UAE – Perjalanan Muscat ke Abu Dhabi

Saya berkesempatan mengunjungi Dubai dan Abu Dhabi akhir taun 2013 kemarin.  Kebetulan kakak saya tinggal di Oman, yang “hanya berjarak” sekitar 5 jam naik mobil ke Dubai, lalu lanjut 2 jam lagi ke Abu Dhabi.  Jadi sekalian ngunjungin kakak, sekalian deh mau mampir ke sana.  Oiya, untuk tiket pesawat, bisa cek Thai Airlines sebagai alternatif, karena waktu itu saya dapat harga lumayan murah untuk ukuran peak season rute Jakarta – Muscat (Oman), transit Bangkok.   Cerita tentang jalan-jalan ke Oman, akan saya ceritain di bagian lain yaaa (baru ngeh ternyata belum cerita tentang Oman :p)

Singkat cerita, hari yang ditentukan pun tiba.  Berangkatlah kami sekeluarga dari Muscat ke Abu Dhabi, menggunakan 2 mobil, dimana salah satunya adalah mobil sewaan.  Sekedar info, mengemudikan mobil di luar negeri itu sensasi tersendiri lho.  Jadi kalo kamu bisa nyetir mobil, silakan mulai mengurus SIM International di Kantor Korlantas RI, yang ada di Jl MT Haryono, Cawang.  Siapa tau ada kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri, dan pingin coba bawa mobil sendiri 🙂 Syarat mengurus SIM Intenational juga akan saya ceritakan di bagian lain yaaaa..

Pemandangan selama perjalanan antara Muscat – Dubai, lebih banyak pegunungan batu dan gurun pasir berikut ontanya *hihihi Kami menemukan tempat untuk menyantap bekal makan siang yang cukup nyaman dengan view beberapa onta mondar mandir. Kayak gini nih

Peserta road trip waktu itu, langitnyaaaa #nofilter
Peserta road trip waktu itu
Onta sliweraaann
Onta sliweraaann
Pemandangan selama perjalanan Muscat - Dubai
Pemandangan selama perjalanan Muscat – Dubai
makan siaang :D
makan siaang 😀

Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, kami sampai di border Oman untuk diperiksa pasportnya.  Ini merupakan border imigrasi tersantai yang pernah saya alamin.  Bayangin, kita cuma diperiksa di mobil, buka kaca lebar-lebar, dan petugas imigrasi akan mencocokkan wajah kita dengan foto yang ada di paspor. hihihi..setelah itu, kami dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan menuju border UAE.

Nah, di border UAE ini, kita harus turun dan akan diperiksa paspor, visa, dan surat sewa mobil kalau kamu naik mobil (petugas imigrasi akan nanya kamu naik apa).  Setelah semua itu beres, kita bisa melanjutkan perjalanan.  Oiya, untuk visa UAE sepertinya agak sulit untuk mengurus di Indonesia kalo kita naik maskapai selain Emirates dan Garuda.  Karena beberapa travel agent mensyaratkan tiket PP, booking hotel, dll untuk mengurus visa ini, dan semuanya harus beli melalui travel agent tsb.  Nah, kalo kamu mau mengurus visa UAE yang ga pake ribet, bisa hubungi kakak saya yang ada di Oman biar dibantu pengurusan visanya di alamat email koperkuning@gmail.com 😉

Ok, lanjut lagi ceritanya ya..ketika di border UAE ini saya ngerasa kayak di cerita-cerita Arab.  Semua petugas imigrasinya pakai sorban yang katanya warna dan bentuknya beda-beda sesuai jabatannya. Trus cakep-cakep deh, mukanya bersih-bersih, mata coklat dan bulu mata panjang.  hahahah ini karena nunggu dokumen kami sekeluarga diperiksanya lumayan lama, jadi saya merhatiin detil Mas yang meriksa :p

