakan ajakan salah seorang teman saya untuk jalan-jalan ke London. Gimana ga langsung iya, bagi penggemar Harry Potter dan Sherlock Holmes seperti saya, UK termasuk ke dalam negara impian yang sangat amat ingin saya datengin.
Sebagai WNI, tentunya langkah pertama yang harus kami siapkan adalah mengurus visa. Semua dokumen saya siapkan hanya dalam waktu seminggu dan kami meminta bantuan teman saya yang bekerja di travel agent untuk mengurusi visa kami tsb. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, visa kami belum ada kabar. Saya yang merasa tidak pernah bermasalah dalam mengurus visa, merasa tenang-tenang saja dan santai dalam menunggu keputusan apakah visa kami approved atau ngga. Buat saya, visa approved ya berangkat..visa ga approved ya ga jadi..Sesederhana itu. Berbeda dengan teman saya, teman saya ini pernah kuliah dan menghabiskan beberapa tahun hidupnya di London. Tapi karena pernah punya pengalaman ditolak visanya oleh salah satu negara yang memang terkenal sulit mengeluarka visa (apalagi waktu itu bertepatan dengan bencana dunia), sehingga teman saya ini cukup ketar ketir dengan hasil keputusan visa kami. Saya yang merasa kami tidak punya masalah dengan dokumen dll, ya berusaha menenangkan dan meyakinkan kalau Insya Allah visa tsb approved.
Setelah menunggu selama kurang lebih 1,5 bulan, akhirnya ada keputusan mengenai visa saya, dan ternyata visa saya ditolak. Wah, lumayan lemes sih dengernya. Tapi lagi-lagi, saya mikirnya sederhana aja.. visa ditolak, ya ga jadi berangkat dan bisa dicoba lagi lain kali di kesempatan yang lebih pas. Ternyata, masalahnya tidak sesederhana itu. Alasan penolakan visa saya adalah karena katanya akte lahir saya palsu, surat keterangan kerja saya palsu, tiket pesawat dan tanda booking hotel saya palsu. Dan karena alasan dokumen palsu itulah, jika saya apply visa lagi, kemungkinan akan terus ditolak selama 10 tahun. Dari situ saya mulai drop. Saya yang tadinya berkeyakinan bahwa dunia ini bisa dinikmati tanpa batas, mulai merasa bahwa semua itu ternyata ada batasnya, even dreams.
Teman saya, yang ternyata visanya approved, mencoba menghibur saya. Katanya, dunia ini masih banyak yang bisa dijelajahin. Bener sih, Indonesia aja mungkin gakkan habis kalo mau saya explore satu-satu. Tapi sebenernya bukan itu masalahnya. Yang bikin saya drop adalah karena kejadian itu seperti menampar saya tentang banyak hal. Apa aja? Beberapa yang bisa saya share disini adalah kita ga boleh buru-buru dalam mempersiapkan dokumen penting, harus dicek 1-1 dengan teliti dan disamakan dengan permintaan pihak kedutaan. Kedua, kalo bisa kita urus segala sesuatunya sendiri, termasuk apply ke pihak kedutaan. Karena nanti kalo ditolak dan dapet kejadian seperti saya, toh kita yang akan menanggung, bukan pihak travel agent atau pihak lain.
Saya sempet iri dengan seorang kenalan yang merupakan anak dari salah satu menteri. Saya lihat foto-fotonya, bulan ini bisa keliling Eropa, dua bulan lagi sudah ada di New York. Bahkan di hari ulangtahunnya aja, dia bisa ke London mengunjungi pacarnya, meskipun hanya memanfaatkan long wekeend. Tapi trus saya mikir, mungkin kalo saya jadi dia, saya ga akan terlalu menikmati perjalanan saya karena saking mudah dan seringnya saya pergi jalan-jalan. Jadi saya sekarang aja suka merasa “dipaksa” cepet move on kok dari satu trip ke trip lain, karena baru kelar trip ini, udah harus nyusun itinerary trip berikutnya..lebih ke urusan nyusun budget sih..hehehe..Sesuatu yang kita dapet dengan perjuangan itu Insha Allah akan lebih berasa artinya kan yah 🙂
Sejak itu, saya agak trauma untuk jalan-jalan, kemanapun itu. Tapi trus saya sadar, Allah menciptakan dunia ini ga cuma sebatas UK, dan kejadian itu bukan tanpa alasan. Hikmahnya pasti ada. Salah satunya, saya jadi lebih fokus jalan-jalan ke daerah-daerah Indonesia yang sangat worth it untuk dikunjungi. Sekarang saya sudah bisa menuliskan cerita ini dengan senyum dan hati yang lapang (tsaaah). Tujuan saya menulis ini supaya siapa aja yang sedang berencana untuk apply visa, bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya. Dan tentunya, supaya kamu, yang merasa pernah punya mimpi dan ternyata drop, bisa bangkit lagi dan mengambil hikmahnya ya 😉
Terimakasih sudah membaca dan sampai ketemu di tulisan berikutnyaaaa..
Kirain visa ke us aja yang susah.uk jg ya tnyata
Iyah Mba, susah euy. Tapi kalo syaratnya lengkap sih kayaknya lancar-lancar aja..kalo UK nih masalahnya ga face to face sih yaaa, jadi kita ga bisa jelasin apa-apa. Kalo US kan wawancara langsung, baru ditentuin approved ata ngganya, jadi bisa jelasin kalo ada dok yang menurut mereka “aneh”. hihihihi