Guilin – Kota Dengan Pemandangan Paling Indah di Kaki Langit

Ya, begitu menurut orang-orang yang pernah datang ke Guilin, kota yang terletak sektar 478 km ke arah barat laut Guangzhou.  Cara yang paling banyak dilakukan oleh traveler yang ingin ke Guilin adalah dengan terbang ke Guangzhou, dan dilanjutkan dengan bis atau kereta menuju Guilin.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 11 jam, kami tiba di Guilin pukul 6.15 pagi dalam kondisi hujan dan dingiiiiinnn banget.  Kami langsung mencari tempat makan di sekitar stasiun dan mencoba mie Guilin yang terkenal enak itu.  Ternyata beneran enak! Mie beras dengan kuah yang dikasih beberapa iris (saking tipisnya) daging sapi.  Cocok buat udara dingin pagi itu.  Oiya, kata adik saya sih sambelnya enak juga, tapi waktu itu saya ga cobain karena saya lagi rentan diare.  Hehehe..  Mie Guilin ini dijual dengan harga 5 yuan per mangkok.

mie Guilin, enak!

Sambil makan mie, saya berusaha untuk browsing hotel yang direkomendasikan di Guilin, dan pilihan pun jatuh ke Guilin Sapphire Hotel.  Saya pun mencoba menelepon kesana untuk menanyakan apakah bisa check in pagi itu juga.  Tapi ternyata, ketika saya menelepon dan baru bilang “Halo, good morning”, eh sudah dijawab resepsionisnya dengan “sorry, no English here” errrrhhh..baiklah..

Bapak saya pun menyarankan untuk langsung aja kesana dengan menggunakan taksi.  Kami pun mencari taksi dan sempet celingukan karena semua taksi yang parkir di stasiun ga ada sopirnya.  Kirain kayak di Jakarta gituuu, sopirnya tidur di dalem. Hihihi, ternyata ngga.  Lagi celingukan, ada seorang Bapak separuh baya yang menghampiri dan mempersilakan kami untuk naik ke taksinya.  Kamipun naik dan ngobrol-ngobrol, dia menawarkan untuk mengantar kami seharian seharga 50 Yuan. Iya, 50 Yuan itu kira-kira kalo dirupiahin sekitar 100ribu rupiah ya..sempet ga percaya, tapi bener 50 Yuan. Hehehe..Hari itu, kami diajak ke tempat-tempat wisata yang ada di Guilin, termasuk ke Elephant Trunk Hill yang terkenal itu.  Tempat wisata di Guilin kebanyakan adalah gua-gua dari pegunungan kapur yang di dalamnya terbentuk stalaktit dan diberi lampu bewarna-warni untuk menambah keindahan gua tsb.  Konon katanya di sini adalah tempat syuting film Soon Go Kong lho.

gua stalaktit di Guilin gua khas Guilin 2014-02-25 11.54.17 2014-02-25 13.50.33 Elephant Trunk Hill

Hari kedua, merupakan hari yang saya tunggu-tunggu karena hari itu kami akan berkeliling Li River menggunakan kapal.  Konon katanya, pemandangan indah di kaki langit itu ada di sepanjang perjalanan ini.  Begini nih :

pelayaran dimulai :D 2014-02-26 08.48.39 2014-02-26 09.23.34 penjual buah nawarin jualannya ke kapal 2014-02-26 10.02.18

Hehehe bikin speechless yaaa..suasana Li River yang dikelilingi tebing, udara yang dingin, dan kapal-kapal yang bergerak pelan semakin membuat saya terlena.  Selama perjalanan menyusuri sungai ini, pemandangan di sekelilingnya merupakan salah satu pemandangan paling indah yang pernah saya lihat. Perjalanan kapal ini menyusuri Sungai Li memakan waktu sekitar 5 jam.  Disediakan makan siang juga, meskipun lauknya sangat sederhana, tapi kita bisa membeli tambahan lauk di restoran kapal tsb.  Saya sih lebih nyaman bawa bekal sendiri karena menu di kapal pake huruf Mandarin, jadi takut salah pesen X))