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan pertama kami, Yas Island, Abu Dhabi.  Kami melewati Dubai dan gedung-gedung yang menjulan, termasuk Burj Al Arab yang dikenal dengan gedung tertinggi di dunia.  Kami memasuki kota Dubai disambut dengan sunset yang buleeeett banget.  Di Timur Tengah sini, saya ngerasa matahari, bulan, dan benda langitnya seperti terletak lebih dekat dari bumi deh. kayak gini nih..gimana kalo di pantainya yaaaa..

sunset di jalan tol
sunset di jalan tol
sunset di jalan menuju Abu Dhabi
sunset di jalan menuju Abu Dhabi

Kami tiba di Yas Island menjelang malam dan langsung ke hotel untuk istirahat.  Hotel kami terletak di Yas Island, dimana banyak banget hotel-hotel bertebaran karena memang dekat dari Ferrari World, wahana bermain yang terkenal dengan roller coasternya tercepat di dunia.  Oiya, di hotel kami ini, ada 5 orang dari Indonesia yang bekerja sebagai resepsionis. hihihi..jauh-jauh ke Abu Dhabi, ngomongnya tetep pake Bahasa Sunda juga :p

Ceritanya nyambung lagi ya 🙂

Blog KoperKuning Sudah Ada di Playstore Android

Hahahah..akhirnyaaaaa..KoperKuning berusaha untuk hadir lebih deket sama pecinta jalan-jalan seluruh dunia nih *halah*  salah satu caranya adalah dengan bikin aplikasi yang bisa didownload di aplikasi store Android.  Tapi maaaff yaaa kalo halaman depannya masih muka saya..hahahaha belum tau cara gantinya euuuyyy :p

Monggo didownload di sini.

Download ya, jadi koperkuning-nya bisa nemenin kamu kemanaaa-manaaa 🙂

Selain itu, koperkuning juga ada di :

LINE : KoperKuning, kamu bisa chat dengan saya setiap hariiii dari jam 10 pagi sampe 3 sore.

Instagram : Koper Kuning, berisi foto2 perjalanan saya

Twitter : @koperkuning, follow yaaa 😀

Facebook : www.facebook.com/KoperKuning

sampai ketemu di dunia sosial media yaaaa..

 

Tanjung Bira – Surga Tersembunyi di Ujung Selatan Sulawesi

Pernah denger tentang Tanjung Bira? Jujur saya awalnya ga tau Tanjung Bira tuh dimana. Pas diajakin kesana sama temen saya, saya juga ga terlalu tertarik. Tapi ketika saya browsing, beuuuuuh, saya langsung terpikat dengan pasirnya yang putih dan pantai cantiknya yang bergradasi antara warna biru, biru muda, dan hijau.

Keinginan saya untuk ke Bira pun makin kuat ketika saya lihat foto-foto Amatoa Resort, sebuah penginapan dengan tempat tidur menghadap pintu geser dengan pemandangan langsung laut. Belum lagi sofa-sofa birunya yang berjejer, juga menghadap laut, yang sepertinya nyaman banget buat leye-leye. Di pikiran saya, boleh kali nih semalem aja nyobain nginep di Amatoa. Malem lainnya baru pindah ke penginapan yang lebih murah. Hehehe..

Ga pake lama, saya dan teman saya mulai mencari tiket menuju Makassar. Alhamdulillah ada promo Air Asia, sehingga kami dapet harga murah banget, sekitar 360ribu PP. Sayangnya tiket kami waktu itu terpaksa hangus karena temen saya berhalangan, dan saya agak jiper pergi sendirian karena malem sebelumnya saya mimpi ga enak. Bukan tipe yang percaya mimpi sih, tapi entah kenapa waktu itu ragu-ragu mau berangkat, dan saya selalu percaya kata kakak saya “kalo ragu-ragu mendingan ga usah” 🙂

Ternyata bulan Maret 2014 kemarin, saya ditugaskan training di Makassar selama 4 hari. Wiih, langsung deh nyusun rencana untuk extend selama 3 hari dan kabur sebentar ke Bira. Sayangnya, Amatoa Resort waktu itu fullybooked oleh serombongan turis Belanda. Hffftt..gpp deh, yang penting ke Bira.

