Pernah denger tentang Tanjung Bira? Jujur saya awalnya ga tau Tanjung Bira tuh dimana. Pas diajakin kesana sama temen saya, saya juga ga terlalu tertarik. Tapi ketika saya browsing, beuuuuuh, saya langsung terpikat dengan pasirnya yang putih dan pantai cantiknya yang bergradasi antara warna biru, biru muda, dan hijau.
Keinginan saya untuk ke Bira pun makin kuat ketika saya lihat foto-foto Amatoa Resort, sebuah penginapan dengan tempat tidur menghadap pintu geser dengan pemandangan langsung laut. Belum lagi sofa-sofa birunya yang berjejer, juga menghadap laut, yang sepertinya nyaman banget buat leye-leye. Di pikiran saya, boleh kali nih semalem aja nyobain nginep di Amatoa. Malem lainnya baru pindah ke penginapan yang lebih murah. Hehehe..
Ga pake lama, saya dan teman saya mulai mencari tiket menuju Makassar. Alhamdulillah ada promo Air Asia, sehingga kami dapet harga murah banget, sekitar 360ribu PP. Sayangnya tiket kami waktu itu terpaksa hangus karena temen saya berhalangan, dan saya agak jiper pergi sendirian karena malem sebelumnya saya mimpi ga enak. Bukan tipe yang percaya mimpi sih, tapi entah kenapa waktu itu ragu-ragu mau berangkat, dan saya selalu percaya kata kakak saya “kalo ragu-ragu mendingan ga usah” 🙂
Ternyata bulan Maret 2014 kemarin, saya ditugaskan training di Makassar selama 4 hari. Wiih, langsung deh nyusun rencana untuk extend selama 3 hari dan kabur sebentar ke Bira. Sayangnya, Amatoa Resort waktu itu fullybooked oleh serombongan turis Belanda. Hffftt..gpp deh, yang penting ke Bira.
Perjalanan ke Bira bisa ditempuh dalam waktu 4 jam dari Makassar dengan menggunakan mobil. Alternatif pertama adalah menggunakan bis dari Terminal Malengkeri, alternatif kedua dengan menggunakan travel BMA, dan alternatif ketiga dengan menyewa mobil. Saya dan teman saya memilih alternatif kedua, karena sesuai budget, dan mobilnya pun nyaman (kursinya besar dan tidak berdesak-desakan). Ongkos dari Makassar ke Bulukumba menggunakan travel ini sebesar 85ribu per orang, termasuk roti dan mineral water. Dari Bulukumba, kita harus naik angkutan umum lagi ke Tanjung Bira.
Setelah sampai di Bira, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan. Pilihan pertama jatuh ke Sunshine Guesthouse, karena sepertinya hampir semua web yang kami baca mengenai Bira, merekomendasikan penginapan ini. Sayangnya, lokasi Sunshine Guesthouse ini agak masuk ke dalam dan jalannya menanjak (terletak di atas bukit) sehingga agak kurang nyaman buat kami yang bawa-bawa koper dan perlengkapan training lainnya. Kami pun kembali berkeliling dan melihat beberapa alternatif lain, seperti Anda Beach Hotel, Sapolohe Hotel, dan Bira View Inn. Waktu itu akhirnya kami memilih Bira View Inn karena langsung menghadap laut dan dekat dengan keramaian. Pemandangan dari Bira View Inn ini luar biasa indahnya, kita pun bisa langsung nyemplung ke laut dari depan kamar, karena disediakan tangga untuk turun. Sayangnya, penginapan ini tidak terawat dengan baik dan butuh renovasi, padahal letaknya sejajar dengan Amatoa Resort, hanya berjarak sekitar 100 meter saja, otomatis viewnya sama kan ya? Hihihihi..Harga per malam di sini 350 ribu tidak termasuk makan pagi.

Setelah meletakkan barang-barang dan istirahat seperlunya, kami memutuskan untuk berenang di laut depan kamar. Airnya yang jernih dan ombaknya yang tenang membuat kami betah berlama-lama berenang di situ. Apalagi ketika sunset, itu pemandangannya spektakuler banget. Baru kali itu saya duduk di laut dan berenang beratapkan langit dengan pemandangan seperti itu. Saya dan teman saya keasikan ngobrol sampai ga terasa hari udah gelap dan kami pun pulang ke kamar.


