Ini adalah perjalanan pertama saya di tahun 2013., sekaligus perjalanan terjauh saya di Indonesia. Tiket sudah saya beli dengan promo early bird Garuda Indonesia, “cuma” Rp 1,4 juta PP. Jauh lebih murah dibandingkan harga normal yang katanya segitu cuma untuk one way. Ihiiiiyy. Sering-sering cek ke situsnya ya untuk tau promo apa yang sedang berlangsung.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari Jumat malam tanggal 25 Januari 2013, saya berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta untuk lepas landas (ciyeeh) ke Ambon naik penerbangan tanggal 26 Januari pukul 00.40. Karena abis ngurus kerjaan dulu sebelum berangkat, kesana sini ngurus ini itu, alhasil di pesawat pun saya langsung tidur pules. Bahkan pas transit di Makassar pun saya tak kuasa untuk membuka mata saya. Bangun-bangun, pesawat sudah terbang lagi dan lihat pemandangan kayak gini dari jendela saya. Langsung deh ceprat cepret kamera dan rasa ngantuknya ilaaanggg.
Hari Pertama
Mendarat di Ambon, saya sudah dijemput oleh teman saya yang kebetulan kerja disana. Setelah diantar ke hotel, sayapun istirahat sebentar dan siap-siap keliling Ambon dengan diantar Pak Taju. Pak Taju ini adalah orang yang akan mengantar saya kemana-mana, naik motor. Hehehe..senagaja saya pilih keliling-keliling naik motor, karena lebih murah, dan yang lebih penting, bisa sambil moto-moto kalo ada pemandangan bagus di perjalanan. Oiya, hari pertama ini saya menginap di Hotel Amaris, dengan harga 340ribu per malam. Letaknya strategis di tengah kota dan di bawah ada KFC, lumayan kalo laper malem-malem. hehe. Rencananya, hari ini saya akan ke Pintu Kota, Gong Perdamaian, melihat sunset di Karang Panjang, dan makan nasi kalapa di daerah Bukit Merah.
Pintu Kota bisa ditempuh dengan waktu 40 menit dari hotel saya dengan pemandangan sepanjang jalan seperti di bawah ini :
Sampai di Pintu Kota, kita harus membayar Rp 5000 per orang di gerbang masuknya. Dan setelah menaiki tangga dan turun ke bebatuan, sampai deh saya di Pintu Kota, yang ternyata cuma seperti lubang di batu yang menyerupai pintu. Tapi pemandangan sekitarnya, baguuuuss banget..
Setelah puas foto-foto, saya pun memutuskan untuk mampir ke pantai terdekat dari Pintu Kota, namanya Pantai Namalutu. Di sini pun kita diharuskan membayar 2ribu per orang. Pantainya sepiiii, banyak tempat duduk di pinggir, dan anginnya kenceng. Mungkin karena anginnya yang kenceng itulah, makanya pohon-pohon disini semuanya miring. hehehe.
Tempat selanjutnya adalah Karang Panjang untuk melihat sunset. Di sini juga terdapat patung salah satu pahlawan Maluku, Martha Christina Tiahahu yang berdiri gagah menghadap ke laut sambil memegang tombak. Jadi sambil menunggu sunset, bisa foto-foto duluuu. Untuk masuk ke dalam lingkungan taman ini, kita harus membayar 5ribu per orang. Sayangnya waktu itu matahari tertutup awan, jadi sunsetnya kurang sempurna. Tapi, rasa kecewanya terobati karena setelah selesai sunset, kita bisa melihat pemandangan kota Ambon dari atas sini. Lampu-lampunya baguuuusss.
Puas memandangi lampu-lampu kota Ambon di malam hari, saya pun beranjak menuju Bukit Merah untuk makan nasi kalapa dan ikan bakar. Di daerah tersebut, ada warung tenda yang ramaiiiiii sekali pengunjungnya. Ketika saya kesana, warungnya belum buka dan makanannya belum siap, tapi yang antri sudah banyak banget. Wah, saya jadi tambah penasaran dan tambah laper pastinyaaaa. haha. Saya memilih menu nasi, ikan bakar dan udang, meskipun menu lain pun terlihat sangat menarik. Selain ikan dan udang, ada juga telur balado, bakwan, ayam goreng, dll. Ternyata nasi kalapa ini semacam nasi uduk yang diberi taburan kelapa seperti yang biasa kita temukan di sayur urap. Rasa ikannya, maknyuuuss. Disajikan dengan kuah yang rasanya asem, pedes, seger gitu. Enak deh. Sayangnya saya ga sempet foto makanan disini karena saking lapernya langsung saya santap.
Setelah makan, saya mengajak Pak Taju untuk mengantar saya ke Gong Perdamaian yang terletak di dekat Lapangan Merdeka. Katanya, kalo ke sini, lebih bagus di malam hari. Tapi kok buat foto-foto ga terlalu jelas ya. huhuhu..Konon katanya Gong Perdamaian ini dibuat sebagai simbol perdamaian di Maluku, sehingga ke depannya diharapkan tidak ada konflik dan pertikaian lagi. Di bagian bawah gong ini terdapat pintu menuju bawah tanah yang ternyata museum yang isinya foto-foto bersejarah tentang konflik yang pernah terjadi di Ambon beberapa tahun yang lalu.