Kapal yang membawa kami mengarungi Sungai Li berhenti di Kota Yangsuo, kota yang menurut saya lebih tourist friendly dibandingkan dengan Guilin, karena banyak toko, hotel, dan tempat makan yang menuliskan huruf latin, bukan huruf Mandarin.  Suasana kota Yangshuo ini seperti Puncak, dingin dan banyak perbukitan yang bisa ditemui di dalam kota.  Kalau punya waktu banyak, boleh dicoba menginap 1 atau 2 malam di kota ini.

Suasana kota Yangshuo :

2014-02-26 13.06.40 2014-02-26 13.11.27

Di kota ini kami diajak mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Big Banyan Tree Park dan Gua Naga.

2014-02-26 14.35.53 Big Banyan Tree masuk ke Gua Naga 2014-02-26 15.21.05 2014-02-26 15.48.00

Hari ketiga di Guilin, kami mengunjungi Gunung Yao atau Yaoshan.  Di sini, kita akan dibawa ke atas Gunung Yao menggunakan kereta gantung terbuka dan melihat pemandangan kota Guilin dari atas.  Spektakuler!  Turunnya, kita boleh pilih, mau naik kereta gantung lagi, atau meluncur menggunakan papan seperti kalo kita di Sentosa Island Singapore itu lho.  Saya waktu itu? Memilih naik kereta gantung aja deh, secara saya “penggila” naik kereta gantung :p

medan kalo turun meluncur kereta ganung di atas, meluncur di bawah kereta gantungnya

Walaupun waktu itu pemandangannya agak tertutup kabut, tapi pemandangan indah kota Guilin tetap bisa dinikmati sepanjang perjalanan.  Kalau kesini, jangan lupa membawa jaket agak tebal yaaa karena cuaca saat naik kereta gantung cukup dingin.

sayangnya tertutup kabut Guilin dari atas

Setelah puas mengunjungi Gunung Yao dan berkeliling di atasnya, kami bergegas ke stasiun kereta untuk membeli tiket kembali ke Guangzhou.  Sayangnya waktu itu tiket keretanya habis karena hanya ada satu jadwal kereta dari Guilin ke Guangzhou.  Kami pun memutuskan untuk kembali ke Guangzhou naik sleeper bus.  Sleeper bus di China ternyata hanya terdiri dari satu tempat tidur, atas bawah, tiga deret.  Beberapa tempat tidur dilengkapi TV di hadapannya, sudah seperti di pesawat deh..hihihihi..

Begini penampakan bisnya :

suasana di dalam bis

Sekitar jam 2 pagi, saya terbangun karena pingin pipis banget.  Saya baru menyadari bahwa bis saya itu lagi berhenti di pinggir jalan seperi jalan tol bersama bis-bis yang lain.  Saya lihat sekeliling, kok ga ada tanda-tanda ada toilet.  Sayapun memutuskan untuk membangunkan adik saya dan berjaga selagi saya ke toilet, karena saya takut ditinggal.  Turun bis, aroma toilet umum sudah kecium.  Sayapun mengurungkan niat saya ke toilet dan berencana untuk pipis di rerumputan pinggir tol aja.  Toh gelap.  Saya pun mulai mencari tempat yang rumputnya lumayan tinggi dan agak tertutup dari jalan dan tempat bis-bis (termasuk bis saya) berhenti.  Malam itu, malam yang ga mungkin saya lupain, karena untuk pertama kalinya saya pipis di rumput, di pinggir jalan, dengan view truk dan bis yang lagi kebut di jalan tol.  Hehehehe..