Perjalanan ke Bira bisa ditempuh dalam waktu 4 jam dari Makassar dengan menggunakan mobil. Alternatif pertama adalah menggunakan bis dari Terminal Malengkeri, alternatif kedua dengan menggunakan travel BMA, dan alternatif ketiga dengan menyewa mobil. Saya dan teman saya memilih alternatif kedua, karena sesuai budget, dan mobilnya pun nyaman (kursinya besar dan tidak berdesak-desakan). Ongkos dari Makassar ke Bulukumba menggunakan travel ini sebesar 85ribu per orang, termasuk roti dan mineral water. Dari Bulukumba, kita harus naik angkutan umum lagi ke Tanjung Bira.

Setelah sampai di Bira, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan. Pilihan pertama jatuh ke Sunshine Guesthouse, karena sepertinya hampir semua web yang kami baca mengenai Bira, merekomendasikan penginapan ini. Sayangnya, lokasi Sunshine Guesthouse ini agak masuk ke dalam dan jalannya menanjak (terletak di atas bukit) sehingga agak kurang nyaman buat kami yang bawa-bawa koper dan perlengkapan training lainnya. Kami pun kembali berkeliling dan melihat beberapa alternatif lain, seperti Anda Beach Hotel, Sapolohe Hotel, dan Bira View Inn. Waktu itu akhirnya kami memilih Bira View Inn karena langsung menghadap laut dan dekat dengan keramaian. Pemandangan dari Bira View Inn ini luar biasa indahnya, kita pun bisa langsung nyemplung ke laut dari depan kamar, karena disediakan tangga untuk turun. Sayangnya, penginapan ini tidak terawat dengan baik dan butuh renovasi, padahal letaknya sejajar dengan Amatoa Resort, hanya berjarak sekitar 100 meter saja, otomatis viewnya sama kan ya? Hihihihi..Harga per malam di sini 350 ribu tidak termasuk makan pagi.

view dari depan kamar, bisa langsung nyebuuurr
view dari depan kamar, bisa langsung nyebuuurr

Setelah meletakkan barang-barang dan istirahat seperlunya, kami memutuskan untuk berenang di laut depan kamar. Airnya yang jernih dan ombaknya yang tenang membuat kami betah berlama-lama berenang di situ. Apalagi ketika sunset, itu pemandangannya spektakuler banget. Baru kali itu saya duduk di laut dan berenang beratapkan langit dengan pemandangan seperti itu. Saya dan teman saya keasikan ngobrol sampai ga terasa hari udah gelap dan kami pun pulang ke kamar.

Sebelah kiri di atas tebing itu penginapan kamii
Sebelah kiri di atas tebing itu penginapan kamii
kebayang kan berenang di laut beratapkan langit begini
kebayang kan berenang di laut beratapkan langit begini

Malamnya, kami mencoba makan malam di restoran berbentuk perahu yang ada di Anda Beach Hotel. Makanannya sih so-so ya rasanya, tapi makan ditemenin dengan bunyi debur ombak itu berasa enak banget aja kayaknya..hihihihi..Mungkin kalo agak sore, pemandangannya bagus banget karena lautnya masih terlihat.

Hari kedua di Bira, kami berencana untuk snorkeling dan menyewa kapal ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang. Karena katanya perjalanan ke Pulau Kambing lebih jauh, maka Bapak yang punya kapal mematok harga 400ribu untuk 2 pulau tsb. Kami yang udah semangat banget mau snorkeling pun langsung setuju dan melajulah kami berdua dengan speedboat sewaan. Udah berasa kayak liburan bareng Tau Ming Tse dah karena berasa punya speedboat pribadi. Uhuuuyyy.