Selesai sudah perjalanan hari ini, waktunya istirahat karena besok pagi saya akan berenang di Pantai Liang. Ihiiyy..! Oiya, di perjalanan, Pak Taju sempet nanya ke saya “ke Ambon hanya ronda-ronda?” saya pun bingung sambil mikir, jauh banget ronda di Ambon. Hahah..ternyata, ronda-ronda itu maksudnya adalah keliling-keliling, hihihi.
Hari Kedua
Sesuai rencana, saya dijemput oleh teman saya beserta istri dan anaknya untuk main-main air di Pantai Liang. Kenapa Pantai Liang? katanya karena garis pantainya lebih banyak, dan suasana tidak terlalu ramai, jadi bisa lebih leluasa. Perjalanan ke sana ditempuh dengan waktu 1 jam menggunakan mobil. Teman saya sudah siap membawa ikan segar dan peralatan bakar-bakaran untuk kami makan siang disana. Ternyata di Ambon, bakar-bakaran ikan di pinggir pantai bebas dilakukan oleh pengunjung. Asik banget yaaa?
Sampai disana, kami bergegas mencari tempat yang teduh dan tidak mengganggu jika mau bakar-bakaran ikan. Setelah ketemu dan menyewa tikar, kamipun mulai menyiapkan api, arang dan ikan. hmmmm..makan siang langsung dengan pemandangan laut ternyata menimbulkan selera makan besar-besaran bagi saya, ga lupa dengan minuman kelapa muda yang airnya manis dan segar.
Setelah kenyang dan puas main air, kami menuju ke Desa Morea, dimana terdapat ikan belut raksasa. Ternyata, tempat belut ini berada adalah di sebuah muara yang dipakai mencuci oleh penduduk setempat. Belut ini harus dipancing dengan telur rebus dulu agar mau keluar dari lubang persembunyiannya.
Karena si belut tidak mau terlalu lama menampakkan diri, maka saya dan teman saya pun tidak berlama-lama di tempat tersebut. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Nastepa untuk makan rujaknya yang terkenal itu. Buat yang suka pedes, tentukan sendiri ya jumlah cabenya. Karena standar pedes disana adalah kalo cabe-nya dua, dan pas dicoba rasanya masi maniiiss bangeett. Tapi memang rasa bumbunya enaaak, kacangnya banyaakk. Selama saya disana, 3 kali saya bungkus untuk dimakan di hotel dan rasa yang paling enak adalah setelah pembelian ketiga dengan cabe 6. hehehehe. Ini penampakannya :
Setelah kenyang banget (ya iyalah makan muluk), saya pun diantar ke hotel. Malam ini, saya menginap di Aston Natsepa Resort and Spa yang ada di dekat Pantai Natsepa. Memang rencananya saya mau leye-leye aja di hotel sampe besok siang, jadi cari hotel yang ada fasilitas kolam renang dan menghadap langsung ke pantai deh.
Hari ketiga
Hari ini saya berencana beli oleh-oleh di daerah kota dan mau nongkrong-nongkrong lucu di warung kopi terkenal di Ambon, Warung Kopi Sibu-Sibu. Hari ini saya juga pindah hotel lagiii, ke Baguala Resort yang letaknya tidak jauh dari Hotel Aston. Saya tertarik menginap di Baguala Resort ini karena pemiliknya sama dengan pemilik Ora Beach Resort yang ada di Pulau Seram. Jadi saya pikir, wah pasti kerennya hampir sama nih. hehehe. Ketika check in, saya sempet kecewa juga dengan keadaan kamarnya. Lembab dan sepertinya tidak terawat dengan baik. Tapi saya pikir, toh cuma numpang tidur aja dan besok pagi-pagi buta saya sudah harus berangkat ke Bandara, jadi ya udahlah yaaaa.
Setelah menaruh barang dan bersiap seperlunya, saya pun langsung berangkat menuju Toko Petak Sembilan untuk membeli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Ambon cukup beragaam, saya sampe bingung milihnya. Saya pun memilih bagea kenari, kacang kenari dan minyak kayu putih untuk keponakan saya di Jakarta.
Beres urusan oleh-oleh, saya minta diantar Pak Taju ke Warung Kopi Sibu-Sibu untuk sekedar minum kopi dan ngemil. Ternyata, warung kopi ini jauuh di atas harapan saya sebelumnya. Warung yang dihiasi dengan foto-foto orang terkenal dari daerah Maluku, musik khas daerah Maluku, dan kipas angin, menjadikan warung ini tempat yang cocok untuk ngobrol, atau kalo orang Jakarta, kerja kali ya :p.
Selesai bersantap dan menghilangkan penat, saya minta diantar ke Lapangan Merdeka karena mau foto di tulisan iniiii :
Sekian cerita saya di Ambon, semoga bisa ikut menikmati bagusnya pemandangan di kota ini yaaa.. walopun panas dan mungkin saya yang paling rempong naik motor sambil pake sarung Bali buat nutupin badan, tapi saya tetep pingin balik lagi ke sana. Ambon memang Manise!
penampakan rujaknya kayak rujak manis kalau di surabaya. itu petisnya gelap ya mas?
iyaaa ini juga rasanya maniiiisss..petis itu bumbunya ya? iya gelap karena gula merah disana warnanya lebih pekat..
itu gula merah ambon…warnanya gelap..tidak seperti gula jawa..warna terang.
iya..di Ambon gula merahnya lebih gelap yaaa..terimakasih sudah baca-baca koperkuning 🙂
Mas ciwiiii, next time kesana diving yuks sekalian, pasti makin terasa manise! wkkwkw
wkwkwkwkkwk..ok Om mircemploonnn..selama ini baru menyelam di hatimu aja niiihhh 😀