Demikian pengalaman saya jalan-jalan ke Guilin, kota dengan pemandangan indah di kaki langit.  Pengalaman dan pemandangan yang saya lihat waktu itu, gakkan pernah bisa saya lupain 🙂

Ni Hao from Guangzhou

Tanggal 23 Februari yang lalu, saya berkesempatan ke Guangzhou dan Guilin dalam rangka mengajak Bapak dan adik saya jalan-jalan.  Waktu itu, saya memilih cara termurah dengan menggunakan transportasi yang sambung menyambung dari Hongkong.  Jadi waktu itu rutenya begini : Jakarta – Hongkong (pesawat), Hongkong – Guangzhou (menggunakan kereta, 2 jam 15 menit), menginap 1 malam di Guangzhou dan melanjutkan perjalanan Guangzhou – Guilin (menggunakan kereta malam, 11 jam).  Kebetulan saya mendapat promo untuk tiket Jakarta – Hongkong buy 1 get 1 dari salah satu maskapai penerbangan.  Lumayan hemaaaattnyaaa..

Pesawat kami tiba di Hongkong tanggal 24 Februari 2014 pukul 6 pagi waktu Hongkong.  Kami langsung membeli tiket fast train dari bandara menuju stasiun Kowloon untuk melanjutkan perjalanan ke Guangzhou naik kereta.  Loket penjualan tiket bisa dengan mudah ditemukan setelah keluar dari mesin pemeriksaan tiket, belok kiri.  Kami memilih kereta yang jam keberangkatannya paling cepat dari waktu kami membeli tiket agar tidak berlama-lama menungu di stasiun.  Sebelum naik kereta, kita diharuskan untuk melewati pemeriksaan bagasi melalui ban berjalan (sperti di bandara) dan pemeriksaan paspor di loket imigrasi.

Begini penampakan keretanya, bersih, nyaman, dapet minum, ada majalah, dan paling penting ada colokan 😀

suasana dalam kereta cemilannya lucu-lucu dan enaakk

Di Guangzhou, kami menginap di Guangzhou Jianguo Hotel yang dekat sekali dengan Guangzhou East Railway Station, tempat kereta dari Hongkong dan Shenzhen datang/berangkat.  Adapun tempat-tempat wisata yang kami datangi di Guangzhou antara lain adalah :

  • Pearl River, ini sungai panjang yang melewati kota Guangzhou.  Di pinggir-pinggirnya ada jalan setapak yang biasa digunakan untuk lari atau main sepeda.  Bisa juga ikut cruise yang loket pembelian tiketnya bisa dijumpai di beberapa titik di pinggir sungai tsb.

Pearl River waktu malam Pearl River siang

  • Beijing Road, ini surga bagi para pecinta belanja.  Sepanjang jalan toko-toko, stall makanan, dan tidak dilalui mobil. Kalo malem lebih rameeee.

Beijing Road - malam Beijing Road - siang

  • Akademi militer China, tempat pelatihan dan asrama militer China.  Di sini banyak dijual barang-barang bertema tentara, seperti kaos, topi, tas, dan ada juga minatur senjata seperti pistol, pisau, senapan, dll.

perjalanan ke akademi militer asrama militer

  • Baiyunshan, ini daerah pegunungan gitu, ngeliat kota Guangzhou dari atas.  Karena letaknya di pegunungan dan udaranya pun sangat segar, jadi banyaaakk banget orang-orang yang sudah berumur berjalan kaki dan berolahraga di sini.  Saya? Ke atasnya naik mobil kayak mobil golf gitu, trus turunnya naik cable car. Hihihihihi, jadi malu sama orang-orang tua yang semangat jalan kaki padahal jalannya menanjak.