Sayangnya, kami salah strategi. Kami sarapan pake mie instan yang diseduh dengan bumbu maghtegh banget, jadi kami mual di kapal karena pas banget juga ombaknya lagi gede. Pas snorkeling apalagi, mau turun kapal aja susaaahhh karena terombang ambing ombak.

Oiya, mau cerita sedikit tentang kejadian malam sebelumnya. Jadi jam 12 lewat tengah malam, saya dan teman saya kebangun karena berasa rumah panggung kami bergoyang-goyang kenceeeng banget! Ya Allah, itu ternyata angin yang goyangin. Berasa kayak lantainya mau terbang. Mana itu penginapan sepi banget, trus kamar kita berbentuk rumah panggung di atas tebing yang langsung ngadep laut. Paniklah yaaa..Ngintip ke jendela, kambing-kambing yang tadi sorenya ada di sekitar penginapan leye-leye sambil makan rumput, berduyun-duyun pergi ninggalin kami sambil “mbeekk..mbeeekk” Hiyaaahhh..bahkan kambing aja ninggaliiinn..pantesan dulu mantan juga ninggalin nikah #eh #akurapopo 😀

Kami udah ga bisa tidur lagi dong, nelponin temen di Jakarta, tapi sinyal susah. Akhirnya sms ke temen yang orang asli Bulukumba, nanya kalo begini ini gimanaaa..Katanya Insha Allah gpp karena belum pernah (dan jangan sampe) ada kejadian yang gimana-gimana. Yaudah, kami pun lanjut tidur sambil tetep berjaga-jaga kalo ada apa-apa, barang-barang penting sudah masuk ransel dan siap diangkat kalo kami harus mengungsi.

Nah, ternyata angin malam itu juga berakibat ke ombak di Pulau Kambing. Bapak pemilik kapal bilang kalo ga biasanya angin sekenceng itu. Kami pun ga kuat karena mual dan ombaknya ga asik, snorkeling cuma 10 menit dan langsung tancap gas ke Pulau Liukang.

Pemandangan di Pulau Liukang beda jauh dengan di Pulau Kambing. Para wisatawan, baik lokal dan mancanegara, terlihat damai dan sejahtera dalam melakukan aktifitas snorkeling tanpa terganggu ombak. Beda banget sama saya dan teman saya tadi yang harus berjuang mulai dari turun kapal. Lagi-lagi #akurapopo :”)

Kami pun langsung meloncat turun dan berenang kesana kemari dengan lincahnya, bak ikan pesut, dan snorkeling sampai capek. Pemandangan bawah lautnya baguuuuss, sayangnya kami belum ada yang punya underwater camera, jadi ga bisa foto-foto deh. Mudah-mudahan ntar sebelum ke Raja Ampat udah kebeli ya tuh kamera dan casingnya. Amin?

airnya beniiinnngg yaaa
airnya beniiinnngg yaaa
akhirnya bisa foto :D
akhirnya bisa foto 😀

Setelah capek, kami pun naik ke kapal dan minta diantar pulang ke penginapan. Hahahha ini gaya banget deh, jadi tadi pas nawar harga kapal, kami sepakat harga segitu untuk sewa sampe sore. Kata Bapaknya gini “yah sampe jam 2 deh, krn kalo sore ombaknya udah tinggi ntar pulangnya” dan kami mengiyakan sambil bilang “yah cuma bisa sampe jam 2 ya..yaudah deh gpp” Dan tebak kami snorkeling sampe jam berapaaaa? Sampe jam 11 aja sodara-sodara..hihihihi.. Eits, tapi kalo ga ada kejadian nerjang ombak di Pulau Kambing, mungkin kuat kali sampe jam 2 *halaaahh :p

Sampai penginapan, mandi, dan kami pun ketiduran sampe jam 3. Hahahha capeknya macam sudah berenang menyebrangi Selat Sundaaa..kami memutuskan untuk makan siang di Amatoa Resort sambil sekedar menikmati view disana.