Malamnya, kami mencoba makan malam di restoran berbentuk perahu yang ada di Anda Beach Hotel. Makanannya sih so-so ya rasanya, tapi makan ditemenin dengan bunyi debur ombak itu berasa enak banget aja kayaknya..hihihihi..Mungkin kalo agak sore, pemandangannya bagus banget karena lautnya masih terlihat.
Hari kedua di Bira, kami berencana untuk snorkeling dan menyewa kapal ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang. Karena katanya perjalanan ke Pulau Kambing lebih jauh, maka Bapak yang punya kapal mematok harga 400ribu untuk 2 pulau tsb. Kami yang udah semangat banget mau snorkeling pun langsung setuju dan melajulah kami berdua dengan speedboat sewaan. Udah berasa kayak liburan bareng Tau Ming Tse dah karena berasa punya speedboat pribadi. Uhuuuyyy.
Sayangnya, kami salah strategi. Kami sarapan pake mie instan yang diseduh dengan bumbu maghtegh banget, jadi kami mual di kapal karena pas banget juga ombaknya lagi gede. Pas snorkeling apalagi, mau turun kapal aja susaaahhh karena terombang ambing ombak.
Oiya, mau cerita sedikit tentang kejadian malam sebelumnya. Jadi jam 12 lewat tengah malam, saya dan teman saya kebangun karena berasa rumah panggung kami bergoyang-goyang kenceeeng banget! Ya Allah, itu ternyata angin yang goyangin. Berasa kayak lantainya mau terbang. Mana itu penginapan sepi banget, trus kamar kita berbentuk rumah panggung di atas tebing yang langsung ngadep laut. Paniklah yaaa..Ngintip ke jendela, kambing-kambing yang tadi sorenya ada di sekitar penginapan leye-leye sambil makan rumput, berduyun-duyun pergi ninggalin kami sambil “mbeekk..mbeeekk” Hiyaaahhh..bahkan kambing aja ninggaliiinn..pantesan dulu mantan juga ninggalin nikah #eh #akurapopo 😀
Kami udah ga bisa tidur lagi dong, nelponin temen di Jakarta, tapi sinyal susah. Akhirnya sms ke temen yang orang asli Bulukumba, nanya kalo begini ini gimanaaa..Katanya Insha Allah gpp karena belum pernah (dan jangan sampe) ada kejadian yang gimana-gimana. Yaudah, kami pun lanjut tidur sambil tetep berjaga-jaga kalo ada apa-apa, barang-barang penting sudah masuk ransel dan siap diangkat kalo kami harus mengungsi.
Nah, ternyata angin malam itu juga berakibat ke ombak di Pulau Kambing. Bapak pemilik kapal bilang kalo ga biasanya angin sekenceng itu. Kami pun ga kuat karena mual dan ombaknya ga asik, snorkeling cuma 10 menit dan langsung tancap gas ke Pulau Liukang.
Pemandangan di Pulau Liukang beda jauh dengan di Pulau Kambing. Para wisatawan, baik lokal dan mancanegara, terlihat damai dan sejahtera dalam melakukan aktifitas snorkeling tanpa terganggu ombak. Beda banget sama saya dan teman saya tadi yang harus berjuang mulai dari turun kapal. Lagi-lagi #akurapopo :”)
Kami pun langsung meloncat turun dan berenang kesana kemari dengan lincahnya, bak ikan pesut, dan snorkeling sampai capek. Pemandangan bawah lautnya baguuuuss, sayangnya kami belum ada yang punya underwater camera, jadi ga bisa foto-foto deh. Mudah-mudahan ntar sebelum ke Raja Ampat udah kebeli ya tuh kamera dan casingnya. Amin?


Setelah capek, kami pun naik ke kapal dan minta diantar pulang ke penginapan. Hahahha ini gaya banget deh, jadi tadi pas nawar harga kapal, kami sepakat harga segitu untuk sewa sampe sore. Kata Bapaknya gini “yah sampe jam 2 deh, krn kalo sore ombaknya udah tinggi ntar pulangnya” dan kami mengiyakan sambil bilang “yah cuma bisa sampe jam 2 ya..yaudah deh gpp” Dan tebak kami snorkeling sampe jam berapaaaa? Sampe jam 11 aja sodara-sodara..hihihihi.. Eits, tapi kalo ga ada kejadian nerjang ombak di Pulau Kambing, mungkin kuat kali sampe jam 2 *halaaahh :p
Sampai penginapan, mandi, dan kami pun ketiduran sampe jam 3. Hahahha capeknya macam sudah berenang menyebrangi Selat Sundaaa..kami memutuskan untuk makan siang di Amatoa Resort sambil sekedar menikmati view disana.



Setelah selesai makan, kami menyewa motor seharga 70ribu (seharian) untuk keliling-keliling Pantai Bira dan Pantai Bara, sekalian pindah hotel. Takuuutt kejadian tadi malam terulang lagi, kami pindah ke hotel yang agak masuk dan tidak langsung menghadang laut, Patma Bira namanya. Hotelnya bersih dan nyaman, tapi sayangnya susah sinyal HP 🙁 Harga kamar di sini 550ribu termasuk makan pagi.


Keesokan harinya, kami sudah siap pagi-pagi sekali untuk naik angkutan menuju Bulukumba dan melanjutkan perjalanan ke Makassar lanjut ke Jakarta.
Buat yang ingin santai dan menikmati liburan tenang, Bira adalah salah satu alternatifnya J