Guangzhou dari atas Kereta gantung di Baiyunshan olahraga dan menari di Baiyunshan pintu masuk dan keluar terminal cable car

  • Tempat terakhir yang saya datengin, saya ga tau namanya karena ditulis pakai huruf China dan guide yang menerangkan pun ber-Bahasa Mandarin.  Tempat ini seperti Taman Mini yang di dalemnya ada bangunan-bangunan kecil berisi informasi mengenai kota-kota lain, seperti Hongkong, Macau, dll.  Banyak jajanan dan ada beberapa pertunjukan yang bisa ditonton lho.

patung para kaisar di tiap dinasti China 2014-02-24 12.06.33 sandiwara boneka, sayangnya pakai Bahasa Mandarin :(

 

Malam kedua, kami melanjutkan perjalan menuju Guilin naik kereta dari Stasiun Pusat Guangzhou.  Ketika sampai stasiun, waaahh ruame banget! Semua loketnya antri panjang, jalur masuk pemeriksaan bagasinya antri panjang, dan lapangan di depan stasiun pun rame orang yang lagi menunggu.  Ga heran, kereta merupakan salah satu alternatif paling nyaman untuk pergi dari satu kota ke kota lain di China.  Hihihihi, ini penjualan tiketnya bisa berapa juta yuan per hari yaaa..rame banget dan semua harus bayar cash.

Meskipun kami sempet lemes karena lihat antrian pemeriksaan tiket dan bagasinya panjang banget, ternyata karena semua orang antri dengan tertib, lamanya waktu antrian pun hanya 10 menit.  Kami langsung menuju ruang tunggu dengan mencocokkan nomer kereta yang ada di tiket dan di papan yang tertera di masing-masing ruang tunggu.  Dua puluh menit sebelum keberangkatan, penumpang dipersilakan masuk ke kereta.  Cukup mudah mencari gerbong dan tempat tidur kami karena waktu itu kereta tidak terlalu penuh dan ada penjaga yang berdiri di setiap gerbong memeriksan tiket.

Kami membeli tiket soft sleeper dan begini penampakannya : ga kalah dengan hotel kan 😀

soft sleeper bag, 1 ruangan ada 4 tempat tidur lorong kereta di depan kamar, bisa buat duduk-duduk juga

Perjalanan di kereta selama 11 jam ternyata ga berasa sama sekali karena puleeesss tidur..hihihi.. bangun karena dibangunin sama petugas yang ngasitau kalo 15 menit lagi kami akan tiba di tujuan. Wiiihiiiy, excited! Sebentar lagu bakal ngeliat pemandangan paling indah di kaki langit.  Cerita tentang Guilin akan ditulis di bagian lain blog ini yaaa..

 

Luang Prabang, The Most Romantic City in Southeast Asia

Laos. Sudah beberapa kali masukin negara ini ke itinerary, tapi selalu gagal dengan berbagai alasan, entah karena waktunya ga cukup atau karena jiper bayangin perjalanan darat yang kayaknya ribet.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok dalam waktu yang cukup lama karena pekerjaan saya sedang tidak sibuk. Sekelumit tekad (tsaaaah, tekad kok sekelumit) pun muncul di benak saya. Apa saya sekalian ke Laos yaaa..kan ada Friendship Bridge yang menghubungkan Thailand dan Laos tuh.  saya pun mulai mencari informasi dan membuka catatan lama saya mengenai cara ke Laos dari Bangkok lewat darat.

Suasana Bangkok yang lagi rame demo, apalagi ketika saya ke sana bertepatan dengan ShutDownBangkok, makin membulatkan tekad saya.  Saya pun memesan tiket kereta api dari Bangkok menuju Nong Khai, dimana terletak border Thailand untuk keluar menuju Laos.  Stasiun pemberangkatan yang saya pilih dari Bangkok adalah Stasiun Don Mueang, karena menurut kabar yang beredar waktu itu, akses menuju Stasiun Hualamphong tertutup para demonstran.  Oiya, mungkin ga banyak yang tau ya kalo Stasiun Don Mueang ini terletak di sebrang Bandara Don Muang.  Jadi kalau misalnya kamu mendarat di Don Muang dan ingin langsung naik kereta ke kota-kota Thailand lainnya (tentunya yang melewati stasiun ini), kamu ga perlu harus ke Hualamphong yang berada di pusat kota Bangkok dulu.