view dari tempat duduk makan siang di Amatoa Resort
view dari tempat duduk makan siang di Amatoa Resort
liat airnyaaaaa
liat airnyaaaaa
Amatoa Resort
Amatoa Resort

Setelah selesai makan, kami menyewa motor seharga 70ribu (seharian) untuk keliling-keliling Pantai Bira dan Pantai Bara, sekalian pindah hotel. Takuuutt kejadian tadi malam terulang lagi, kami pindah ke hotel yang agak masuk dan tidak langsung menghadang laut, Patma Bira namanya. Hotelnya bersih dan nyaman, tapi sayangnya susah sinyal HP 🙁  Harga kamar di sini 550ribu termasuk makan pagi.

perjalanan ke Pantai Bara
perjalanan ke Pantai Bara
kamar di Patma Bira
kamar di Patma Bira

Keesokan harinya, kami sudah siap pagi-pagi sekali untuk naik angkutan menuju Bulukumba dan melanjutkan perjalanan ke Makassar lanjut ke Jakarta.

Buat yang ingin santai dan menikmati liburan tenang, Bira adalah salah satu alternatifnya J

Visi Koper Kuning

Yuhuuu,

Berasa udah lamaaa banget ga nulis blog..padahal masih banyak lho yang mau diceritain.  Perjalanan ke UEA, ke Tanjung Bira, dan terakhir bulan lalu saya berkesempatan ke Bali Timur yang ternyata, beuuuhhh, cakep banget!

Maaf ya karena kerjaan lagi sibuk banget, jadi cerita-cerita di atas masih dalam pengerjaan alias tertunda deh.  Insha Allah minggu depan sudah bisa posting cerita baru lagi yaaa..

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang koperkuning ke depannya mau seperti apa nih, karena sudah ada lumayan banyak yang nanya. Kan kalo cerita tentang visa, sudah sering yaaa..jadi sekarang mau cerita tentang visi aja *halaaaahh.

Duluuu, ketika bikin blog ini, saya pingin sharing dan secara ga langsung pingin mengajak semua orang, khususnya anak-anak muda (SMA atau kuliah, kalo bisa SMP malah) untuk mulai nabung, jalan-jalan, dan ngeliat dunia.  Kenapa anak-anak muda itu? karena umur-umur segitu lagi pembentukan karakter, dan menurut saya, jalan-jalan bisa bikin karakter kita lebih terbentuk.  Dan percaya ga, kebanyakan orang yang sering jalan-jalan, pikirannya lebih positif dan lebih semangat dalam menjalani hidup (haiiish).  Nah, dengan anak-anak muda seperti itu, Insha Allah akan berdampak positif juga terhadap negara ini toh.  Daripada generasi mudanya galau meluluuukk..hehehhe..

Saya suka banget sama tulisannya Pak Rhenald Kasali yang ini. Dan saya setuju banget. Yaaa, mungkin ga perlu langsung ke luar negeri sih kalo belum memungkinkan.  Tapi percaya deh, jalan ke luar negeri itu bukan berarti kita ga cinta sama negeri sendiri (malah bikin tambah cinta), bukan buat gaya-gayaan juga, tapi krn bakal lebih banyak pengalaman yang didapet dan wawasan kita bakal lebih terbuka luas, apalagi kalo jalan sendirian. hihihi..perlu dicoba tuh setidaknya sekali seumur hidup 🙂

Ke depannya, saya pingin ngadain trip untuk anak-anak sekolah dengan grup kecil aja..mungkin cuma berlima atau berdelapan paling banyak. Tentunya dengan perjalanan yang lebih mengutamakan “pengalaman”.  Mumpung mau liburan sekolah dan kuliah, kalo ada yang berminat mau jalan-jalan dengan temen se-gank atau sendirian, boleh lho hubungi saya buat tanya-tanya 😉

Pack your bag, and let’s see the world!