Bagaimana cara ke Stasiun Don Muang dari Bandara Don Muang? Cukup cari petunjuk “Amari Don Muang Hotel”, kalo ga salah adanya di lantai Arrival, trus naik lift atau turun tangga, dan tinggal ikuti papan petunjuk ke stasiunnya. Jadi kayak lewat jembatan penghubung gitu, ga sampe 10 menit deh.

Stasiun Don Mueang

Tiket kereta yang saya beli, seharga 758 baht, merupakan kereta dengan kelas sleeper AC dan lower berth.  Lumayanlah, 12 jam perjalanan malam tersebut sekalian untuk menghemat biaya penginapan. Hehehe..Tiket bisa dibeli langsung di loket stasiun, atau di semua travel agent di Bangkok (tapi kena biaya), atau bisa juga beli online (kena biaya pengantaran).  Jadi kalo ga lagi peak season, mendingan beli di loket langsung deh, bisa juga beli beberapa hari sebelumnya untuk berjaga-jaga ga kehabisan.

suasana di dalam kereta, sleeper 2nd class
kalau siang, tempat tidurnya jadi kursi lagiii

Singkat cerita, malam itu, sekitar jam 20.50, saya berangkat menuju Nong Khai dengan perasaan campur aduk antara seneng, deg-degan, takut, excited, dll.  Akhirnya, sebentar lagi saya bisa melihat Luang Prabang.  Iya, kota yang bikin saya tertarik banget ke Laos adalah Luang Prabang, yang katanya The Most Romantic City in South East Asia 😀 .  Untuk menuju ke kota ini, saya masih harus menempuh perjalanan 11 jam lagi pake bis.  Tapi tekad saya sudah ga sekelumit lagi, jadi gpp deh. Hehehe..

suasana stasiun Nong Khai

Jadi gini nih urutan perjalan saya dari Thailand menuju Laos dengan menggunakan jalur darat (kereta api) :

  • Stasiun Don Muang – Nong Khai à naik kereta malam, 758 baht
  • Di stasiun Nong Khai, naik tuk tuk menuju border Thailand à 30 baht per orang
  • Cap paspor keluar Thailand
  • Beli karcis bis untuk menyebrangi Friendship Bridge Thailand – Laos à 20 baht
  • Cap paspor masuk Laos
  • Naik bis hijau nomer 145 ke pusat kota Vientiane (Central Bus Terminal) à 6000 kip, bisa juga menggunakan tuktuk sampai tempat tujuan di Vientiane, tapi harus tawar menawar.

Sampai di Central Bus Terminal, saya pun langsung mencari loket penjualan tiket ke Luang Prabang.  Errrrhhh, ternyata bis yang menuju ke sana itu berangkatnya dari Northern Bus Terminal.  Baiklaaaahh, pantesan ga nemuuu.  Saya mulai menawar tuk tuk yang akan mengantar ke Northern Bus Terminal dan berhasil di harga 60ribu kip 1 tuktuk.  Ternyata jaraknya lumayan jauh dengan medan jalanan yang berdebu.

Suasana Northern Bus Terminal tidak seramai terminal bis biasanya, malah cenderung sepi.  Saya pun langsung menuju loket dan memilih jam keberangkatan yang tidak terlalu lama, yaitu jam 16:00.  Rencana awal, saya inginnya naik sleeper bus jam 21:00 atatu 22:00 agar sampai di Luang Prabang sudah cukup terang.  Tapi karena saya kecepetan sampai di terminal bis-nya, dan mau balik lagi ke kota juga lumayan jauh, jadilah saya ambil bis dengan jam terdekat.

Northern Bus Terminal
jadwal dan harga bis dari Vientiane ke Luang Prabang

Sekitar jam 15:45, penumpang bis sudah dipersilakan untuk naik.  Saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil dan minuman untuk bekal perjalanan, mengingat perjalanan yang cukup lama.  Penumpang bis kebanyakan orang lokal, hanya saya dan dua orang bule Australia dengan tujuan Van Vieng yang terlihat pendatang.  Tidak lama setelah bis berjalan, sayapun tertidur diiringi alunan musik yang sepertinya lagi hits di Laos.

Saya terbangun sekitar pukul 23.30 karena bis berhenti dan kondekturnya berteriak-teriak meminta penumpangnya turun.  Saya lihat keluar jendela, lho ini sepertinya bukan di tempat peristirahatan, dan dua orang bule Australia tadi pun sudah ga ada.  Saya pun mengikuti penumpang lain untuk turun.  Ternyata, bis tertahan karena di depannya ada truk mogok dan sedang diganti bannya.  Kami disuruh menunggu sekitar 200 meter di depan karena katanya berbahaya jika menunggu di dalam bis.  Hihihihih, baru nunggu 10 menit, saya udah ga tahan dinginnyaaaa.  Bayangin aja, di daerah kayak Puncak gitu, tapi ga ada warung-warung, sepiiii, kanan kiri gunung, kami disuruh menunggu selama waktu yang tidak bisa ditentukan.  Beruntung waktu itu bulan purnama, jadi ga terlalu gelap dan menyeramkan.  Mati gaya karena kedinginan, sayapun bertekad kembali ke bis dan berharap dibolehin nunggu di dalem.  Eh ternyata pas ijin sama kondekturnya, tetep ga dibolehin lho. Ada satu orang penumpang, Bapak-bapak yang memakai celana pendek, dan mengerti kalau saya kedinginan.  Dia bilang gini “exercise, exercise” sambil lari-lari kecil dengan lincahnya.  Errrrhhh, ya sudahlah saya balik ke tempat penumpang lainnya saja.

Ternyata, para penumpang lain sudah membuat beberapa api unggun untuk menghangatkan badan.  Saya jadi malu sendiri karena tadi kekeu mau nunggu di bis, padahal di rombongan saya, ada ibu-ibu yang sudah berumur dan ibu yang menggendong bayi, tapi tetap bertahan menunggu.

Akhirnya, setelah dua jam menanti *tsaaah, kami diperbolehkan naik ke bis dan melanjutkan perjalanan.  Alhamdulillaaaaahhh..saya pun melanjutkan tidur dan bangun ketika bis parkir di terminal Luang Prabang.  Saya sampai di Luang Prabang sekitar jam 5 pagi, dan udaranya itu lebih duingiiinnn dibanding tadi di jalanan. Baiklah, saya ga kuat nunggu sampe terang, saya pun berjalan keluar terminal dan menemukan ada hotel tepat di seberangnya, namanya Dao Fa Hotel.  Tanpa pikir panjang, sayapun menginap di situ untuk sekedar tidur, bersih-bersih, dan menghangatkan badan.  Sebenernya harga yang ditawarkan cukup mahal, walaupun kamarnya besar, yaitu 150ribu KIP untuk berdua.  Tapi mengingat udara dingin di luar, sayapun mengiyakan harga tersebut dan langsung pules tidur sampai jam 10.  Hehehehe..lupakan sarapan.

Setelah mandi dan bersih-bersih, saya berencana untuk keliling kota Luang Prabang dan mencari penginapan lain yang lebih strategis.  Saya pun menawar tuktuk ke kota dan mulai berjalan kaki menyusuri jalanan Luang Prabang.  Beruntungnya saya, ketika sedang jalan-jalan di sekitar Sungai Mekong, saya menemukan penginapan yang agak masuk ke dalam, tapi masih terlihat view Sungai Mekong,  Phabon Guest House namanya.  Harganya pun tidak terlalu mahal, 90ribu KIP dengan kamar yang memiliki balkon menghadap sungai. Asik kan? Di sini kita juga bisa menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga 15ribu KIP.  Suasana Luang Prabang memang asik banget buat sepedaan.  Jalannya bagus, kendaraan bermotornya pun ga banyak.  Saya keliling-keliling sampai sore menjelang Magrib karena jalanan sudah mulai ditutup untuk pasar malam.  Saya pun kembali ke penginapan untuk mengembalikan sepeda dan jalan kaki ke pasar malam.  Pasar malam di Luang Prabang cukup meriah meskipun yang datang tidak terlalu ramai.  Barang-barangnya lucu-lucuuuu semuaaa, apalagi tas-tasnya. Waah, warna-warnanya memanjakan mata banget deh.  Jangan lupa untuk menawar sepertiga atau setengah harga ya di sini, apalagi kalau beli banyak.

suasana Luang Prabang
salah satu cafe pinggir jalan yang banyak ditemui di Luang Prabang
sepanjang Sungai Mekong
tenda pasar malam
makanan di pasar malem. Sepiring 10ribu KIP, bebas.

Hari kedua di Luang Prabang, saya bangun pagi-pagi sekali untuk melihat ritual Ta Bat.  Ritual dimana para monks berbaris untuk menerima makanan atau uang dari para penduduk.  Tapi ternyata saya bangun terlalu pagi, karena suasana masih sangat gelap.  Saya pun kembali ke tempat tidur dan tidur-tidur ayam karena memang masih berasa capek banget abis sepedahan keliling-keliling kemarin.  Lima belas menit kemudian, saat hari sudah terlihat terang, saya memantau lewat balkon kamar, dan paaaasss banget, terlihat barisan monks tengah berjalan pelan.  Saya pun langsung menghambur ke bawah dan keluar menuju jalanan.  Akhirnyaaa, kesampean juga saya melihat ritual Ta Bat, ritual yang tadinya hanya saya lihat di brosur liburan ke Luang Prabang :’)

ritual Ta Bat
Sungai Mekong

Siang harinya, saya melanjutkan berkeliling Luang Prabang dan mencoba restoran yang ada di sekitar Sungai Mekong.  Ternyata, makan di pinggir sungai juga seru lho kalau suasananya adem gitu.  Sorenya saya naik ke puncak tertinggi Luang Prabang untuk menyaksikan sunset.  Salah satu sunset terindah yang pernah saya lihat :’) Oiya, untuk melihat sunset ini disarankan naik dari jam 3 atau 4 sore, karena makin sore, pengunjung makin ramai dan agak susah menemukan spot yang enak.

..karena foto kaki di pantai sudah terlalu mainstream.. :p
nongkrong di pinggir Sungai Mekong
sunset Luang Prabang
sunset :’)

Selesai menyaksikan sunset, saya bergegas turun dan menuju penginapan karena jam 18.15 akan dijemput untuk menuju terminal bis dan kembali ke Vientiane.  Sekedar tips kalau kamu juga harus kembali ke Vientiane, lebih baik beli tiketnya dari jauh-jauh hari karena ada resiko ga kebagian tiket.  Tiket yang saya beli waktu itu merupakan tiket terakhir bis tsb.  Kalau waktu itu ga kebagian tiket ke Vientiane, terpaksa tiket pesawat pulang saya hangus deh..huhuhuhu

Oiya, di perjalanan menuju Vientiane ini saya bertemu dengan Shinji, cowok, solo traveler dari Jepang yang ngasi banyak pelajaran dan kocak banget mukanya. Hahahah..Shinji ini Bahasa Inggrisnya pas-pasan tapi berani negor saya duluan.  Berani ngajak ngobrol orang asing walopun seringnya pake bahasa Tarzan dan kadang ga ngerti dia atau saya ngomong apa. Waktu itu katanya pengalaman dia pertama kali keluar Jepang, dan dia seneng banget! Hihihi, Shinji ini salah satu contoh, kendala bahasa itu bukan alasan kita untuk ga ngeliat dunia lho! Semangaaattt!!